Rumah Terendam Banjir Selama Seminggu, Sejumlah Warga Bantar Gebang Mengungsi

Sulistyo Adhi | Senin, 20 Nopember 2017 | 02:17 WIB

Share Tweet



Republika/Farah Noersativa

RAKYATBEKASI.COM, BANTAR GEBANG - Kerumunan lalat mengerubungi teras sebuah bangunan gudang di Jalan Pangkalan Lima, Kelurahan Cikeuting Udik, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, tempat pengungsian warga kelurahan yang selama tujuh hari lamanya rumah mereka terendam banjir.

Sejumlah warga RT 004 / RW 001 Kelurahan Cikeuting Udik, pada Minggu (19/11) siang itu sedang membersihkan sampah makanan yang berserakan di teras itu. Mereka menyapu lalu mengumpulkan sampah itu dalam beberapa karung. Mereka dibantu oleh sekitar tiga anggota Satgas Penanggulangan Banjir BPBD Kota Bekasi.

Salah satu warga RT 004/ RW 001 Suprapti (59), yang saat itu ikut menyapu sampah di teras gudang yang terkenal dengan sebutan Gudang Kemendikbud itu, kemudian menggelar karpet di teras, dibantu dengan ibu-ibu warga lainnya.

Kondisi rumahnya ketika ia tinggalkan, terendam banjir hingga satu meter. Padahal sebelumnya, rumahnya tak pernah kebanjiran. "Awalnya pada hari Minggu lalu, itu hanya di depan rumah setinggi 30 centimeter," ungkapnya.

Ibu asal Bantul, Yogyakarta itu mengaku tak membawa pakaian apa-apa saat meninggalkan rumahnya. Dua hari sebelumnya, tanpa pikir panjang ia langsung berangkat menuju pengungsian mengingat saat itu sedang hujan dan air semakin meninggi. "Ya namanya juga musibah, jadi ya langsung pergi saja tanpa bawa apa-apa," ungkapnya.

Ketika banjir sudah masuk ke dalam rumahnya, itu berarti banjir sudah mencapai lebih dari satu meter. Kondisi air, kata dia, telah bercampur dengan segala macam limbah sampah. Ia mendeskripsikan bentuk dan warna air banjir yang telah masuk ke rumahnya, yakni berwarna hitam, cairannya pekat, dan baunya sangat busuk. Sehingga menurutnya, sudah tak baik bila ia terus bertahan di rumahnya.

Selain itu, air bersih juga sudah tak tersedia lagi di rumahnya. Menurutnya, tak ada air lagi untuk sekadar mandi dan mencuci pakaian. "Mendingan di sini (pengungsian) saja dari pada sakit," ujarnya.

Suprapti mengatakan, kompleks perumahannya sebenarnya memang sering terjadi banjir. Banjir yang merrendam pun hanya setinggi 30 centi meter. Ia pun mengakui, banjir kali ini lah yang paling parah. Sebab, air tak kunjung surut selama satu pekan, dan kondisi air yang sangat buruk.

Ia juga mengatakan, tak akan kembali ke rumahnya sebelum air benar-benar surut. Sampai saat ini, hal yang menjadi alasannya belum kembali adalah kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan. "Tiap pagi cerah, kita di sini, ketika sore turun hujan. Pasti tak surut," katanya.

Senada dengan Suprapti, seorang Ibu beranak tiga yang bernama Sutari juga mengaku saat ini masih belum mau untuk kembali ke rumah. Menurutnya, saat surut nanti pun ia juga masih enggan ke rumah. "Masih berpotensi hujan, saya memilih di sini untuk amannya," katanya.

Sutari yang berasal dari Majalengka, Jawa Barat itu mengatakan, banjir di rumahnya membuat saluran buang air ikut membludak. Sehingga tak heran, kondisi air banjir memang sudah separah itu.

Sama dengan Suprapti, Sutari juga diminta oleh anak-anaknya yang sudah tak lagi tinggal serumah dengannya untuk mengungsi. Ia kemudian mengungsi tiga hari yang lalu bersama dengan suaminya. Pakaian yang ia bawa pun seadanya yang menempel pada tubuhnya.

Menurut mereka dan warga RT 004/ RW 001 yang lain, saat ini mereka pasrah dengan keadaan rumahnya yang direndam banjir selama tujuh hari itu. Mereka berharap, selain air cepat surut, permasalahan soal penggalian saluran air, yang menjadi penyebab banjir itu juga cepat terselesaikan. Sehingga warga bisa dengan aman dan nyaman, menghuni rumah mereka masing-masing. (*)


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :
Sumber : Republika

Komentar