Polres Metro Bekasi Kota Tangkap Penyebar HOAX GPKB Forendi

Sulistyo Adhi | Senin, 28 Mei 2018 | 15:21 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM, KOTA BEKASI - Polres Metro Bekasi Kota akhirnya menangkap pelaku penyebar selebaran Hoax yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda Kristen Bekasi For Rahmat Effendi (GPKB FORENDI), di Kecamatan Rawalumbu, Sabtu (26/05/2018) malam.

Penangkapan tersebut terjadi setelah Tim Satgas Unit Reskrim Polres Metro Bekasi Kota melakukan penyelidikan, setelah pelaku menyebarkan selebaran informasi palsu, yang terjadi pada Jumat (25/05/2018) di tujuh WAG (WhatsApp Group).

“Setelah kami mendapatkan adanya kabar HOAX yang bisa memecah belah keadaan umat di Kota Bekasi, tim Reskrim melakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah saksi, guna pengembangan penyelidikan,” ungkap Wakapolres Metro Bekasi Kota, AKBP Wijonarko, di Polres Metro Bekasi, Senin (28/05/2018).

Wijonarko menjelaskan bahwa pelaku berinisial S (42) berhasil diamankan oleh tim Reskrim Polres Metro Bekasi Kota di wilayah Kecamatan Rawalumbu.

[Waspada Isu SARA, Kombes Pol Indarto Pastikan Selebaran "Perang Salib" GPKB FORENDI itu HOAX]

Dari hasil penangkapan tersebut, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga menjadi alat untuk menyebarkan berita HOAX beberapa waktu lalu.

[Kombes Pol Indarto Gawangi Pernyataan Bersama Pimpinan Gereja Kristen Kota Bekasi Melawan HOAX]

“Barang-barang itu berupa 1 unit Handphone merk Samsung J7 Prime berwarna putih,” jelasnya.

Menurutnya, penyebaran berita Hoax itu bukan hanya dilakukan sendiri oleh pelaku. Namun masih ada beberapa orang lainnya yang sampai saat ini sedang dalam pengejaran tim Reskrim Polres Metro Bekasi Kota.

[Ruddy Gandakusumah Apresiasi Respon Cepat Kapolres Melawan HOAX di Kota Bekasi]

“Pelaku ada dua orang. Satunya lagi masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Hingga saat ini kasus masih dalam pengembangan Polres Metro Bekasi Kota,” tandasnya.

Akibat perbuatannya, S dijerat pasal berlapis, yakni Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dengan ancaman hukuman penjara 6 tahun.

“Pelaku S telah dengan sengaja atau tidak sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita informasi yang ditunjukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat, suku dan agama, sebagaimana pasal 28 Ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU Nomor 11 Tahun 2009 tentang ITE,” terang Wijonarko.

“Selain itu pelaku juga dikenakan pasal 16 Jo pasal 4 huruf B angka 1 UU nomor 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis dan pasal 156A KUHP dengan ancaman 6 tahun penjara,” pungkasnya.


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar