Kabareskrim: Membuktikan Aktor Intelektual Pembunuh Munir Tidak Mudah

Sulistyo Adhi | Rabu, 05 September 2018 | 06:53 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM, JAKARTA - Kepala Bareskrim Polri Irjen (Pol) Arief Sulistyanto angkat bicara mengenai kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib, yang hingga saat ini masih menuai kontroversi.

Sebagai mantan penyidik kasus Munir, Arief terutama menyoroti suara pegiat HAM yang menyatakan, aktor intelektual pembunuh Munir hingga saat ini belum juga terungkap.

Menurut Arief, mengungkap dalang di balik pembunuhan Munir merupakan hal yang sulit.

"Menyidik untuk membuktikan aktor itu tak mudah. Sehingga kami harus mencari alat bukti yang betul. Fakta hukum yang harus bicara," ujar Arief kepada awak media saat dijumpai di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Selasa (04/09).

Sejauh penyelidikan dan penyidikan yang ditangani, kata dia, aparat hukum sudah menjebloskan sejumlah orang ke penjara. Berdasarkan proses hukum, mereka terbukti terlibat di dalam pembunuhan Munir di atas pesawat.

Beberapa orang yang dimaksud Arief yakni; Pollycarpus Budihari Prijanto (pilot Garuda), Indra Setiawan (mantan Direktur Utama Garuda), Rochainil Aini (Secretary Chief of Pilots Garuda Airways) dan Muchdi PR (eks Deputi V Badan Intelijen Negara).

"Kasus Munir kan sudah beberapa berkas selesai dan para tersangka yang kami periksa sudah berproses di pengadilan, bahkan sudah selesai menjalani hukumannya. Bahkan, ini menjadi bukti bahwa kami serius melakukan penanganan itu, dahulu," ujar Arief.

Ketika ditanya, apakah Arief dan rekan-rekan penyidik menemukan dugaan bahwa ada aktor intelektual di balik pembunuhan Munir, dirinya tidak mau menjawab dengan lugas. "Saya enggak mau menduga-duga," ujar Arief.

Bebasnya terpidana pembunuh aktivis HAM Munir Said Thalib, Pollycarpus Budihari Prijanto, beberapa waktu lalu, dari masa hukuman, bukan berarti selesainya pula kasus pembunuhan Munir.

Para aktivis HAM menuntut pemerintah mendorong proses hukum bagi aktor intelektual peristiwa pembunuhan yang terjadi 7 September 2004 tersebut. Sebab, para aktivis HAM yakin masih ada aktor utama di balik pembunuhan itu yang belum terungkap.

Demikian diungkapkan aktivis Kontras Putri Kanesia yang mewakili sejumlah civil society lain dalam konferensi pers yang dilaksanakan di Sekretariat Kontras, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (29/08) silam.

"Dengan bebas murninya Pollycarpus, tentu masih menyisakan sebuah kekecewaan, mengingat negara hanya mampu mengadili pelaku lapangan yang terlibat dalam kasus pembunuhan Munir," ujar Putri.

Putri menilai, ketidakseriusan pemerintah dalam mendorong penuntasan kasus pembunuhan Munir menunjukkan bahwa negara tidak mampu memberikan keadilan bagi rakyatnya.

"Ketidakjelasan pengungkapan kasus pembunuhan terhadap Munir ini menunjukkan bahwa negara melalui mekanisme hukumnya belum mampu memberikan rasa keadilan terhadap istri dan keluarga almarhum Munir," tutup Putri. (*)


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar