Kursi Kosong pada PPDB SMP Zonasi Radius Kota Bekasi Dibanderol Rp 8 Juta

Sulistyo Adhi | Selasa, 09 Juli 2019 | 20:17 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM, KOTA BEKASI - Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi Inayatullah mengatakan bahwa pada pendaftaran tahap kedua, Disdik Kota Bekasi mengubah metode penerimaan calon siswa.

Disdik Kota Bekasi pun akan menerapkan sistem penerimaan lewat jalur zonasi radius murni. Dengan demikian, calon peserta didik yang sempat tersingkir di sekolah pilihan pertama, bisa mencoba lagi di sekolah tujuannya.

"Bagi murid yang tidak lolos di sekolah pilihan pertama kan, dialihkan ke sekolah pilihan kedua. Nanti saat pendaftaran tahap kedua, mereka bisa saja kembali mengikuti pilihan sekolah pertama tanpa menggugurkan namanya di sekolah pilihan kedua," kata Inayatullah pada Kamis (04/07/2019) lalu.

Tercatat sebanyak 648 kursi kosong menjadi rebutan bagi para calon murid yang berbondong-bondong mendaftar online mandiri ataupun datang langsung ke sekolah yang dituju melalui Zonasi Radius tahap ke dua (2) mulai tanggal 08 Juli 2019 pukul 08:00 WIB hingga 09 Juli 2019 pukul 15:00 WIB.

Hasil seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP Zonasi Radius tahap kedua di Kota Bekasi periode 2019/2020 sungguh unik sekaligus membingungkan.

Berdasarkan pantauan kami pada pelaksanaan PPDB SMP Zonasi Radius tahap kedua, terdapat sejumlah kejanggalan pada hasil seleksi Zonasi Radius tahap kedua.

"Sebagai contoh seperti yang terjadi di SMPN 14 dan SMPN 1, masa iya dua calon murid yang nampak seperti anak kembar dan tinggal serumah mendapat skor jarak yang berbeda," ungkap Ketua DPC GmnI Bekasi, Halasson Sijabat kepada RAKYATBEKASI.COM, Selasa (09/07/2019).

Lebih lanjut Halasson mencurigai adanya dugaan praktik jual beli kursi pada pelaksanaan PPDB SMP Zonasi Radius tahap pertama dan kedua. Hal tersebut nampak jelas dengan sejumlah calon siswa yang peringkatnya tergusur pada hari kedua oleh calon murid lulusan dari Sekolah Dasar yang berlokasi di luar wilayah kecamatan SMPN tersebut.

"Dari sejumlah aduan orangtua murid, kami mencatat kursi SMPN bisa dihargai hingga Rp8 juta," tutup Halasson. (tian)


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar