Uchox Sky Khadafi: Penyertaan Modal Bikin "Manja" Direksi PDAM Tirta Patriot

Sulistyo Adhi | Jumat, 01 Nopember 2019 | 18:34 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM, KOTA BEKASI - Direktur CBA (Center Budget for Analysis), Uchok Sky Khadafi menyebutkan bahwa penyertaan modal yang berasal dari APBD Kota Bekasi kepada PDAM Tirta Patriot membuat jajaran direksi malas untuk mengembangkan usaha berjenis air tersebut.

Selain itu, Uchok juga menilai besarnya penyertaan modal setiap tahun dari APBD merupakan pemborosan yang tidak relevan untuk dikeluarkan.

“Pengeluaran dengan pendapatan yang tidak seimbang. Seharusnya dengan adanya penyertaan modal bukan membuat direksi menjadi manja, tetapi berupaya agar mampu mandiri dan menghasilkan manfaat bagi peningkatan PAD Kota Bekasi,” kata Uchok kepada RAKYATBEKASI.COM, Jum'at (01/11/2019).

Alumni PMII ini menguraikan bahwa pendapatan perusahaan plat merah milik Kota Bekasi ini, sejak tahun 2017 yakni sebesar Rp 66,1 milyar dan tahun 2018 hanya sebesar Rp 72,3 milyar terbilang kecil. Karena jika diakumulasi, kata Uchox, kenaikan yang didapat hanya sebesar Rp 6,2 milyar. Sementara beban pengeluaran pegawai setiap tahunnya mencapai Rp 26 milyar.

“Beban usaha sangat besar sekali. Ini benar-benar suatu pemborosan. Coba dilihat, beban usaha untuk pegawai PDAM Tirta Patriot setiap tahun harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp 26 milyar, sehingga harus mendapat penyertaan modal sebesar Rp 20 milyar. Ini benar-benar membuat manja direksi,” beber Uchok.

“Penyertaan ini membuat pimpinan PDAM senang dan bisa pesta pora dengan uang sebanyak itu tanpa memikirkan bagaimana PDAM agar bisa berkembang dan mendapat penerimaan yang lebih besar,” tukasnya.

Lebih lanjut Uchok mengungkapkan bahwa penyertaan modal sejak 2011 hingga 2018, yang mencapai Rp186 milyar, merupakan suatu bentuk nyata dari pemborosan yang tidak berujung.

“Ini semua belum termasuk penyertaan dari pusat. Angka penyertaan yang sebesar ini seharusnya bisa membuat PDAM mandiri. Jika terus dibiarkan, PDAM Tirta Patriot bisa terindikasi menjadi sarang kolusi, korupsi dan nepotisme,” tandasnya. (tian)


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar