Diduga Langgar dan Palsukan Dokumen AMDAL, Warga Protes Pembangunan Apartemen Urban Sky Bekasi

Sulistyo Adhi | Kamis, 19 Desember 2019 | 18:54 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM, BEKASI SELATAN - Juru Bicara Forum Warga Terdampak Langsung, Randi Bagasyudha mengatakan bahwa pihaknya yakni; warga RW 06 dan 09 kelurahan Jakamulya, Kecamatan Bekasi Selatan - Kota Bekasi, memprotes pembangunan Apartemen Urban Sky lantaran dinilai merugikan lingkungan hingga mengakibatkan banjir.

Tak hanya itu, Randi menuding pihak Urban Sky juga menyalahi rekomendasi AMDAL dengan jam pengerjaan fisik bangunan yang kerap melewati batas waktu yang telah disepakati sebelumnya.

"Kita sudah punya kesepakatan dengan pihak Urban Sky mengenai jam kerja, dibolehkan sampai jam 10 malam. Tetapi, mereka sering bekerja sampai pagi (pukul 03.00 WIB) dini hari. Kita sempat protes dan meminta mereka berhenti agar warga tidak terganggu, tapi malah menantang," ungkap Randi kepada RAKYATBEKASI, Kamis (19/12/2019).

Puncak ketegangan antara warga terdampak dengan pihak Urban Sky, kata Randi, terjadi pada 29 November 2019. Emosi warga semakin tak terbendung karena bisingnya suara akibat pekerjaan yang tetap berlangsung hingga dini hari.

"Bahkan kita mengajak pihak Polsek Bekasi Selatan ke lokasi proyek, tetapi mereka gak mau berhenti bekerja," terangnya.

"Pada tanggal 10 Desember 2019, kita dan pihak Urban Sky akhirnya rapat konfirmasi atas aduan warga di Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi. Tuntutan kita ada 10 poin dan mereka (pihak Urban Sky) menyatakan siap memenuhinya. Kenyataannya, mereka belum memenuhi tuntutan kami hingga saat ini," ujarnya kesal.

Berikut 10 tuntutan warga terdampak yang telah disepakati pihak Urban Sky;

  1. Usut tuntas pemalsuan dokumen izin lingkungan warga.
  2. Waktu kerja dimulai 06.00-18.00, tetapi di lapangan kontraktor tidak mengindahkan kesepakatan tersebut.
  3. Bongkar crane yang melintasi atap rumah warga dan Masjid Darussalam.
  4. Buka kembali saluran air warga yang ditutup pihak Apartemen Urban Sky.
  5. Pembuangan air (Dewatering) dilarang melewati saluran air warga.
  6. Atasi dan bersihkan debu-debu putih dari pembangunan apartemen.
  7. Segera atasi banjir dan kemacetan akibat genangan air di depan pembangunan apartemen.
  8. Dilarang menggunakan air tanah yang mengancam ketersediaan air warga.
  9. Para pekerja Urban Sky dilarang melintasi wilayah RW 006 dan 009.
  10. Patuhi berbagai perjanjian yang sudah menjadi kesepakatan antara warga dengan Urban Sky.

"Dari semua tuntutan, mereka cuma baru bisa mengurangi jam kerja, walau terkadang sampai jam 7 malam. Tetapi untuk poin yang lain belum dilaksanakan," kecamnya.

Warga menduga, proses pembangunan Apartemen Urban Sky melanggar rekomendasi Amdal yang sudah dimiliki.

"Kita mendesak pemerintah untuk meninjau ulang Rekomendasi Amdal yang dinilai cacat hukum dan diduga mengandung unsur pidana pemalsuan. Salah satu yang kita curigai dalam Amdal adalah risalah rapat pada 13 September 2018 lalu, poin-poinnya banyak yang diubah tidak sesuai aslinya. Kemudian kehadiran warga saat sosialisasi diklaim sebagai persetujuan. Kita minta ini diusut tuntas," tegasnya.

Terpisah, Project Managing Urban Sky, Edwin mengklaim pihaknya sudah melaksanakan semua tuntutan warga sebagaimana hasil pertemuan di Dinas Lingkungan Hidup beberapa waktu lalu.

"Kita sudah kerja dibawah jam 10, sekarang mulai jam 6 pagi sampai jam 6 sore," kata Edwin saat dihubungi.

Pelaksanaan proyek pembangunan Apartemen Urban Sky, menurutnya sudah sesuai dengan prosedur yang tertuang dalam dokumen Amdal. Kemudian mengenai adanya dugaan pemalsuan dokumen, Edwin berkilah tidak mengetahuinya.

"Kita bekerja sudah sesuai dokumen amdal. Kalau soal pemalsuan kurang tahu saya pak," kelitnya.

Sebagai informasi, pembangunan Apartemen Urban Sky telah berjalan sejak 2018. Adapun dampak negatif yang dirasakan warga terdampak antara lain; kebanjiran yang meliputi ruas jalan hingga permukiman warga.

Selain banjir, warga juga khawatir dengan crane yang melintas di atas permukiman rumah penduduk. Warga khawatir apabila terjadi bencana, maka crane tersebut akan menghancurkan bangunan dan fasilitas milik warga hingga bisa menelan korban jiwa. (tian)


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar