Tahun-Tahun Kebenaran Mengalami Mati Suri - Fenomena Degradasi Kemanusiaan dan Ujian Keberagamaan

Sulistyo Adhi | Jumat, 28 Pebruari 2020 | 10:18 WIB

Share Tweet




Oleh: Yusuf Blegur [Pemerhati dan Pegiat Sosial]

Tahun-tahun terakhir ini, kita semua menyaksikan bagaimana beberapa pemerintahan di dunia melakukan tindakan dehumanisasi kepada umat Islam yang tinggal di negaranya. Setidaknya Myanmar, China dan terakhir India diberitakan telah melakukan tindakan yang mengobarkan semangat kebencian, permusuhan dan peperangan terhadap muslim yang notabene menjadi warga minoritas di negaranya.

Dengan demikian, faktanya Myanmar gagal menghidupkan semangat kemerdekaan dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang didengungkan oleh Aung San Su Kyi yang mendunia. Juga China yang gagal memanifestasikan nilai "Yin dan Yang", betapa ambisi kekuasaan dan kejahatan menutupi kebenaran.

Begitu pula India, "Tat Twam Asi" yang kental dalam Hinduisme, tidak berwujud dalam perilaku. Gandhi bersedih lagi karena slogannya "My Nationalism is Humanity" harus terkubur dengan jasad pembunuhannya.

Sepertinya tak cukup kedzoliman Israel terhadap rakyat Palestina yang historis dan melegenda itu sekaligus merusak peradaban manusia di era modern. Kini dunia Islam dan Internasional digemparkan lagi. Tak kurang, pelecehan, tindakan kekerasan, pemerkosaan dan pembunuhan terhadap umat Islam dilakukan secara terbuka dan dipertontonkan tanpa pencegahan dan perlindungan dari aparat keamanan dan otoritas kekuasaan setempat.

Bahkan lebih ironis, negara dan aparat militernya ikut mendukung tindakan brutal dan mengerikan terhadap kemanusiaan itu dan dilakukan tanpa pandang bulu bukan hanya pada orang dewasa, bahkan pada orang tua, perempuan dan anak-anak. Tirani mayoritas itu seakan sedang menyelenggarakan panggung internasional dengan pentas pembantaian, kebiadaban dan mengarah kepada genosida. Meski warga dunia sedikit yang menyaksikan dan merasakan langsung kejadiannya, namun sebaran dokumentasi dalam rekaman gambar, video dan siaran langsung peristiwa itu nyata hingga menimbulkan reaksi dunia khususnya umat islam.

Menguji Kemanusiaan dan Nilai-Nilai Universal

Indonesia sebagai negara terbesar mayoritas muslim di dunia. Sesungguhnya, berpotensi menjadi percontohan bagi dunia, bagaimana membangun toleransi, mengedepankan kesetaraan dan mengelola keberagaman bukan hanya pada tataran agama, lebih dari itu pada kesukuan, golongan dan tradisi.

Terutama di saat dunia internasional terus berupaya menciptakan dan menjaga perdamaian dan keharmonisan antar bangsa. Kasus-kasus dimana terjadi konflik antar suku dan agama, pertentangan antara mayoritas dan minoritas yang mengemuka khususnya yang dialami oleh umat Islam di beberapa belahan dunia.

Pada kenyataannya konflik yang terjadi tidak dapat dicegah untuk lebih luas lagi, masif dan sistematik. Meskipun dari pelbagai himbauan moral, kecaman hingga kutukan dari dunia internasional, belum juga mampu menghentikannya. Bahkan gelombang protes dan unjuk rasa internasional sekalipun, masyarakat dunia sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa sebagai penonton.

Umat Islam yang berada di negara di luar konflik hanya bisa merasakan keprihatinan, empati dan berdo'a buat saudara seimannya yang teraniaya. Tak terkecuali umat Islam yang ada di Indonesia. Butuh effort yang lebih kuat lagi bagi bangsa Indonesia untuk ikut mendorong terciptanya perdamaian dunia seperti yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

Contoh kongkrit yang sudah dilakukan, mengirim dan bergabung dalam pasukan perdamaian internasional di bawah naungan PBB. Selain itu mengirim bantuan berupa makanan dan berbagai sarana dan prasarana kemanusiaan lainnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak konflik dan peperangan.

Termasuk yang paling signifikan dan fenomenal adalah pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Palestina. Dikatakan signifikan dan fenomenal, karena pembangunan rumah sakit tersebut tidak diinisiasi dan digerakkan oleh institusi negara atau pemerintah, melainkan oleh organisasi sosial keIslaman, relawan dan donasi umat Islam di Indonesia.

Sesungguhnya lebih dari itu, umat Islam di Indonesia bisa melakukan sesuatu yang lebih fundamental dan universal untuk berkontribusi membangun dan memelihara perdamaian dan keharmonisan internasional. Bukan hanya sekedar menunjukkan solidaritas terhadap penderitaan akibat konflik yang dialami umat islam di negara lain.

Umat Islam di Indonesia dapat terus mempertahankan dan meningkatkan kesadaran kemajemukan keIndonesiaan kita. Mampu mengimplementasikan makna mayoritas kedalam semua sendi kehidupan baik ekonomi, sosial-budaya, politik dan keagamaan secara komprehensif dan terintegrasi. Bahwa mayoritas benar-benar dapat menjaga, melindungi dan mengayomi kehidupan masyarakat yang minoritas, bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Keberagaman dan pluralitas itu berjalan tanpa domainasi dan hegemoni dari siapa yang lebih banyak dan siapa yang lebih kuat.

Sentimen keagamaan hendaknya tidak boleh lebih besar dan melebihi kadarnya dari kehidupan manusia yang universal dan hakiki. Selain kebebasan beragama dan menganut kepercayaan dan keyakinannya masing-masing. Dalam pergaulan dan interaksi sosial kemasyarakatan, toleransi juga bisa diartikan harus tetap ada saling tolong menolong, gotong royong dan menebarkan cinta dan kasih sayang dalam banyak hal dan dalam banyak perbedaan. Secara sederhana bisa dimaknai semua adalah satu persaudaraan dalam kemanusiaan.

Boleh jadi, universalitas itu dalam jangka pendek tidak akan menghentikan konflik keagamaan yang mendunia. Tapi setidaknya bangsa Indonesia yang sarat dengan Panca Silais itu, bisa menjadi kekuatan Islam yang menyejukkan dan menginspirasi dunia. Suatu keyakinan, bahwasanya tidak ada yang lebih hidup dari kemanusiaan itu sendiri, dan tidak ada kematian selain membunuh kebenaran yang hakiki.


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar