Ternyata Bandung Bukanlah Paris Van Java

Sulistyo Adhi | Minggu, 10 April 2016 | 18:45 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM - Sebutan Bandung sebagai Parijs van Java memang sangat terkenal. Namun tak banyak orang mengetahui asal muasal cerita di balik julukan tersebut. Ketidaktahuan tersebut tersirat dalam penamaan “Paris van Java” pada salah satu pusat perbelanjaan di kota kembang tersebut.

Pemerhati sejarah Kota Bandung, Ridwan Hutagalung meradang dengan penyematan “Paris van Java” yang menurutnya tidak tepat. Menurutnya, kalau mau mengikuti kaidah bahasa Belanda dan sejarah yang benar, kata Paris seharusnya dituliskan sebagai Parijs bukan Paris.

“Kalau tetap mau menggunakan kata Paris, ya bagusnya jadi Paris of Java atau apalah yang sesuai kaidahnya,” katanya seperti dikutip oleh Historia.

Pernyataan Ridwan memang benar adanya. Julukan Parijs van Java untuk Bandung itu memang dipopulerkan pertama kali oleh orang-orang Belanda. Sejarawan Haryoto Kunto mengisahkan kemungkinan munculnya julukan itu dari seorang pedagang berdarah Yahudi Belanda bernama Roth.

“Untuk mempromosikan dagangannya di pasar malam tahunan Jaarbeurs (sekarang Jalan Aceh) pada 1920, Roth mempopulerkan kalimat Parijs van Java,” tulis Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe.

Bagi Roth, pemilik toko meubel dan interior itu, sebutan Bandung "Parijs van Java" sangat penting untuk promosi dagangnya. Sejak lama Paris jadi kiblat mode dunia, sehingga embel-embel nama Paris diharapkan mencuri minat orang untuk datang ke pasar malam tahunan di Bandung. Slogan itu semakin populer setelah Bosscha (pengelola perkebunan terkemuka di Hindia Belanda) sering mengutipnya dalam berbagai kesempatan pidato di depan masyarakat Bandung…” tulis Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha dalam Braga Jantung Parijs van Java.

Kiblat Mode

Selain faktor tersebut, Ridwan pun berpendapat jika Bandung sebagai Paris-nya Pulau Jawa muncul karena adanya perkembangan pesat mode Paris yang berbarengan dengan antusiasme kalangan berpunya di Bandung pada seni. Sebut saja di antaranya adalah seni arsitektur, yang menerapkan art deco sebagai acuan pembangunan gedung di hampir se-antero Kota Bandung. “Contoh yang paling terkemuka adalah Gedung Hotel Preanger dan Savoy Homan,” ujar Ridwan.

Di dunia fesyen, selera Bandung lagi-lagi “sangat Paris” saat itu. Di Bandung pada era 1900-an, ada sebuah toko bernama Aug. Hegelsteens Kledingmagazijn (terletak di kawasan Jalan Braga), tempat orang-orang Bandung yang ingin tampil “lebih terkini”. Toko itu semakin terkenal saat berganti nama menjadi berbau Prancis: Au Bon Marche Modemagazijn yang didirikan oleh pebisnis A. Makkinga pada tahun 1913.

“Pada masa kejayaannya, busana dengan tren mode terbaru dari pusat mode di Paris akan segera dipajang di toko ini,” ungkap lelaki kelahiran Pematang Siantar pada 1967 tersebut.

Toko Au Bon Marchel dikenal bergengsi saat itu, tercermin dari setiap iklan mereka di majalah-majalah. Di sana mereka menawarkan aneka mode berbahan sutera lembut dengan pilihan desain motif bunga dan sandang bergaya elegan. Di tulis di dalam iklan tersebut: wij brengen steeds de laatse mode (kami selalu menyajikan mode terbaru).

“Si calon pembeli kemudian diyakinkan dengan tambahan kalimat: "zie geregeld onze etalages” (lihatlah etalase kami yang tersusun rapi),” tulis Ridwan.

Bagaimana soal harga di Toko Au Bon MarcheI Modemagazijnronisnya? Jangan tanya, tentu saja selangit. Hal ini wajar mengingat pakaian yang dipajang di etalase toko tersebut adalah mode kelas satu sehingga kalangan biasa sulit untuk memilikinya. Kenyataan ini sungguh ironis jika mengetahui nama bon marche sendiri dapat diartikan secara bebas menjadi “belanja murah meriah”. (*)


    Komentar