Sepenggal Kisah "Pemuda Indonesia" Kala Merajut Persatuan

Sulistyo Adhi | Jumat, 28 Oktober 2016 | 07:05 WIB

Share Tweet




*oleh Neo Bano

 

Melihat fenomena hari - hari ini, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada HOS Tjokroaminoto yang sempat mengajarkan kepada Bung Karno, Bung Hatta, M Yamin, Soepomo serta pihak yang berkontribusi dan berperan dalam perjuangan kemerdekaan, baik secara pemikiran, tenaga dan materi.

Mereka menciptakan Indonesia menjadi negara yang beragam, negara yang berdiri atas satu kesamaan tekad untuk hidup bersama, berdampingan dan gotong royong. Negara yang didalamnya terdapatnya bermacam - macam suku, bermacam agama, bermacam ras, bermacam golongan.

Saat ini, kita bisa hidup bersatu dengan rukun diatas segala perbedaan yang ada di bumi tercinta ini bukan tanpa alasan, bukan tanpa sebab dan yang pasti bukan tanpa "karena".

Jauh sebelum kemerdekaan, semangat persatuan dan kesatuan untuk mendirikan negara, untuk mendapatkan kedaulatan atas bumi Indonesia sempat ditegaskan dan ditunjukan dalam pendirian Boedi Oetomo dan momentum Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Seluruh pemuda se-Nusantara kala itu mampu bersatu tanpa memperdulikan apa ras-nya, apa golongan-nya, terlebih apa agama yang dianut-nya.

Buah - buah pemikiran yang cemerlang, tanpa memikirkan siapa dari golongan mana, siapa dari kelompok mana dan mengutamakan kepentingan bersama menjadi bara api yang terus membakar semangat dalam gerakan bersama mencapai kemerdekaan.

Sebagai seorang yang hadir di kemudian hari, yang hadir pasca berhasilnya revolusi, yang baru mulai belajar setelah reformasi, dan jauh hadir setelah para founding fathers kita mengantarkan kita ke pintu gerbang kemerdekaan, mari kita jalankan pancasila.

Membaca tulisan salah satu rekan saya yang menyatakan bahwa lawan kita bersama bukanlah Suku, Ras, Agama atau Golongan tapi lawan kita bersama adalah kekuasaan yang menindas.

Saya sepakat dengan hal itu, musuh kita bersama adalah pembodohan terstruktur yang melenceng dari nilai dasar perjuangan. Musuh kita bersama adalah mereka yang menggerogoti kedaulatan hukum dan politik bangsa kita, menggerogoti kedaulatan ekonomi kita dan menggerogoti kepribadian kita dalam bidang budaya.

Mari bersatu, mari kita tunjukan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang satu. Bahwa kita adalah bangsa yang kuat dan bangsa yang besar. Bukankah jika lidi yang satu disatukan dengan lidi yang banyak akan lebih kuat ?.

Terimakasih semua pihak yang tetap menjaga dan menjunjung tinggi Pancasila, Terimakasih semua pihak yang tetap menjaga toleransi, semua pihak yang dapat hidup berdampingan dengan keanekaragaman.

Terimakasih untuk semua pihak yang sepakat bahwa kita hadir untuk tetap menjaga persatuan sebagaimana yang dilakukan pendiri bangsa kita. Terimakasih buat semua pihak yang tetap menjaga gotong royong, yang tetap hidup bersatu dengan rukun hingga kini. Semoga perbedaan tidak menjadi jurang pemisah.

#JayalahPersatuan

#penulis adalah seorang aktivis GmnI Bekasi yang berkarier di salah satu harian lokal di Kota Bekasi

 


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar