Berawal dari Pulau Pramuka, Gubernur DKI Jakarta Berakhir di Lapas Cipinang

Sulistyo Adhi | Selasa, 09 Mei 2017 | 13:16 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM, JAKARTA - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), memvonis Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok dengan hukuman dua tahun penjara dalam perkara penodaan agama. Pasalnya, Ahok telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan penodaan agama.

Dalam putusannya yang dibacakan bergantian di PN Jakut yang gelar di Auditorium Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (09/05), diantaranya berlandaskan pada Pasal 156a KUHP tentang Penodaan Agama.

Pasal 156a KUHP berbunyi: Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan, a. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, b. Dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Vonis itu sendiri lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut Ahok hukuman satu tahun kurungan penjara, dengan masa percobaan selama dua tahun.

Jaksa Penuntut Umum menjerat Ahok dengan Pasal 156 KUHP terkait kebencian terhadap golongan tertentu. Ahok tidak dikenakan Pasal 156a KUHP tentang Penodaan Agama seperti dalam dakwaan sebelumnya.

Kasus hukum yang menyeret Ahok ke meja hijau, bermula dari pidatonya terkait Surat Al-Maidah Ayat 51 di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016 silam. (Ardi)


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar