Nyaris Adu Jotos, Satpol PP Kota Bekasi Usir Wartawan di Dinas PUPR

Sulistyo Adhi | Selasa, 30 Mei 2017 | 10:48 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM, KOTA BEKASI - Seorang petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bekasi nyaris adu jotos dengan seorang jurnalis koran harian Reaksi Bekasi, Roberto, di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Bekasi, Senin (29/05) kemarin.

Kejadian tersebut diawali ulah petugas Satpol PP yang bernama Yosef tersebut saat menghalang-halangi Roberto ketika hendak bertemu dengan Kepala Dinas PUPR Kota Bekasi Tri Adhianto untuk meminta konfirmasi terkait pekerjaan proyek di Taman Narogong Indah yang dikeluhkan warga sekitar.

Roberto mengaku kecewa dengan sikap petugas Satpol PP tersebut yang menurutnya sangat arogan dan tidak mencerminkan sebagai aparatur pelayan masyarakat.

“Saya didorong dan tangan saya ditarik oleh petugas satpol pp saat sedang menjalankan tugas jurnalistik. Kalau memang beliau (Tri) sedang rapat, seharusnya bisa diinformasikan secara baik-baik kepada saya,” ujar Roberto.

Sebelum bersitegang, kata Roberto, dia sempat dihardik dengan nada tinggi oleh Yosef.

“Sini lo turun ke bawah, gue gak takut sama lo,” terang Roberto menirukan teriakan Yosef di depan sejumlah rekan jurnalis lain.

Situasi kemudian bertambah panas dan tegang ketika dua (2) petugas Satpol PP lainnya menghampiri sambil berteriak selayaknya sedang berada di hutan belantara.

“Hei, turun, turun kamu,” teriak anggota Satpol PP bersahutan sambil tarik-menarik sejumlah lengan wartawan.

Sementara itu terpisah, Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo sangat menyayangkan sikap arogan oknum Satpol PP Kota Bekasi terhadap wartawan yang acapkali terjadi.

Setiap anggota Satpol PP, kata Didit, tentunya telah dibekali dengan pelatihan dan pembinaan tentang standar prosedur operasional dalam melaksanakan tugasnya.

Jika memang benar bahwasanya oknum petugas Satpol PP tersebut menghalang-halangi tugas seorang jurnalis, terangnya, maka oknum tersebut telah melanggar Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers yang diancam dengan 2 tahun hukuman penjara dan juga denda sebesar Rp 500 juta.

“Seorang jurnalis yang menjalankan tugas jurnalistik itu dilindungi oleh undang-undang loh! Jadi ketika ada seseorang yang dengan sengaja menghalang-halangi tugas peliputan maka ada sanksi hukumnya,” tegas Didit.

Didit berharap agar jurnalis tersebut segera melaporkan kepada pihak berwajib ketika mengalami tindak kekerasan.

“Laporkan saja kepada pihak berwajib ketika ada wartawan yang mengalami tindak kekerasan. Apalagi jika wartawan tersebut mendapat tindak kekerasan, maka akan dikenakan hukum pidana. Jadi hukumannya bisa berlapis,” pungkasnya. (tian)


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar