Penjualan Jamu Ilegal Secara Online Rugikan Pengusaha Kecil

Sulistyo Adhi | Kamis, 22 Juni 2017 | 10:16 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM, KOTA BEKASI - Ketua Umum GP Jamu Indonesia, Dwi Ranny Pertiwi Zarman mengungkapkan bahwa dampak negatif dari penjualan jamu ilegal secara online dapat berimbas dengan gulung tikarnya pengusaha jamu tradisional.

Hal tersebut dikemukakannya seiring dengan maraknya penjualan jamu ilegal melalui media lapak-lapak website (e-commerce) penyedia jasa penjualan barang online yang membuka kesempatan penjualan jamu ilegal yang tidak memenuhi syarat dan standarisasi pemerintah.

“Penjualan jamu ilegal secara online sangat berpengaruh terhadap pengusaha jamu tradisional dan obat-obatan. Penurunannya cukup besar, karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari harga jamu dan obat-obatan yang asli,” ungkap Dwi Ranny kepada awak media, Kamis (22/06).

Keberadaan e-commerce diakui Dwi Ranny, sejatinya dapat mempermudah pemasaran dalam menjual jamu dan obat-obatan. Hanya saja para pelaku atau penyedia jasa online menurutnya harus terikat oleh standarisasi pemerintah agar tidak merugikan pengusaha-pengusaha tradisional yang memasarkan produknya secara langsung.

“Pemerintah harus membuat regulasi yang mengatur tentang batasan-batasan atau standarisasi penjualan jamu dan obat-obatan melalui jasa online. Ini untuk mencegah terjadinya peredaran produk ilegal yang berimbas terhadap pengusaha,” ujarnya.

Dwi Ranny berharap dalam penetapan standarisasi kualifikasi jamu dan obat-obatan melalui jasa online dapat disesuaikan dengan harga pasar atau selisih harga tidak terlalu jauh yang disertai pemeriksaan perizinan produk dengan tersertifikasi oleh BPOM.

Sejauh ini pemilik jasa online menurut Dwi Ranny, bebas memberikan keleluasaan kepada penjual dalam memasarkan produknya melalui toko lapak yang tersedia, namun sayangnya tidak ada garansi mutu dan keaslian produk.

“Jika regulasi sudah ditentukan, maka pemerintah bisa menindak tegas dan memberikan sanksi terhadap penjual dan pemilik jasa online. Ini demi menyelamatkan pengusaha-pengusaha tradisional di Indonesia,” pungkasnya. (*)


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar