Waspada Konten Provokasi dan SARA jelang Pilkada Bekasi 2018

Sulistyo Adhi | Jumat, 25 Agustus 2017 | 13:27 WIB

Share Tweet




RAKYATBEKASI.COM, KOTA BEKASI - Terbongkarnya jaringan penyebar fitnah dengan isu SARA, "Saracen" yang memiliki ribuan akun membuktikan bahwa upaya adu domba itu sangat masif dan terstruktur.

Akun–akun tersebut menyebarkan konten provokasi yang menyerang pihak-pihak tertentu dengan tujuan membuat kegaduhan serta memantik ketidaknyamanan.

Berkaca dari hal tersebut, belakangan ini beberapa pengguna medsos (media sosial) di Kota Bekasi juga sering ikut andil dengan cara berbagi konten sejenis melalui sejumlah piranti lunak berbasis medsos seperti facebook, instagram, twitter hingga grup Whatsapp (WA).

“Petahana menjadi sangat rentan dengan menjadi sasaran ujaran kebencian (hate speech) dengan tujuan menjajaki yang bersangkutan atau para pendukungnya terpancing hingga ikut saling membalas melalui medsos. Kalau sampai berhasil, pasti akan menimbulkan kegaduhan dengan tujuan pencitraan petahana menjadi buruk sehingga popularitas dan elektabilitasnya akan terjun bebas,” jelas Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo.

Menurutnya dengan terbongkarnya jaringan akun provokasi semacam "Saracen", setidaknya para pengguna medsos menjadi cerdas dalam menggunakan informasi secara bijak dan beretika sosial.

“Kan selama ini sudah banyak yang mencoba berselancar dengan memantik beberapa isu SARA dan masuk ranah privasi dengan tujuan politik. Cuma skala dan skemanya masih parsial sehingga belum mampu membentuk opini yang signifikan. KPU sebagai regulator, seharusnya melakukan sosialisasi dini terkait penggunaan medsos untuk pengenalan bakal calon atau para tim kandidat agar tidak menjadi bom waktu,” terang Didit.

Dalam menghadapi Pilkada serentak 2018, kata Didit, penggunaan medsos sudah menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan figur bakal calon. Efektifitas tersebut memang tak bisa dianggap remeh, mengingat medsos memiliki struktur jaringan yang sangat luas sehingga menjadi sarana interaksi yang mudah dan tepat sasaran.

“Hampir semua balon sudah bersosialisasi melalui medsos, termasuk petahana Rahmat Effendi yang memiliki puluhan akun yang gencar mensosialisasikan Kartu Bekasi Sehat berbasis NIK. Hasilnya pun sangat dahsyat, sehingga non petahana tertinggal jauh popularitasnya,” tegasnya.

Faktanya di lapangan menjelang Pilkada Bekasi 2018, sudah ada beberapa akun yang sudah memanas manasi dengan berbagai upaya termasuk mengusung isu SARA dan masyarakat urban. Didit pun mengingatkan agar semua informasi di dunia maya haruslah diseleksi dahulu kebenarannya dan menggunakan secara bijak.

“Berhati-hatilah bagi yang suka menebar fitnah dan kebencian (hate speech) di media sosial karena akan berbuntut pidana,” terangnya.

Sebagai informasi, bagi yang suka memfitnah dapat dijerat pasal 45A ayat 2 jo pasal 28 ayat 22 UU No 19 tahun 2016 UU ITE dengan hukuman penjara selama 6 tahun. (*)


Ikuti Perkembangan Berita ini dalam Topik :

Komentar