rakyat bekasi Ngerti'in Bekasi

Ini Bulan Agustus ....

Minggu, 16 Agustus 2015 | 12:26 WIB

Ini bulan Agustus ....

Di bulan Agustus 1945 ada revolusi - meskipun tak ada pemberontakan di Jakarta hari itu, tak ada gelombang aksi massa rakyat yang mendobrak penjara, tak ada sepasukan tentara yang menjebol kekuasaan. Juga tak ada barikade, tak ada jam malam yang disertai titah bahwa revolusi dipadamkan.

Bulan Agustus adalah bulan ketika pada tanggal 17 di tahun 1945, ribuan manusia mampu menyebut diri dengan suara penuh, "kami, bangsa Indonesia" - apalagi sebuah "kami" yang bisa "menyatakan kemerdekaan".

Jadi di bulan Agustus 1945 itu. Di Indonesia: revolusi itu jadi sebuah kata sakti yang kemudian membayangi terus politik Indonesia. Dalam ilmu politik, yang pernah  saya dalami di kelas Dr. Ballwigh di VPI and State University itu, ia mengatakan (kalau saya tak salah ingat): "Revolusi adalah tuah. Ia sesuatu yang dapat berulang, dilanjutkan melintasi 'waktu' ".

Kata "waktu" di atas itulah, yang agaknya kita alami tapi tak  disadari, bahwa hasil penting Revolusi Agustus 1945 adalah penegasan  tentang peran apa yang disebut ilmuwan politik  Claude Lefory "tempat kosong" dalam revolusi itu - sebuah pembuka bagi kehidupan berbangsa yang lebih baik. Mungkin sebab itu, Bung Karno di tahun 1970 pernah mengatakan, dengan nada risau, bahwa Revolusi Agustus "belum selesai".

Dalam khazanah itulah, mereka yang saya kutip di atas itu bisa jadi terbukti benar. Lihatlah di hari ini (setelah 70 tahun Revolusi Agustus) di jalanan kita. Pelayanan publik begitu buruk. Trotoar penuh PKL dan berbau pesing.  Bis-bis kota dengan ban gundul, sopir ugal-ugalan, kaca jendela yang bolong-bolong, penumpang dijejal seperti sampah.

Juga fenomen orang-orang miskin yang tak terurus dan saat ini jumlahnya sudah mencapai angka 100 juta! Juga persoalan yang menimpa pekerja pabrik. Untuk tambahan gaji Rp 10.000 mereka harus berdemonstrasi berbulan-bulan. Kita juga pilu dengan jutaan "balada Kartini" para TKW yang rentan pemerasan dan beresiko kematian di tiang gantungan di negeri orang.

Belum lagi nestapa dunia pendidikan. Guru dan dosen yang terabaikan. Mustahil mencerdaskan bangsa tanpa pemuliaan harkat dan martabat guru dan dosen! Mustahil membangun negeri jika perguruan tinggi (PT) tak bermutu! Saat ini terdapat sekitar 3500 PT di Indonesia, tapi tak lebih dari 50 yang dapat dikategorikan bermutu!

Juga kehidupan kepartaian di Indonesia yang para elitnya (maaf) tak pernah berkeinginan membangun partai modern yang kuat dan berwibawa dihadapan rakyat.

Kita saat ini juga sedang menghadapi berbagai badai peristiwa. Tetapi di saat yang sama kita juga sedang menghadapi kelambanan-kelambanan struktural yang mengisyaratkan ketidakmampuan mengurus negara.

Apa boleh buat saya harus katakan (dan sebuah pengakuan itu penting) ): Revolusi Agustus memang "belum selesai". Hayo, cancut taliwondo lah Pak  Presiden Jokowi,  sebelum ..... "Revolusi memakan anak kandung sendiri".

(Lukmono Hadi, Jogja, Minggu 16 Agustus 2015)


Kategori : Opini,
Topik : Politik,
Editor : Sulistyo Adhi

twitter

© 2015 Rakyatbekasi.com. All Rights Reserved. | Info Iklan - Redaksi - Tentang rakyatbekasi.com