rakyat bekasi Ngerti'in Bekasi

Ribuan Ton Sampah Hiasi Sertifikat Adipura Kota Bekasi

Sabtu, 30 Juli 2016 | 15:17 WIB

SERTIFIKAT Adipura yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya kepada Kota Bekasi, kadarnya beda dengan kota-kota lain di Indonesia. Di Kota Bekasi ada sekitar 6.500 ton sampah setiap hari dari Ibukota DKI Jakarta dan sekitar 1.500 ton sampah lokal. Jumlah tonase sampah 8.000 – 10.000 ton merupakan ‘terminal’ sampah terbesar se-Indonesia.

Hal lain yang juga luar biasa, adalah kerja keras warga Bekasi untuk merubah citra negatif cap Kota Terkotor, kota sampah menjadi kota yang beradab dan layak huni. Apalagi Kota Bekasi pernah meraih Piala Adipura tahun 2010 dengan cara yang tidak “bermartabat“ dan akhirnya Piala Adipura ‘dibatalkan’ dan ditarik kembali.

Merubah peradaban dan mendapatkan hasil positif harus diapresiasi semua warga kota secara fair dan berkeadilan. Sebagai warga kora harus memberikan suport positif atas kerja keras ribuan pejuang lingkungan yaitu pesapon, pengangkut sampah, pemulung dan pekerja lingkungan.

Mereka dengan iklas berpeluh keringat berbaur dengan bau sampah, bersentuhan dengan bibit penyakit dan hasil buangan sampah rumah tangga sisa makan kita. Dengan penghasilan yang minim para pejuang lingkungan bergelut dengan kotoran sampah perkotaan dan limbah untuk membersihkan sampah dari sekitar kita.

Dalam penilaian tim Adipura tahun ini kriterianya sangat komplek meliputi tata kelola lingkungan, pengolahan sampah dan laian-lain. Untuk kota peraih Sertifikat Adipura yang merupakan penghargaan kepada kota/ibukota kabupaten yang mengalami kenaikan nilai Adipura signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Membangun Sikap Optimisme

Selama lima tahun belakangan ini banyak program yang dicanangkan Kota Bekasi seperti memperbanyak ruang terbuka hijau (RTH) dengan progam 1000 taman, program kali bersih, grebek K3, pengelolaan terbarukan dalam pengolahan TPA Sumur Batu dan lain-lain.

Sertifikat yang diraih setidaknya membangun semangat optimisme dan kerja keras para pemangku kepentingan dan warga Kota Bekasi untuk meraih Piala Adipura tahun 2017 mendatang.

Penghargaan itu, diharapkan juga bisa memotivasi masyarakat secara luas untuk lebih pro-aktif lagi menjaga lingkungannya dan makin peduli dengan sampah. Kota Bekasi hanya terpaut 6 poin dengan nilai 64,84 poin dengan standar batas nilai poin untuk mengantongi Piala Adipura sebanyak 70 poin untuk katagori kota metropolitan sedang.

Meski saat ini Kota Bekasi hanya mampu mengangkut sampah sekitar 60 persen dari produksi sampah yang dihasilkan masyarakat. Namun berbagai upaya daur ulang sampah dan pemanfaatan sampah di tingkat hulu terus digalkan seperti komposing dan bak sampah. Kota Bekasi memiliki 164 truk sampah untuk mengangkut volume sampah sekitar 1.500 – 1.700 ton per hari.

Walikota Bekasi, Rahmat Effendi menerima secara langsung sertifikat Adipura dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar, dilapangan depan Istana Siak di Jalan Sultan Syarif Kasim, Kabupaten Siak Riau.

Kota Bekasi berupaya keras memanfaatkan teknologi nol sampah yang diimplementasikan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, bisa mendukung suksesnya penanganan sampah dari hulu ke hilir, sehingga Piala Adipura wajib diraih pada 2017 mendatang.

Selama lima tahun terakhir Pemkot Bekasi telah berupaya keras mengembalikan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan tersebut ke Kota Bekasi dengan cara yang terhormat dan bermartabat. Akan tetapi kegagalan Kota Bekasi setiap tahunnya masih selalu sama, yakni perihal penanganan sampah dari hulu ke hilir.

Pengelolaan sampah di hilir sudah dilakukan dengan menggandeng pihak ketiga yang sanggup mengolah tumpukan sampah di TPA Sumurbatu menjadi energi listrik. Cara tersebut, bisa menghemat pengeluaran untuk pengelolaan TPA yang setahunnya mencapai Rp5 miliar.

Untuk bagian hulu yang kuncinya membangun kepedulian dan kesadaran masyarakat untuk memperlakukan sampah sebagai sahabat dan mengurainya secara benar. Warga dihimbau tidak membuang sampah sebarangan dan membuat TPS liar, memberdayakan pemulung, memberdayakan daur ulang sampah, bank sampah dan mengolah sampah menjadi kompos. Semua itu dilakukan untuk mengurangi produksi sampah yang akan dibuang ke TPA Sumur Batu.

Berdasarkan data Kementerian LHK, penganugerahan Adipura 2016 menjadi penghargaan tertinggi bagi kota-kota di Indonesia dalam bidang kebersihan dan lingkungan hidup. Kota dan ibukota kabupaten peraih Adipura dinilai sebagai kota yang bersih, hijau, sehat, dan menerapkan pembangunan berkelanjutan.

Tahun 2016 ini, penghargaan Adipura diserahkan langsung oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pada Jumat 22 Juli 2016 di Siak, Riau. Adipura tahun 2016 ini pun menggunakan kategori yang berbeda. Perbedaan berupa kategori yang digunakan dalam Adipura 2016.

Pada tahun-tahun sebelumnya Adipura dikelompokkan dalam empat kategori kota yakni Kota Metropolitan, Kota Besar, Kota sedang, dan Kota Kecil. Namun pada tahun 2016 ini penghargaan Adipura diberikan dalam tiga kategori yakni Adipura Buana, Adipura Kirana, dan Adipura Paripurna.

Katagori pertama yaitu Adipura Buana, diberikan kepada pemerintah daerah yang menggabungkan unsur sosial dengan lingkungan untuk membentuk kota yang layak huni yang tercermin dari masyarakat kota yang peduli lingkungan.

Kategori kedua adalah Adipura Kirana. Adipura Kirana adalah penghargaan Adipura yang diberikan kepada kota/ibukota kabupaten yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui Trade, Tourism, and Investment berbasis pengelolaan lingkungan hidup (attractive city).

Kategori berikutnya adalah Adipura Paripurna. Adipura Paripurna adalah penghargaan tertinggi terhadap kota/ibukota kabupaten yang telah mampu memberikan kinerja terbaik untuk kedua kategori Adipura di atas, yaitu Adipura Buana dan Adipura Kirana.

Setidaknya Sertifikat Adipura yang sudah diraih Kota Bekasi menjadi modal dasar dan pintu masuk untuk meraih Piala Adipura pada tahun 2017 mendatang. Kebersinambungan program lingkungan dan kerja keras semua pihak akan menjadi kunci utama untuk membuka pintu peraihan Adipura.

Bukan malah membangun persimisme dan menghakimi pemangku jabatan dengan caci maki tanpa berbuat positif yang nyata. Kebersihan lingkungan hakikatnya juga harus dimulai dengan kebersihan hati untuk memperlakukan lingkungan secara adil dan bermartabat. SEMOGA 

Oleh; Didit Susilo (Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi)


Kategori : Opini,
Topik : Bekasi,
Editor : Sulistyo Adhi

twitter

© 2015 Rakyatbekasi.com. All Rights Reserved. | Info Iklan - Redaksi - Tentang rakyatbekasi.com