rakyat bekasi Ngerti'in Bekasi

Tasbihkan Diri Sebagai ‘GUS’, GP Ansor Kota Bekasi Kecam Sholihin

Rabu, 16 Agustus 2017 | 16:37 WIB

RAKYATBEKASI.COM, KOTA BEKASI - Beribu cara dapat saja ditempuh sejumlah politisi yang bersyahwat menjadi seorang kepala daerah agar dirinya dapat dengan mudah dikenal masyarakat.

Salah satu cara paling konvensional adalah dengan memasang gambar dirinya di sejumlah media luar ruang seperti spanduk, banner ataupun baliho raksasa yang biasa berdiri megah di sejumlah titik strategis.

Dengan harapan sosoknya semakin dikenali oleh masyarakat, namun terkadang menjadi bumerang karena materi kampanye visualnya sarat dengan kontroversi.

Sebagai contoh adalah kampanye visual yang dilakukan oleh Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi, Rahmat Effendi yang memanfaatkan jabatannya sebagai Walikota Bekasi dengan memasang baliho raksasa tentang sosialisasi Kartu Bekasi Sehat (KBS).

Di dalam iklan layanan masyarakat tersebut, Rahmat Effendi nampak sendirian tanpa didampingi oleh wakilnya yakni Ahmad Syaikhu. Materi kampanye tersebut menuai kecaman dari sejumlah pihak termasuk DPRD Kota Bekasi, karena Rahmat diketahui akan kembali bertarung untuk mempertahankan jabatannya pada Pilkada Kota Bekasi 2018.

[Wakil Walikota Tak Tampak dalam Baliho "Kartu Sehat", Dewan Minta Pemkot Bekasi Jaga Etika]

Tak hanya Rahmat Effendi yang menuai kontroversi dalam kampanye visualnya, Ketua DPC PPP Kota Bekasi, Sholihin pun melakukan blunder dengan menyematkan kata ‘GUS SHOL’ di bawah namanya dalam baliho besar di Jalan Ahmad Yani.

Sekretaris GP Ansor Kota Bekasi, Hasan menjelaskan bahwa dari segi budaya, pada umumnya panggilan ‘Den Bagus’ atau ‘GUS’ banyak terdapat di pondok pesantren di daerah Jawa.

Panggilan ‘GUS’ menurutnya diberikan kepada anak laki-laki seorang kiai pengasuh pondok pesantren. Panggilan ‘GUS’ pun secara otomatis melekat, tidak perlu orang itu menasbihkan dirinya sebagai ‘GUS’ di muka umum.

“Sangat lucu, ketika tiba-tiba seseorang mengenalkan dirinya dengan nama ‘GUS’,” ujar Hasan mencibir ihwal yang dilakukan Sholihin sebagai sesuatu yang ahistoris.

“Panggilan ‘GUS’, juga melekat pada keilmuan dan kewibawaan seseorang dengan kultur kiai khos di Jawa. Jadi kalau di Kota Bekasi mendadak ada yang mendeklarasikan dirinya dengan panggilan ‘GUS’, itu kembali ke individunya orang tersebut, apakah dirinya sudah pantas dengan gelar tersebut atau tidak? jangan juga jadi pragmatis dengan nyatut gelar ‘GUS’ untuk kepentingan sesaat jelang Pilkada,” jelasnya.

Hasan mengatakan, masyarakat Kota Bekasi sudah cerdas, sehingga dirinya meyakini bahwa masyarakat bisa menilai layak tidaknya Sholihin yang notabene sebagai politisi mencatut sebutan ‘GUS’ demi memuaskan syahwat politiknya.

"Integritas beliau sebagai seorang politisi patut dipertanyakan, terlebih politisi yang berasal dari PPP," pungkasnya. (tian)


Kategori : Politik,
Topik : Bekasi, Politik,
Editor : Sulistyo Adhi

twitter

© 2015 Rakyatbekasi.com. All Rights Reserved. | Info Iklan - Redaksi - Tentang rakyatbekasi.com