Home / Opini

Jumat, 16 Juli 2021 - 14:10 WIB

Imperialisme Berbaju Covid-19, Bangkit Melawan atau Diam Tertindas

Oleh: Yusuf Blegur

Kematian demi kematian akibat penyakit yang divonis sebagai wabah Covid-19 yang tak bisa dilepaskan dari betapa lemahnya sistem kesehatan nasional dan ketidakmampuan mengelola negara secara umum. Sesungguhnya menjadi rangkaian kematian demokrasi, kematian keadilan hukum dan sosial.

Kematian politik etis dan moral yang beruntun mengikuti kematian UUD 1945 dan Panca Sila. Kematian hati nurani para pemangku kepentingan. Kematian rakyat yang seiring kelahiran sekumpulan manusia angkara murka, sekumpulan aparat bejat. Dibaiat sebagai pemimpin, namun menjabat dengan mudarat. Rakyat dalam pengelolaan kekuasaan yang khianat dan dzalim.

Kita semua prihatin dan diselimuti duka yang mendalam. Rakyat tak berdaya terpapar, tertekan cemas atau jatuh korban meninggal tak tertolong karena virus. Kini rakyat meratapi nasibnya, meninggal karena corona, meninggal karena stres dan depresi dan atau didera kelaparan yang memungkinkan berefek kematian, karena musim pandemi yang panjang tak kunjung usai.

Apa yang dialami rakyat Indonesia tahun-tahun terakhir ini, tak ubahnya seperti hidup di dalam penjajahan. Sederet penderitaan melambangkan penduduk suatu negeri yang “gemah ripah loh jinawi“, namun nestapa yang didapat. Jangankan menikmati kekayaan sumber daya alam, rakyatnya justru harus membayar upeti bahkan menerima kekerasan dan penindasan karena tak patuh pada penguasa.

Baca Juga:  Ketua DPRD Dorong Penghapusan TKK, Politisi PKS Syaifuddaulah Tak Punya Empati dan Bikin Gaduh Kota Bekasi

Ketika masa penjajahan, hanya segelintir orang yang peduli dengan pikiran dan keberaniannya menentang kolonialisme dan imperialisme. Mereka adalah para ulama, intelektual, dan tentara pejuang yang menjadi pemimpin sekaligus pengemban amanat penderitaan rakyat. Mereka yang terus memberi semangat kesadaran dan perlawanan, hingga berhasil membawa rakyatnya mencapai kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah para pahlawan yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendiri Bangsa (The Founding Fathers).

Kini di alam kemerdekaan, hanya segelintir orang yang mengatasnamakan Undang-Undang, NKRI dan Panca Sila. Berhasil menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa, untuk kemudian menyerahkan kedaulatan negara pada bangsa asing serta menyebabkan penderitaan panjang bagi rakyatnya. Merekalah segelintir orang yang disebut sebagai pengkhianat bangsa dan penjahat kemanusiaan. Mereka jugalah yang merusak Indonesia dan hidup sebagai budak kolonialisme dan imperialisme modern.

Tidak ada kata lain dan tidak bukan. Rakyat harus berjuang sendiri. Menyelamatkan nasibnya dari tangan-tangan jahil. Kali ini perjuangan rakyat sangatlah berat. Rakyat tidak hanya berhadapan dengan penjajah asing. Tidak pula dengan penjajahan oleh bangsanya sendiri. Melainkan rakyat harus berhadapan dengan penjajah asing sekaligus bangsanya sendiri.

Baca Juga:  Penahanan Dokter Louis, Handuk Putih Buat Sang Boneka?

Saatnya, bolehlah rakyat memakai petuah para pendiri bangsa. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah. Seperti api revolusi yang mengobarkan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Seperti slogan epik yang heroik, bangkit melawan atau diam tertindas.

*Penulis adalah Pegiat Sosial dan Aktifis Yayasan Human Luhur Berdikari.

Share :

Baca Juga

Opini

“The Psychology of Money” dan Masa Depan Ekonomi Perilaku

Opini

Pendidikan Untuk Semua Kalangan di Tengah Kesenjangan

Opini

Kalap Habiskan Uang Rakyat di Akhir Tahun

Opini

Akselerasi Tri Adhianto di Tengah Pusaran Politik Kota Bekasi

Opini

Menyoal Urgensi Pelayanan Administrasi Kependudukan Transgender

Opini

Wartawan Bebas Memilih Organisasi Pers

Opini

Balada Cebong, Kampret dan Kadal Gurun di Bumi Nusantara

Opini

Balada Keluarga Majemuk Dalam Belenggu Pandemi