Home / Opini

Monday, 2 August 2021 - 15:03 WIB

“The Psychology of Money” dan Masa Depan Ekonomi Perilaku

Di satu pesta yang diadakan seorang miliarder di Shelter Island, Kurt Vonnegut memberi tahu kawannya, Joseph Heller, bahwa tuan rumah mereka, seorang manajer dana lindung nilai, mendapat lebih banyak uang daripada semua yang didapat Heller dari novel sangat populernya Catch-22. Heller menjawab, “Ya, tapi saya punya sesuatu yang dia tak akan punya… rasa cukup.”

Penggalan cerita tersebut merupakan salah satu yang berkesan cukup dalam bagi saya dari sekitar sembilan belas cerita yang ditulis oleh Morgan Housel dalam buku The Psychology of Money. “Rasa cukup” istilah yang sangat bertenaga untuk menggambarkan betapa seringkali kita keliru memandang uang. Karena selama ini uang dimaknai sebagai alat transaksi yang dengannya semua menjadi mudah untuk kita dapatkan. Kemudian upaya mendapatkannya selalu menjadi prioritas utama kehidupan semua orang. Setelah kehidupan berjalan seperti yang kita tahu, apakah kita cukup memahami tentang uang? Sayangnya tidak.

“Kita semua berpikir kita tahu cara kerja dunia. Namun kita semua hanya mengalami sebagian kecilnya.”, Kata Housel. Dia menjelaskan dengan sangat teliti bahwa sebagian besar orang menilai uang seringkali melalui cara pandang matematis. Tanpa pernah tahu apa perasaan pialang saham yang mengalami kerugian yang besar lalu pulang dengan pikiran kosong karena harus menjelaskan banyak hal kepada keluarganya. Atau para pekerja lepas harian yang tidak mampu mendapatkan uang atau malah sudah mendapatkan uang tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Secara umum keputusan manusia untuk mendapatkan uang karena ada keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan keputusan untuk menggunakannya seringkali bukan seperti motivasi pada awal keputusan itu dibuat. Keputusan menggunakan uang tidak berdasarkan spreadsheet rencana pengeluaran namun seringkali lahir dari ruang rapat, makan malam bersama teman, ngopi-ngopi atau kegiatan sosialisasi lain. Jadi ada hubungan yang amat kuat antara uang dengan suasana jiwa manusia, dan sangat terlihat dari cara kita memutuskan untuk menggunakannya.

Tak heran jika dari sekian tokoh penerima nobel dalam bidang ekonomi, terselip dua orang berlatar belakang psikologi; di tahun 2002 Daniel Kahneman (penulis buku best seller Thinking, Fast & Slow) dan di tahun 2017 Richard Thaler (penulis buku Mis-behave). Keduanya banyak meneliti tentang perilaku manusia dalam kegiatan ekonomi (Economic Behavior). Dan dewasa ini ditengah ketidakpastian global, kita tidak lagi memperdebatkan apa mazhab ekonomi yang mampu menyelesaikan krisis berkepanjangan yang sedang dihadapi dunia tanpa tahu ujungnya. Namun yang pasti, dimasa depan yang akan bertahan untuk tetap relevan adalah manusia beserta seluruh perilakunya. Bukan lagi mazhab ekonomi sosialisme, kapitalisme, neo-liberalisme atau apapun. Kita anggap semua itu sudah tamat dengan segala catatan sejarah baik dan buruknya.

Psikologi didalam ekonomi sangat membantu sebagian besar orang keluar dari jebakan kerakusan. Perasaan cukup atas apa yang didapat dan dimiliki sejatinya menyelamatkan kehidupan bersama. Tak ada sistem ekonomi yang mampu mengatasi keserakahan. Dan ketamakan sebagian kecil orang di dunia ini terbukti telah menjadi bencana bagi sebagian besar manusia dan bahkan ekologi kehidupan secara umum. Karenanya rasa cukup adalah kosakata radikal ditengah modernitas yang mengedepankan perlombaan gengsi dengan gaya hidup konsumerisme yang nyata-nyata membawa kita pada lorong gelap panjang krisis multidimensi.

Baca Juga  Menyoal Urgensi Pelayanan Administrasi Kependudukan Transgender

Ekonomi Perilaku akan semakin relevan tampil dimasa depan karena memiliki potensi digunakan bersama oleh para pelaku ekonomi. Dunia sedang menunggu jawaban atas pertanyaan kronik tentang jalan keluar dari ketimpangan dan ketidaksetaraan ekonomi negara-negara. Cuma masalahnya, para punggawa Ekonomi Perilaku harus mampu memperluas spektrum teori yang tidak hanya berkutat pada penelitian seputar marketing dan keputusan konsumen. Perlu diperluas lebih dalam hingga dinamika ekonomi strukturalis yang termasuk didalamya meneliti tentang korelasi antara ekonomi dengan politik, sosial, budaya dan seluruh sektor penting dunia.

Ekonomi adalah manusia itu sendiri. Setiap keputusan manusia untuk dirinya sendiri memiliki efek ekonomi bagi orang lain. Dalam konteks yang lebih besar, negara juga harus berpikir demikian. Keputusan membelanjakan sesuatu hanya untuk kepentingan yang tidak penting apalagi tidak mendesak harus nihil didalam “otak” negara. Ilmu ekonomi dibutuhkan untuk mengatur kehidupan bersama dalam skala yang besar, namun akar filsafatnya sebenarnya sama. Dalam skala apapun, baik individu maupun negara, hutang tidak boleh lebih besar dari pendapatan. Itulah mengapa untuk hidup sejahtera dan memiliki kesan “cukup kaya” yang diperlukan adalah cukup masuk akal bukan rasional.

Memiliki hutang yang besar walaupun disertai dengan pendapatan yang sama besar adalah tindakan rasional. Namun apakah hal terebut masuk akal? Tentu saja tidak. Hal tersebut yang terjadi di Amerika Serikat pada rentang waktu antara 1945 hingga 1960 ( pasca Perang Dunia II, di awal Perang Dingin ). Akibatnya dirasakan bangsa Amerika 20-30 tahun kemudian. Istilah mudahnya, semua hutang harus dibayar lunas, waktu hanya bisa menundanya. Dan kita hidup saat ini pada zaman ketika semua hutang tersebut sedang jatuh tempo. Apakah fenomena tersebut terjadi juga di Indonesia? kurang lebih sama.

Kerakusan tak bisa diselesaikan oleh kerakusan berikutnya. Namun sayangnya otot pengetahuan kita saat ini amat terbatas untuk keluar dari jebakan hutang. Membayar hutang dengan menciptakan hutang baru bisa jadi benar secara teori ekonomi, apalagi jika yang melakukannya adalah negara. Namun disisi lain kita sebagai manusia juga punya tanggung jawab peradaban. Perilaku kita sebagai spesies ekonomi akan memiliki efek mata rantai ekonomi dalam skala besar. Oleh karenanya perlu juga bagi kita untuk berpikir ulang tentang definisi uang.

Baca Juga  Merdeka? Ternyata Indonesia Masih Terjajah

Uang menurut Y.N. Harari hanyalah nilai yang ada dalam imajinasi kita. Bukan kenyataan material, uang merupakan produk psikologis. Kata terakhir harus kita garis bawahi dengan seksama. Karena dalam sejarahnya bentuk uang terus mengalami perubahan. Dari kulit kerang, emas, logam hingga kertas seperti sekarang atau bahkan kode digital berbasis algoritma seperti yang akan datang kemudian hanyalah produk fisik yang disepakati secara kolektif. Namun yang tetap relevan adalah posisi uang dipikiran manusia sebagai produk psikologis yang melahirkan sistem kepercayaan universal. Membuat seluruh manusia saling percaya bertukar kebutuhan yang saling berbeda. Bahkan hal itu yang tak bisa dilakukan oleh agama sekalipun. Hingga kemudian uang menjadi puncak toleransi bagi seluruh manusia apapun latar belakangnya. Sebenci-bencinya Osama Bin Laden dengan Amerika Serikat, kita tak bisa menghindar pada satu fakta bahwa dia senang memiliki Dollar Amerika dan menggunakannya untuk alasan “suci” yang dia yakini.

Uang sebagai produk psikologis sangat ditentukan oleh kejiwaan manusia. Dan secara bentuk fisik uang hanyalah produk netral yang bisa dipakai oleh siapa saja. Oleh karena itu penggunaan uang dipengaruhi oleh banyak hal dan sebagian besarnya bukan karena pertimbangan sistem keuangan yang mafhum dikembangkan pada zaman modern. Termasuk cara mendapatkan dan mempertahankannya. Untuk mendapatkannya kondisi psikologis orang harus dominan diliputi optimisme dan keberanian. Sedangkan mempertahankan kekayaan jauh lebih sulit, karena harus berlaku sebaliknya; dominan diliputi kehati-hatian dan rasa takut yang besar.

Rasa cukup memang berbeda bagi tiap-tiap jiwa. Namun ada pengertian yang benar tentang kondisi dimana orang sudah memiliki kekayaan yang sebenarnya. Yaitu ketika kita bisa melakukan apa yang kita mau, kapanpun kita mampu melakukannya dan bersama siapapun yang kita inginkan. Untuk mewujudkan semua kemudahan itu, ada dua hal yang harus kita capai terlebih dahulu; flexibility dan freedom of time.

Ketidakpastian global mengarahkan kita untuk kembali duduk merenung sejenak. Berpikir dengan tenang tentang masa depan umat manusia beserta seluruh sistem yang menjadi penyebab kerusakan sekaligus sistem yang akan membawa kita keluar dari krisis panjang ini. Pertanyaan paling mendasar hari-hari ini adalah apa yang tersisa nanti dimasa depan? Yang paling lama bertahan yang akan tetap ada. Berusaha tetap relevan adalah tugas kehidupan manusia yang hidup saat ini. Dari sekian banyak cara untuk tetap relevan ditengah kebuntuan gagasan, mengembangkan diskursus mengenai Ekonomi Perilaku yang menyatukan antara konsep psikologi manusia dan teori-teori ekonomi yang ada adalah salah satu upaya untuk lebih menguatkan posisi manusia dihadapan robot-robot ciptaan yang sepertinya akan lebih pintar dari penciptanya.(*)

Share :

Baca Juga

Opini

Kado Pahit 76 Tahun Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Opini

Balada Keluarga Majemuk Dalam Belenggu Pandemi

Opini

Menyoal Urgensi Pelayanan Administrasi Kependudukan Transgender

Opini

Megawati dalam Oase Demokrasi dan Cengkraman Feodalisme

Opini

Penahanan Dokter Louis, Handuk Putih Buat Sang Boneka?

Bekasi Raya

Dariyanto Klaim Andi Salim Izinkan Pelaksanaan Vaksinasi Massal di DPD Golkar Kota Bekasi

Opini

Mudik Pelik Di Tengah Pandemi

Opini

Merdeka? Ternyata Indonesia Masih Terjajah