Home / Ekstra

Sunday, 15 August 2021 - 08:52 WIB

Banyak yang Kena COVID-19 Setelah Vaksinasi, Ini Dia Penjelasan WHO

Jakarta – Vaksinasi tidak serta merta membuat seseorang kebal infeksi virus Corona. Fenomena breakthrough infection atau terinfeksi setelah divaksinasi masih bisa saja terjadi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), munculnya fenomena ini bukan berarti vaksin Corona tidak bekerja dengan baik. Berdasarkan laporan dari studi yang ada, banyak orang yang sudah divaksin cenderung hanya mengalami gejala ringan bahkan tidak mengalami gejala jika terinfeksi COVID-19.

Ahli penyakit infeksi WHO, Dr Katherine O’Brien, menegaskan kasus breakthrough infection ini jarang terjadi. Namun, memang jumlahnya terus bertambah yang diduga disebabkan oleh beberapa faktor.

“Ini bukan hal yang umum dan risikonya tidak merata di semua populasi. Ada kelompok tertentu, misalnya punya masalah imun atau umurnya sudah tua, yang lebih berisiko mengalami breakthrough infection,” kata Katherine seperti dikutip dari situs resmi WHO, Sabtu (14/08/2021).

Apa faktor penyebabnya?

Katherine mengungkapkan faktor yang diduga membuat kasus breakthrough infection terus bertambah adalah karena kelalaian dan munculnya varian baru dari virus Corona itu sendiri.

Baca Juga  Jersey Persija Laku Keras Usai Juara Piala Presiden

Menurutnya, kelalaian ini dipicu banyaknya orang-orang yang sudah merasa aman setelah melakukan vaksinasi. Alhasil, mereka mulai lalai menerapkan protokol kesehatan. Tapi, kemungkinan adanya varian Corona juga bisa menjadi penyebab lainnya.

“Kita melihat lebih banyak kasus breakthrough infection, sebagian karena orang-orang berhenti melakukan langkah pencegahan penyebaran virus,” papar Katherine.

“Jadi saat virusnya sendiri berkembang dengan kecepatan dan frekuensi yang lebih tinggi, orang-orang semakin banyak terekspos, termasuk di antaranya yang sudah divaksinasi,” pungkasnya.

Siapa saja yang berisiko mengalami breakthrough infection?

Menanggapi hal tersebut, ahli biokimia dr Robert Darnell dari Rockefeller University mengatakan kelompok yang mungkin mengalami fenomena breakthrough infection adalah mereka yang memiliki sistem imun yang lemah. Ini mungkin terjadi karena vaksin COVID-19 tidak bisa memicu respons antibodi yang kuat, seperti pada orang umumnya.

Baca Juga  Zulkah Klaim Kisruh P3SRS Grand Center Point Sudah Selesai Secara Internal

“Tubuh semua orang merespons vaksin dengan membuat antibodi yang bisa melawan COVID-19. Ada orang yang hanya bisa menghasilkan sedikit antibodi, tapi ada juga yang bisa menghasilkan lebih banyak antibodi. Pada akhirnya ini tergantung individu,” ungkap Robert.

Selain itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menyebut tiga per empat kasus breakthrough infection ini dialami kelompok orang usia 65 tahun ke atas. Akibatnya, mereka mengalami kondisi yang parah hingga fatal. (*)

Share :

Baca Juga

Persija luncurkan jersey dan skuat

Ekstra

Jersey Persija Laku Keras Usai Juara Piala Presiden
Pemain persija jakarta marko simic saat tendangan salto

Ekstra

Marko Simic Kelelahan Usai Arak arakan Juara Piala Presiden
Logo daihatsu

Ekstra

Belum Pakai CVT, Apa yang Ditakuti Daihatsu Indonesia?

Ekstra

Dampak PPKM Berjilid-jilid, Lima Mal Bakal Dilego

Ekstra

SK Bupati Pengangkatan Usep Dianggap Sepihak, Komisi I Rekomendasikan PTUN

Ekstra

Kerap Tak Terima BST, MIO Jakbar Harap Pemerintah Perhatikan Nasib Jurnalis

Ekstra

Angkat Usep Jadi Dirut PDAM Tirta Bhagasasi 3 Periode, Bupati Bekasi Digugat ke PTUN Bandung

Ekstra

Zulkah Klaim Kisruh P3SRS Grand Center Point Sudah Selesai Secara Internal