Home / Nasional

Sabtu, 26 Februari 2022 - 07:23 WIB

Awas! Indonesia Bisa Kena Dampak Invasi Rusia ke Ukraina

Pemerintah Indonesia harus waspada karena perang Rusia dengan Ukraina bisa memiliki dampak langsung terhadap kondisi tanah air. Pengamat militer dari intelijen Susaningtyas Kertopati meminta pemerintah menyiapkan strategi agar dampak invasi Rusia tidak merusak ekonomi bangsa.

“Sejumlah langkah strategis harus disiapkan secara matang mengantisipasi kemungkinan terburuk bagi kondisi sosial-politik di Indonesia,” kata Susaningtyas, di Jakarta, Jumat (25/02/2022).

Efek domino yang paling penting adalah harga pangan impor naik serta kenaikan barang lokal. Biaya logistik melonjak, harga BBM menanti subsidi yang lebih besar, sampai lonjakan harga minyak.

Selain antisipasi di dalam negeri, kata dia, Indonesia juga harus waspada kemungkinan negara tertentu mengambil kesempatan ketika dunia internasional sibuk menghadapi Rusia.

“Gelar operasi militer di Laut Natuna Utara harus tetap berjalan. Jangan sampai terjadi serangan mendadak yang dapat merugikan pertahanan Indonesia,” jelas Nuning, sapaan Susaningtyas Kertopati.

Baca Juga:  Catat! Pemerintah Tetapkan Libur Nasional dan Cuti Bersama Idul Fitri 1443 Hijriah

Hal penting lainnya, kata dia, pemerintah Indonesia harus segera mengevakuasi WNI yang berada di Ukraina.

Nuning menjelaskan, perang antara Rusia melawan Ukraina meletus sudah menjadi perkiraan para pakar dan pengamat. Konflik menahun sejak Rusia mencaplok wilayah Ukraina di Krimea pada tahun 2014 berujung serbuan Rusia di bagian Timur Ukraina.

“NATO dipimpin Amerika Serikat ternyata gagal melaksanakan diplomasi pertahanan untuk mencegah perang. Kepentingan NATO juga belum tentu terbukti untuk membela Ukraina sebagai salah satu anggotanya,” tuturnya.

Sejak 2014, kata Nuning, NATO tidak memberikan reaksi yang proporsional terhadap Rusia. Strategi pendangkalan NATO juga tidak efektif mencegah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer secara masif.

Menurut dia, perang yang terjadi di Balkan saat ini masuk dalam kategori perang asimetris dari perspektif ilmu Pertahanan. Rusia adalah kekuatan yang superior dan Ukraina adalah kekuatan yang inferior. NATO berusaha menancapkan kekuasaannya di Ukraina yang secara geografis berbatasan langsung dengan Rusia.

Baca Juga:  Said Aqil Mantap Maju Jadi Ketum PBNU Tiga Periode

“Perbandingan kekuatan militer dan anggaran perang jelas milik Rusia. Di atas kertas Rusia pasti ingin melaksanakan perang dalam waktu secepat-cepatnya sementara Ukraina pasti melancarkan perang berlarut,” kata Nuning.

Sejarah juga menunjukkan bahwa kekuatan superior, seperti Rusia ternyata kalah di Afghanistan. Amerika Serikat juga kalah di Vietnam dan Afghanistan.

Dengan demikian ada beberapa skenario untuk menghakhiri perang oleh dunia internasional. Pertama, kata Nuning, gencatan senjata dan turun tangannya PBB. Kedua, NATO mengerahkan kekuatan penuh mengalahkan Rusia dan memukul Rusia di wilayahnya sendiri. Ketiga, Ukraina menang perang berlarut. (*)

Share :

Baca Juga

Nasional

Ade Yasin Kena OTT KPK, PPP Hormati Proses Hukum

Nasional

Baru Puasa Hari Keempat, 20 Persen Tiket Kereta Api Ludes Terjual

Nasional

Ini Dia Alasan PPKM Level 3 Batal Diterapkan di Seluruh Indonesia Saat Nataru

Nasional

Plt Wali Kota Bekasi Hadiri Summit APEKSI 2022 Bertajuk “Healthy Cities For All” di Semarang

Nasional

Upah Joki Vaksin Rp800 Ribu Sekali Order, Pria Ini 17 Kali Disuntik

Nasional

Warga Negeri Wakal Leihitu Berlebaran Hari Ini

Nasional

Harry Azhar Azis, Anggota BPK RI dan Kader Partai Golkar Tutup Usia

Nasional

Antisipasi Puncak Arus Balik, PT JMRB Tingkatkan Pelayanan Operasional di Rest Area