Home / Opini

Rabu, 21 September 2022 - 01:17 WIB

Ingin Tetap Berjubah Irjenpol, Ferdy Sambo Pakai Nalar Apa?

Oleh Asyari Usman

Dalam sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) pada Senin (19/09/2022) kemarin, majelis hakim komisi menolak memori banding Ferdy Sambo.

Komisi menguatkan hukuman Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) dari Polri atas tindakan yang dilakukannya terkait dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yoshua (Birgadir J).

Mengapa Sambo minta banding? Seratus persen jawabannya karena dia tetap ingin menjadi Irjenpol. Enjoy besar, duit besar. Syukur-syukur bisa naik menjadi Kapolri.

Maunya Sambo, meskipun dia tersangka pembunuh anak buahnya tapi status dan pangkatnya tidak hilang.

Dalam khayalannya, dia akan kembali menjadi petinggi Polri setelah menjalani hukuman yang berkemungkinan untuk direkayasa menjadi ringan.

Satu-dua tahun, misalnya. Setelah itu, Irjen Sambo aktif kembali dan lebih kuat. Lebih ganas.

Baca Juga:  Anies dan Puan, Pasangan Ideologis dan Relevan

Entah nalar apa yang digunakan Sambo. Orang sejagad raya ini ingin agar dia segera masuk penjara seumur hidup tanpa remisi. Atau bahkan dibawa ke lapangan eksekusi mati.

Ternyata, Sambo berpikiran lain. Dia, tampaknya, yakin bisa lepas dari kasus pembunuhan ini.

Tetapi, Sambo lupa bahwa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tidak punya pilihan lain.

Dia harus memecat mantan Kadiv Propam itu, karena seperti itulah tuntutan publik.

Kapolri tak mungkin membiarkan Sambo tetap menyandang pangkat Irjen sementara dia berperan sentral dalam pembunuhan Yoshua.

Kapolri mengikuti nalar yang sehat dan normatif.

Baca Juga:  Balada Keluarga Majemuk Dalam Belenggu Pandemi

Seharusnya, Sambo tidak mengajukan banding atas keputusan pertama majelis hakim sidang KKEP yang mengganjar dia dengan PTDH.

Memang dia berhak mengajukan banding. Namun, ada akal sehat yang seharusnya menjadi konsultan Sambo sebelum meminta banding.

Karena itu, rasa heran publik terhadap pemintaan banding Sambo hanya bisa dijawab dengan dugaan bahwa polisi bintang dua ini percaya jaringan mafia yang dibangunnya di Polri sudah sangat masif dan kuat.

Dia yakin jaringan ini akan menolong.

Sambo mungkin menyangka para petinggi Polri akan merasakan tekanan berat untuk mengabulkan memori bandingnya.

Inilah nalar yang digunakan Sambo. Nalar premanisme.

20 September 2022
(Jurnalis Senior FNN)

Share :

Baca Juga

Opini

Catatan Kecil 3 Tahun Rahmat Effendi – Tri Adhianto dalam Menahkodai Kota Bekasi

Opini

Awas Jebakan Gerbong Kosong, AKD DPRD Kota Bekasi Harus Proposional

Opini

Harapan Kader Pada Muscab ke VIII PPP Kota Bekasi

Opini

Gerakan Rakyat Menentang Firly, Save Anies Baswedan

Opini

Akselerasi Tri Adhianto di Tengah Pusaran Politik Kota Bekasi

Opini

Penahanan Dokter Louis, Handuk Putih Buat Sang Boneka?

Opini

Revitalisasi Sumpah Pemuda 1928 untuk Bela Negara

Opini

Astrid Laena: Ade Puspitasari Sah Sebagai Ketua DPD Golkar Kota Bekasi 2020-2025