Home / Ekstra

Selasa, 11 Oktober 2022 - 02:45 WIB

Hasil Survei Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub 2022: Pengemudi Ojol Tidak Hanya Berasal dari Pengangguran

Ojek motor listrik berpelat kuning di Kabupaten Asmat.

Ojek motor listrik berpelat kuning di Kabupaten Asmat.

Ada anggapan yang keluar dari mulut pemerintah yang keliru selama ini, bahwa bisnis transportasi daring telah membuka lapangan pekerjaan baru.

Nyatanya, hasil survey Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan tahun 2019, menyebutkan bahwa pekerjaan sebelum menjadi pengemudi ojek daring tanpa pekerjaan (pengangguran) hanya 18 persen.

Tahun 2022, Kembali dilakukan survey Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan, hasilnya tanpa pekerjaan (pengangguran) hanya tercatat sebesar 16,09 persen.

Menindaklanjuti Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 667 Tahun 2022 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi, Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan melakukan survei untuk mengetahui persepsi masyarakat pengguna dan pengemudi ojek online terhadap penyesuaian biaya jasa (tarif) ojek online yang diberlakukan mulai hari Minggu (11 September 2022).

Hasil Survei Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan tahun 2019.

Survey dilakukan rentang waktu 13 – 20 September 2022 dengan media survei online. Sampling adalah penduduk Jabodetabek pengguna ojek online dengan metode sampling kurang 5 persen.

Baca Juga:  Bersiap Rayakan “Hari Kemenangan 9 Mei”, Rusia Intensifkan Serangan ke Ukraina

Wilayah survei Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Sebanyak 2.655 responden masyarakat pengguna ojek online dan 2.016 responden mitra ojek online.

Pengguna jasa

Masyarakat pengguna jasa ojek online didominasi oleh pria (53 persen), pekerjaan sebagai karyawan swasta (35,40 persen) dan pendapatan per bulan terbanyak di bawah Rp 3 juta.

Baca Juga:  Komisi Yudisial Telusuri Kebenaran Video Pria Diduga Hakim Wahyu Sebut Tak Butuh Pengakuan Ferdy Sambo

Dari segi pengeluaran, kebanyakan menghabiskan kisaran Rp 10 ribu – Rp 25 ribu (51,41 persen) untuk pemesanan ojek online dan kurang dari Rp 25 ribu (41,47 persen) untuk transportasi lainnya.

Kebanyakan masyarakat mengaku alasan menggunakan ojek online karena lebih praktis (37,29 persen) dan lebih cepat (32,28 persen).

Aplikasi yang paling sering digunakan adalah Gojek (59,13 persen), diikuti Grab (32,24 persen), Maxim (6,93 persen), InDriver (1,47 persen) dan lainnya (0,23 persen).

Share :

Baca Juga

Ekstra

Simpan 76 Video Syur Dea OnlyFans, Marshel Akui Dirinya Memang Nakal

Ekstra

Hasil Drawing Liga Champions: Parade Big Match di Fase Grup

Ekstra

12 Juta Ancaman Siber Targetkan Pengguna di Indonesia Sepanjang 2022

Ekstra

Gejala Varian Covid-19 Omicron Muncul di Malam Hari

Ekstra

Pemprov DKI Jakarta Cabut Izin Seluruh Outlet Holywings

Ekstra

Sering Berperilaku ‘Kalau Bisa Besok Kenapa Harus Sekarang’? Awas, Bisa Jadi Anda Mengidap Prokrastinasi

Ekstra

Husin Munir: “Kemiskinan Ekstrem” Tak Boleh Ada di Kampung Pancasila

Ekstra

Google Tawarkan Pinjaman Senilai Rp29 Miliar untuk UKM