- Dugaan penganiayaan siswa berinisial KAAZA di Alexandria Boarding School Rawalumbu, Kota Bekasi, viral usai diunggah oleh orang tua korban di media sosial.
- Wali Kota Bekasi Tri Adhianto langsung memerintahkan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi untuk melakukan penelusuran dan investigasi menyeluruh ke lokasi kejadian.
- Pemkot Bekasi menyoroti pentingnya sinergi pengawasan dari pihak sekolah dan orang tua, terutama terkait paparan konten kekerasan melalui gadget yang dinilai menjadi pemicu bullying.
DUGAAN KASUS PENGANIAYAAN FISIK yang menimpa seorang siswa berinisial KAAZA di Alexandria Boarding School, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, kini menjadi sorotan tajam publik.
Merespons kejadian yang viral di media sosial tersebut, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto langsung menginstruksikan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi untuk turun tangan melakukan investigasi.
Langkah cepat ini diambil guna mengevaluasi sistem pengawasan sekolah sekaligus mencegah terulangnya aksi perundungan di lingkungan pendidikan naungan Pemkot Bekasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Instruksi Tegas Wali Kota Bekasi Tangani Kasus di Rawalumbu
Perhatian publik tersita setelah orang tua korban mengungkap luka-luka fisik yang dialami anaknya selama berada di dalam asrama sekolah.
Pemerintah daerah dituntut untuk memastikan keselamatan para siswa yang tengah menempuh pendidikan di asrama.
”Oh, yang di Alexandria (Boarding School Rawalumbu), ya? Saya sudah minta Kepala Disdik untuk melihat ke sana. Saya kira itu nanti diselesaikan secara internal, dan itu tentu bagian dari evaluasi agar ya hal-hal tersebut bisa dihindar,” kata Wali Kota Bekasi Tri Adhianto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com saat ditemui di Gedung Plaza Pemkot Bekasi, Senin (28/09/2026).
Pemkot Bekasi menilai aksi perundungan dalam bentuk apa pun di lingkungan sekolah sangat tidak dapat dibenarkan.
Oleh karena itu, pengusutan secara tuntas dan evaluasi sistem pembinaan siswa mutlak diperlukan.
Mengapa Pengawasan Sekolah dan Orang Tua Sangat Krusial?
Lemahnya pengawasan internal sering kali menjadi celah terjadinya kekerasan antar-siswa di lingkungan asrama.
Sinergi antara tenaga pendidik dan wali murid dinilai menjadi benteng utama dalam membentuk empati anak.
”Ya, ini kan perlu adanya pengawasan, ya. Dan ini kan sebetulnya kontribusinya lebih kepada sekolah, bagaimana mereka melakukan monitoring pengawasan. Termasuk di dalamnya adalah tentu orang tua, agar memberikan satu proses keteladanan bahwa mereka memiliki sifat hidup yang berempati,” tegasnya.
Tindakan bullying sejatinya dapat dihindari apabila instansi pendidikan memiliki program sosialisasi anti-kekerasan yang masif serta pengawasan melekat yang proaktif terhadap dinamika sosial siswanya.
Dampak Konten Kekerasan Terhadap Pemicu Bullying
Eksposur terhadap konten negatif di dunia maya memiliki korelasi langsung dengan agresi fisik yang dilakukan remaja di dunia nyata. Pembiaran terhadap konsumsi konten kekerasan dapat menumpulkan empati siswa.
”Karena biasanya kekerasan itu dimulai karena mereka melihat hal-hal yang tidak ada kebaikan. Banyak juga tentu kontribusi masyarakat dalam rangka juga meng-up terkait dengan berita, gambar, video yang ada nilai kekerasan, ini juga salah satu kontribusi yang membuat mereka menjadi pemicu,” sambungnya.
Dalam era keterbukaan informasi ini, filter dari lingkungan terdekat anak sangat menentukan karakter dan psikologis mereka dalam merespons konflik.
Bagaimana Peran Gadget dalam Membentuk Perilaku Siswa?
Masuknya teknologi tanpa batas pembatasan durasi dan konten membuat siswa menganggap kekerasan sebagai hal yang normal jika dilakukan berulang kali. Peran orang tua dituntut lebih aktif untuk melakukan pendampingan literasi digital.
”Karena gadget itu yang hari ini sangat masuk ke dalam ruang-ruang kehidupan mereka, sehingga ada mereka melihat bahwa itu sering terjadi, sehingga mengakibatkan itu menjadi sesuatu yang benar. Sesuatu yang salah apabila terus dilakukan secara berulang-ulang, bahwa itu menjadi sesuatu yang baik. Jadi ini yang saya kira harusnya menjadi satu penyadaran bagi kita semua, baik itu Pemerintah, Masyarakat, dan juga warga sekolah,” pungkasnya.
Kasus di Kecamatan Rawalumbu ini menjadi peringatan keras bagi seluruh institusi pendidikan di wilayah Kota Bekasi agar tidak abai terhadap keselamatan siswanya.
Masyarakat kini menanti langkah nyata, objektivitas, dan transparansi dari Disdik Kota Bekasi dalam mengusut tuntas insiden tersebut.
Dukung terus jurnalisme yang tajam dan tepercaya! Bagikan artikel ini, tinggalkan komentar Anda terkait pengawasan di lingkungan sekolah, dan pastikan Anda mengikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar selalu update dengan informasi faktual seputar Bekasi.
Eksplorasi konten lain dari Beyond Your Local News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















