- Pesatnya alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman membuat kapasitas saluran drainase eksisting menyusut secara drastis, memicu tingginya potensi banjir di akhir 2026.
- Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi mengambil langkah taktis dengan mengoptimalkan lahan kosong dan aset PSU menjadi polder (kolam retensi).
- Tim teknis pematusan dan alat berat telah disebar ke 12 kecamatan se-Kota Bekasi untuk pengerukan lumpur dan pembersihan drainase secara berkelanjutan.
- Infrastruktur penunjang seperti pompa air disiagakan di berbagai titik rawan genangan guna mempercepat surutnya air.
ANCAMAN GENANGAN AIR dan banjir di Kota Bekasi diprediksi semakin meningkat menjelang akhir tahun 2026, seiring masifnya alih fungsi lahan yang tak terbendung.
Menyikapi kondisi kritis tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi terus mempercepat pembangunan polder serta normalisasi drainase di 12 kecamatan.
Keterbatasan daya tampung saluran eksisting menuntut langkah mitigasi ekstra agar permukiman warga tidak kembali terendam saat curah hujan tinggi melanda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Antisipasi Banjir Kota Bekasi: Strategi DBMSDA Atasi Genangan di Permukiman
Mengapa Wilayah Kota Bekasi Rentan Terendam Banjir Saat Musim Penghujan?
Pesatnya perubahan tata guna lahan menjadi faktor utama menyusutnya daerah resapan air di wilayah penyangga ibu kota ini.
Kapasitas saluran air tidak lagi sebanding dengan tingginya debit curah hujan, sementara opsi pelebaran saluran terbentur oleh padatnya kawasan permukiman.
”Perubahan tata guna lahan sangat cepat. Banyak kawasan yang berkembang menjadi permukiman. Akibatnya kapasitas saluran sudah tidak mencukupi. Mau dilebarkan juga sulit karena kondisi wilayah sudah padat,” kata Kepala DBMSDA Kota Bekasi Idi Sutanto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Minggu (04/10/2026).
Apa Solusi Jangka Menengah Pemkot Bekasi Redam Banjir?
Menghadapi kebuntuan dalam pelebaran drainase perkotaan, Pemkot Bekasi mengoptimalkan pembuatan polder atau kolam retensi.
Polder ini berfungsi vital sebagai “parkir air” atau penampung sementara air hujan dari permukiman sebelum dialirkan secara perlahan ke sungai utama.
”Kota Bekasi ini wilayahnya relatif datar. Maka setiap ada potensi lahan kosong atau aset PSU yang bisa dimanfaatkan, kita gali menjadi polder untuk menampung sementara air hujan agar tidak langsung menggenangi permukiman warga,” tutur Idi.
Sistem kerja polder ini dinilai sangat efektif untuk mencegah air meluap langsung ke jalan dan rumah warga saat intensitas hujan mencapai puncaknya.
”Air ditampung dulu di polder. Setelah hujan reda dan debit sungai turun, baru air kita buang secara bertahap ke kali. Itu yang selama ini cukup membantu mengurangi genangan,” katanya.
Bagaimana Kesiapan Pompa Air dan Petugas di Titik Rawan Banjir?
Selain mengandalkan polder, DBMSDA Kota Bekasi memastikan seluruh infrastruktur pendukung, khususnya pompa penyedot air, dalam kondisi prima.
Kehadiran petugas pematusan di lapangan juga menjadi garda terdepan dalam percepatan penanganan genangan secara aktual.
”Cukup. Saat banjir besar Maret lalu, hampir di setiap titik banjir ada petugas dan pompa yang siaga. Mungkin kapasitasnya belum semuanya besar, tapi masyarakat melihat pemerintah hadir dan melakukan penanganan langsung di lapangan,” ujarnya.
Apa Langkah Mitigasi Dini DBMSDA Kota Bekasi di 12 Kecamatan?
Menjelang puncak musim penghujan, DBMSDA Kota Bekasi gencar melakukan normalisasi sarana prasarana.
Fokus utamanya adalah pembersihan drainase secara rutin dan pengerukan sedimentasi lumpur yang mengendap agar daya tampung air kembali maksimal.
”Semua tim pematusan sudah jalan. Alat berat kita keluar semua dan bergerak di 12 kecamatan. Kegiatan pembersihan saluran, pengerukan sedimentasi, dan pemeliharaan drainase terus dilakukan,” imbuhnya.
Meskipun langkah antisipatif telah dikerahkan secara maksimal, pemerintah daerah tetap mewaspadai tingginya intensitas curah hujan ekstrem yang sewaktu-waktu dapat melampaui kemampuan teknis infrastruktur yang ada.
”Kita sebenarnya sudah siap. Yang menjadi perhatian itu tetap debit dan intensitas hujan. Karena kapasitas sebagian besar saluran yang ada saat ini memang sudah tidak mampu menampung volume air yang terus meningkat,” katanya.
Namun, di tengah keterbatasan ruang dan anggaran, DBMSDA terus berkomitmen menekan durasi serta luas genangan sedini mungkin.
”Prinsipnya kami terus bergerak. Mau musim kemarau ataupun musim hujan, alat berat turun, petugas turun. Pembersihan saluran, gorong-gorong, hingga pengerukan kali tetap berjalan sebagai upaya mengurangi risiko banjir di wilayah Kota Bekasi,” tandasnya.
Upaya komprehensif dari DBMSDA Kota Bekasi ini diharapkan mampu meminimalisir dampak cuaca ekstrem di akhir tahun.
Namun, peran aktif warga dalam menjaga kebersihan lingkungan dan komitmen untuk tidak membuang sampah ke saluran air tetap menjadi kunci utama agar wilayahnya terbebas dari ancaman genangan.
Bagaimana kondisi saluran air dan drainase di lingkungan Anda menjelang musim hujan ini? Mari bagikan informasi di kolom komentar dan baca terus berita terkini seputar kebijakan Pemkot Bekasi. Pastikan Anda mengikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar selalu update!
Eksplorasi konten lain dari Beyond Your Local News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















