​’Main Kayu’ Jelang Musda VI, Mantan Petinggi MKGR Kritik Tajam Faksi di Tubuh DPD Partai Golkar Kota Bekasi Era Ade Puspitasari

- Jurnalis

Selasa, 29 September 2026 - 20:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Ketua Generasi Muda Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (Gema MKGR) Kota Bekasi, Syahrul Ramadhan alias Buluk (kanan), saat berpose bersama Ketua Umum Partai Golkar periode 2017–2024, Airlangga Hartarto (kiri), dalam sebuah agenda kepartaian beberapa waktu lalu. Kini, Syahrul menyoroti tajam dinamika dan keretakan internal di tubuh kepengurusan jelang bergulirnya Musda VI.

Mantan Ketua Generasi Muda Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (Gema MKGR) Kota Bekasi, Syahrul Ramadhan alias Buluk (kanan), saat berpose bersama Ketua Umum Partai Golkar periode 2017–2024, Airlangga Hartarto (kiri), dalam sebuah agenda kepartaian beberapa waktu lalu. Kini, Syahrul menyoroti tajam dinamika dan keretakan internal di tubuh kepengurusan jelang bergulirnya Musda VI.

  • ​Mantan Ketua Gema MKGR Kota Bekasi mengkritik keras munculnya faksi internal menjelang Musda VI DPD Partai Golkar Kota Bekasi akibat tata kelola organisasi yang buruk.
  • ​Kebijakan penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) untuk sejumlah Ketua Pimpinan Kecamatan (PK) dinilai sebagai cara ‘main kayu’ demi mengamankan dukungan.
  • ​Ketua DPD Ade Puspitasari didesak untuk merangkul seluruh elemen kader, bukan memelihara perpecahan jelang kontestasi.
  • ​Musyawarah Daerah ditargetkan menjadi momentum persatuan demokratis yang tidak menyingkirkan kelompok berseberangan di tingkat akar rumput.

​MENJELANG PERHELATAN Musyawarah Daerah (Musda) VI, dinamika internal DPD Partai Golkar Kota Bekasi kian memanas.

Mantan Ketua Generasi Muda Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (Gema MKGR) Kota Bekasi, Syahrul Ramadhan alias Buluk, menyoroti tajam keretakan struktur organisasi hingga polemik pergantian sejumlah Ketua Pimpinan Kecamatan (PK) secara sepihak di bawah kepemimpinan Ade Puspitasari.

​Polemik Kepemimpinan Ade Puspitasari di DPD Partai Golkar Kota Bekasi

​Persoalan konsolidasi dan munculnya faksi-faksi yang saling berseberangan kini menjadi perhatian serius sejumlah kader dan mantan pengurus organisasi sayap partai berlambang pohon beringin tersebut. Tata kelola di tingkat daerah dinilai gagal menjadi ruang pemersatu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​“Adanya faksi dan perpecahan Golkar Kota Bekasi merupakan buah kepemimpinan Ade Puspitasari sebagai Ketua Golkar,” kata Syahrul Ramadhan alias Buluk kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Selasa (29/09/2026).

​Mengapa Internal DPD Partai Golkar Kota Bekasi Retak Menjelang Musda VI?

​Retaknya internal mesin politik di Kota Bekasi ini tak lepas dari kelemahan dalam membangun komunikasi dan meredam konflik akar rumput.

Pengalaman berorganisasi serta kemampuan merangkul seluruh pihak menjadi tolok ukur utama seorang pemimpin, terutama saat mesin partai tengah bersiap menghadapi kontestasi pemilihan ketua baru.

​“Pemimpin partai itu bukan hanya soal memenangkan pertarungan politik, tetapi juga bagaimana menjaga semua elemen tetap berada dalam satu rumah besar organisasi,” ujarnya.

​Apa Dampak Kebijakan Plt Ketua PK Terhadap Soliditas Kader?

​Kebijakan merombak struktur tingkat kecamatan menggunakan mekanisme Pelaksana Tugas (Plt) dinilai sangat mencederai soliditas partai.

Struktur PK adalah ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan jaringan di tingkat kelurahan, RT, hingga RW.

Kasus Ketua PK Golkar Medan Satria, Suryo Harjo, yang santer diwacanakan lengser via Plt membuktikan pengambilan keputusan tidak dilakukan secara transparan dan terindikasi sekadar kalkulasi pengamanan suara jelang Musda.

​“Ditambah dengan cara main kayu, yaitu dengan mem-Plt-kan sejumlah Ketua PK Golkar yang diyakini Ade akan menyeberang,” tegas Buluk.

​Bagaimana Harapan MKGR untuk Masa Depan Golkar Kota Bekasi?

​Apabila konflik ini terus menerus dipelihara, sekat antara elite DPD dan pengurus tingkat bawah akan semakin menganga.

Musda seyogianya dioptimalkan sebagai arena demokrasi internal yang sehat, bukan sebagai sarana melanggengkan kekuasaan kelompok tertentu.

Mengandalkan jejaring politik keluarga atau kekuatan elektoral semata tidak akan cukup untuk menjaga kebesaran partai.

​“Jangan sampai Musda justru meninggalkan luka baru. Siapa pun yang nanti memimpin, harus mampu menyatukan kembali kader yang sekarang terbelah,” katanya.

​Organisasi sebesar Golkar membutuhkan sosok teladan yang tidak bersikap eksklusif, melainkan mampu memanajemen perbedaan pandangan secara bermartabat.

​“Golkar membutuhkan pemimpin yang solid, berwibawa dan mampu merangkul seluruh elemen. Bukan pemimpin yang justru membuat kader terbelah,” ujarnya.

​Proses Musda VI harus dipastikan berjalan sesuai aturan organisasi dan memberikan ruang yang sama bagi kader yang berhak, tanpa ada upaya menyingkirkan faksi lawan.

​“Jangan lagi ada sekat-sekat faksi. Golkar harus kembali menjadi rumah bersama kader. Kalau konflik terus dipelihara, yang dirugikan bukan hanya satu kelompok, tetapi seluruh Partai Golkar Kota Bekasi,” pungkasnya.

​Persiapan menuju Musda VI ini tentu akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kedewasaan berpolitik para kader Beringin di Kota Patriot.

Masyarakat dan simpatisan kini menanti, apakah partai ini mampu keluar dari badai internal atau justru semakin terpuruk dalam jurang perpecahan.

​Ikuti terus perkembangan politik daerah, layanan publik, dan isu ekonomi terkini. Mari sampaikan opini Anda di kolom komentar, bagikan artikel ini, dan jangan lupa ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi di [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar tidak ketinggalan update berita terpercaya!


Eksplorasi konten lain dari Beyond Your Local News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bayang-Bayang “Serigala dan Domba” di Musda Golkar Kota Bekasi: Ranny Fahd Disarankan Mundur Demi Marwah
Kantongi Restu DPP dan 13 Suara Kunci, Ranny Fahd A Rafiq Mantap Menangkan Musda Golkar Kota Bekasi
Sah! Nawal Husni Pimpin PPP Kota Bekasi, Bidik 5 Kursi DPRD Lewat Kekuatan Akar Rumput
Efek Kasus KPK Sang Suami, Kans Ranny Fahd Arafiq di Musda Golkar Kota Bekasi Kian Meredup
Tanda Tangan Dicatut Oknum! Senior Golkar Medansatria Bantah Keras Isu Penolakan Plt Ketua PK
Lepas dari PPP, Gus Shol Dapat ‘Karpet Merah’ Pimpin Golkar Kota Bekasi?
Jokowi Safari Politik ke Bekasi, Hasto Lontarkan Sindiran Keras: PDIP Pilih Politik Kemanusiaan!
Prabowo Tunjuk Komjen Suyudi Jadi Calon Kapolri Baru, PDIP Tuntut Reformasi Total Bukan Wacana
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:44 WIB

Bayang-Bayang “Serigala dan Domba” di Musda Golkar Kota Bekasi: Ranny Fahd Disarankan Mundur Demi Marwah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Kantongi Restu DPP dan 13 Suara Kunci, Ranny Fahd A Rafiq Mantap Menangkan Musda Golkar Kota Bekasi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 19:33 WIB

Sah! Nawal Husni Pimpin PPP Kota Bekasi, Bidik 5 Kursi DPRD Lewat Kekuatan Akar Rumput

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Efek Kasus KPK Sang Suami, Kans Ranny Fahd Arafiq di Musda Golkar Kota Bekasi Kian Meredup

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Tanda Tangan Dicatut Oknum! Senior Golkar Medansatria Bantah Keras Isu Penolakan Plt Ketua PK

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Beyond Your Local News

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x