- Aksi Layanan: UPTD Puskesmas Kranji menggelar penelusuran kontak (tracing) Tuberkulosis (TBC) yang diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
- Lokasi Spesifik: Posyandu ILP Ananda, Kantor Sekretariat RW 06, Jalan Kedondong 1 RT 02/RW 06, Kelurahan Kranji, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi.
- Waktu Pelaksanaan: Selasa, 27 Oktober 2026.
- Fokus Sasaran: Deteksi dini gejala TBC (batuk ≥ 2 minggu, demam berkepanjangan, keringat malam, penurunan berat badan), perluasan akses pemeriksaan kesehatan dasar, serta penghapusan stigma terhadap pasien TBC.
UPTD PUSKESMAS KRANJI di bawah naungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi menggencarkan penelusuran (tracing) Tuberkulosis (TBC) yang diintegrasikan dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada Selasa (27/10/2026).
Aksi jemput bola ini dipusatkan di Posyandu ILP Ananda, Kantor Sekretariat RW 06, Jalan Kedondong 1 RT 02/RW 06, Kelurahan Kranji, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi.
Langkah taktis ini bertujuan memutus mata rantai penularan TBC sekaligus memperluas akses deteksi dini kesehatan bagi masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Strategi Puskesmas Kranji Memperluas Skrining Kesehatan Warga
Langkah penggabungan penelusuran kasus penyakit menular dengan layanan pemeriksaan umum merupakan strategi jemput bola fasilitas kesehatan tingkat pertama di lingkungan Pemkot Bekasi.
Warga yang hadir terlebih dahulu melakukan registrasi melalui meja pendaftaran yang dikawal oleh kader Posyandu setempat sebelum menjalani pemeriksaan medis oleh tenaga kesehatan.
Mengapa Puskesmas Kranji Menggabungkan Tracing TBC dengan Cek Kesehatan Gratis?
Integrasi kegiatan tracing TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dilakukan untuk memperluas jangkauan deteksi dini kasus TBC sekaligus mendorong kepedulian warga terhadap kondisi kesehatannya secara menyeluruh.
Pendekatan langsung di tingkat rukun warga ini dinilai efektif menjaring masyarakat yang enggan atau belum sempat memeriksakan diri ke puskesmas.
Kepala UPTD Puskesmas Kranji, Maryanto, menegaskan bahwa kolaborasi antara tenaga medis dan kader kesehatan di lapangan menjadi ujung tombak keberhasilan skrining tersebut.
”Dalam pelaksanaannya, petugas kesehatan bersama kader melakukan penelusuran kontak serta memberikan edukasi kepada warga mengenai gejala TB, pentingnya pemeriksaan sejak dini, dan langkah-langkah pencegahan penularan,” kata Kepala UPTD Puskesmas Kranji, Maryanto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com di sela-sela kegiatan di RW 06 Kelurahan Kranji, Selasa (27/10/2026).
Mengapa Deteksi Dini TBC di Lingkungan Permukiman Sangat Penting?
Deteksi dini TBC di kawasan padat penduduk sangat krusial karena bakteri penyebab Tuberkulosis menyebar melalui udara dan berisiko tinggi menulari kontak erat di sekitar penderita.
Tanpa penelusuran aktif dan penanganan medis yang cepat, rantai penularan di tingkat keluarga maupun lingkungan RT/RW akan sulit dikendalikan.
Maryanto menjelaskan bahwa penggabungan layanan CKG di lapangan dirancang agar warga dapat langsung menjalani pemeriksaan fisik dan tekanan darah sekaligus mendapatkan skrining gejala pernapasan.
”Upaya tersebut menjadi penting mengingat TB merupakan penyakit menular yang memerlukan deteksi dini dan penanganan secara tepat untuk mencegah penularan lebih lanjut di lingkungan masyarakat,” katanya.
Apa Saja Gejala TBC yang Perlu Diwaspadai Masyarakat?
Gejala utama TBC yang wajib diwaspadai oleh masyarakat meliputi batuk terus-menerus selama dua minggu atau lebih yang disertai penurunan kondisi fisik secara signifikan.

Selama kegiatan di Sekretariat RW 06 Kelurahan Kranji berlangsung, petugas kesehatan memberikan edukasi intensif mengenai tanda-tanda klinis yang tidak boleh diabaikan warga.
Berikut rincian gejala klinis TBC yang menjadi fokus skrining petugas kesehatan:
- Batuk berkepanjangan: Berlangsung selama 2 minggu atau lebih (baik berdahak maupun tidak).
- Demam meriang: Mengalami demam berkepanjangan tanpa penyebab infeksi lain yang jelas.
- Keringat berlebih di malam hari: Keluar keringat dingin pada malam hari meski tidak sedang beraktivitas fisik.
- Penurunan berat badan: Berat badan turun drastis dan nafsu makan berkurang.
- Kondisi fisik menurun: Tubuh terasa mudah lemas dan lesu secara terus-menerus.
”Warga yang mengalami gejala tersebut diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan agar dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan sesuai kebutuhan,” tuturnya.
Bagaimana Cara Mencegah Penularan TBC dan Mendukung Kesembuhan Pasien?
Pencegahan penularan TBC secara efektif membutuhkan kepatuhan pemeriksaan sejak dini, kedisiplinan menuntaskan pengobatan medis, serta lingkungan sosial yang bebas dari stigma maupun diskriminasi.
Stigma negatif di masyarakat kerap membuat penderita TBC menyembunyikan penyakitnya dan enggan berobat, yang justru memperbesar risiko penularan di permukiman.
Oleh sebab itu, jajaran UPTD Puskesmas Kranji menekankan pentingnya peran aktif keluarga dan tetangga di RW 06 dalam mengawal kepatuhan minum obat pasien hingga dinyatakan sembuh total.
”Kegiatan di RW 06 Kelurahan Kranji tersebut menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan, dengan mengedepankan pemeriksaan dini, pengobatan yang tuntas, serta dukungan kepada pasien TBC,” imbuhnya.
Melalui sinergi antara petugas medis, kader Posyandu ILP Ananda, dan pengurus lingkungan di Bekasi Barat, kegiatan skrining terpadu ini diharapkan mampu menekan angka kasus TBC secara signifikan di Kota Bekasi.
Simak terus informasi terkini seputar layanan kesehatan publik dan program Pemkot Bekasi di artikel terkait lainnya. Jangan lupa bagikan berita ini kepada keluarga maupun kerabat Anda, tuliskan tanggapan di kolom komentar, serta ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi agar selalu update dengan berita terbaru di Kota dan Kabupaten Bekasi.
Eksplorasi konten lain dari Beyond Your Local News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















