- Harga cabai rawit merah di pasar tradisional Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, melonjak tajam menyentuh angka Rp80.000 per kilogram dibandingkan bulan Agustus lalu.
- DPRD Kota Bekasi mendesak Pemkot Bekasi segera menggelar inspeksi mendadak (sidak) dan operasi pasar murah untuk menstabilkan harga jelang Nataru.
- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bekasi diminta memperkuat kerja sama dengan daerah penghasil guna mencegah kelangkaan pasokan komoditas pangan.
ANCAMAN LONJAKAN INFLASI jelang akhir tahun mulai membayangi masyarakat, khususnya di wilayah Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Kenaikan ekstrem harga cabai rawit merah yang menembus Rp80.000 per kilogram memicu reaksi keras dari pihak legislatif.
DPRD Kota Bekasi kini mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi untuk segera turun tangan mencegah krisis pangan jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
DPRD Desak Pemkot Bekasi Kendalikan Harga Cabai Rawit Merah Kota Bekasi Jelang Nataru
Gejolak harga kebutuhan pokok yang kian mencekik daya beli masyarakat tak pelak menjadi sorotan tajam.
Mengingat tren tahunan, momentum hari-hari besar keagamaan selalu diikuti dengan melambungnya harga komoditas pangan di pasar tradisional.
Mengapa Harga Cabai Rawit Merah di Kota Bekasi Terus Melonjak?
Kenaikan harga pangan ini mayoritas dipicu oleh cuaca ekstrem kemarau panjang yang melanda berbagai daerah penghasil di seluruh Indonesia.
Kondisi sistemik ini membuat harga cabai rawit merah di pasaran meroket drastis dari Rp50.000 pada Agustus lalu, menjadi Rp80.000 per kilogram pada pekan ini.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Bekasi, Alit Jamaludin, memperingatkan bahwa tren kenaikan ini harus diwaspadai agar tidak menimbulkan kepanikan (panic buying) di tengah masyarakat menjelang akhir tahun.
”Karenanya, seyogyanya pemerintah daerah melalui Disperindag kita dorong untuk melakukan inspeksi mendadak ke pasar tradisional, memastikan harga tetap terkendali dan memeriksa pasokan,” ungkap Alit Jamaludin kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, dikutip Sabtu (26/09/2026).
Apa Solusi Jangka Panjang untuk Atasi Kelangkaan Pasokan Pangan?
Selain melakukan sidak lapangan secara ketat, intervensi langsung dari pemerintah daerah seperti menggelar operasi pasar murah dinilai sangat mendesak.
Namun, langkah taktis tersebut harus diimbangi dengan perumusan strategi ketahanan pangan yang berkelanjutan.
”Kemudian juga jangan lupa, pemerintah perlu memberikan solusi jangka panjang, apalagi ini terkait erat dengan hari besar seperti Nataru, tidak menutup kemungkinan harga akan melonjak lagi,” ujar Alit.
Menurutnya, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi harus bergerak lebih agresif dalam menjalin dan memperkuat komunikasi strategis dengan daerah-daerah pemasok utama.
Hal ini sangat krusial agar ketersediaan komoditas di dalam kota tidak mengalami kelangkaan stok yang berujung fatal pada inflasi.
”Kemudian memastikan komunikasi antar daerah, terutama daerah penghasil agar setidaknya pemerintah kota bisa berperan memberikan solusi harga cabai ini tetap stabil. Kalaupun terjadi kenaikan ini tidak terlalu tinggi, masih sesuai dengan harga acuan,” tambahnya.
Sinergi yang kuat antara legislatif, Pemkot Bekasi, dan pemerintah daerah penghasil komoditas sangat diharapkan agar jeritan masyarakat terkait mahalnya kebutuhan harian dapat segera teratasi. Jangan sampai euforia akhir tahun masyarakat justru dirusak oleh inflasi pangan yang semakin tidak terkendali.
Simak terus berita terbaru, analisis mendalam, dan informasi pelayanan publik lainnya, serta ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar Anda tidak tertinggal kabar terkini seputar Kota dan Kabupaten Bekasi.
Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















