- Lokasi Ikonik: Jalan Gunawarman merupakan salah satu ruas jalan protokol paling bergengsi di kawasan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
- Pangeran Kashmir: Didedikasikan untuk Gunawarman (lahir 367 M), seorang pangeran berdarah biru yang menolak takhta demi menjadi biksu pengembara.
- Dharmaduta Nusantara: Berhasil membimbing penguasa lokal di Jawa dan Sumatra untuk memeluk agama Buddha pada abad ke-5 Masehi.
- Warisan di Tiongkok: Diundang khusus oleh Kaisar Wen ke Nanjing (431 M) untuk menerjemahkan teks suci dan sukses mendirikan ordo kesusteran Buddha (Bhikkhuni) pertama.
Melanjutkan seri tulisan kesejarahan ke-32 dari 45 tentang asal-usul jalan protokol pada Senin (03/08/2026), Seniman Kemerdekaan peraih rekor MURI, Zenza TekSas, mengupas nama ikonik di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Tokoh di balik nama Jalan Gunawarman bukanlah figur sembarangan, melainkan pangeran asal Kashmir yang menolak takhta demi menyebarkan ajaran Buddha di Nusantara hingga merajut peradaban ke Tiongkok.
Menelusuri Sejarah Jalan Gunawarman di Kebayoran Baru
Siapa Sebenarnya Sosok Gunawarman di Balik Nama Jalan?
Di kawasan bergengsi Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terbentang ruas Jalan Gunawarman yang kerap dilintasi warga ibu kota setiap harinya. Di balik penamaan ikonik tersebut, tersembunyi warisan peradaban kuno yang sangat monumental.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kisah hidup Gunawarman adalah sebuah epik perjalanan spiritual lintas benua yang merajut sejarah Asia pada abad ke-5 Masehi,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Senin (03/08/2026).
Lahir sekitar tahun 367 M, ia sejatinya adalah pangeran berdarah biru dari Kashmir—cucu Haribhadra dan putra Sangghananda.
Namun, di saat dunia memandang takhta sebagai puncak kejayaan, ia justru melihat mahkota sebagai rantai belenggu batin. Pada usia 30 tahun, ia menolak naik takhta dan memilih jalan hidup sebagai biksu pengembara.
Bagaimana Jejak Dakwah Gunawarman di Bumi Nusantara?
Langkah kakinya sebagai seorang dharmaduta (utusan dharma) membawanya mengarungi lautan luas hingga menjejakkan kaki di kepulauan Nusantara, meliputi wilayah Sumatra dan Jawa. Berbekal karisma yang menyejukkan dan pemahaman filosofis mendalam, kehadirannya segera menarik simpati istana.
Sang biksu berhasil membimbing penguasa lokal beserta ibundanya untuk memeluk agama Buddha. Keberhasilan ini menjadi tonggak sejarah krusial yang sukses menanamkan akar Buddhisme dengan kuat di tanah Jawa jauh sebelum abad ke-5 berakhir, sekaligus menginspirasi rakyat jelata mengikuti jejak sang raja.
Mengapa Sang Biksu Dijemput Khusus oleh Kaisar Tiongkok?
Pengaruh besar Gunawarman ternyata tidak berhenti di wilayah Nusantara. Gelombang reputasinya sebagai guru spiritual yang pencerahannya diakui meluas akhirnya menyeberang hingga ke daratan Tiongkok.
Mendengar ketenarannya, Kaisar Wen dari Dinasti Liu Song secara khusus mengutus delegasi untuk menjemput sang biksu agung. Setibanya di Nanjing pada tahun 431 M, ia mendedikasikan sisa hidupnya yang singkat untuk menerjemahkan berbagai teks suci dari bahasa Sanskerta ke Mandarin.
Lebih dari itu, ia menorehkan sejarah penting dengan mendirikan ordo kesusteran Buddha (Bhikkhuni) pertama di Tiongkok, sebelum akhirnya wafat di tahun yang sama di kota tersebut.
Hari ini, sejarah mengenang Gunawarman sebagai figur kosmopolitan sejati era kuno yang sukses merajut jembatan peradaban antara India, Nusantara, dan Tiongkok lewat jalur sutra maritim.
Jejak pengabdiannya yang memilih pencerahan universal ketimbang kemewahan istana kini abadi menghiasi jantung kota Jakarta Selatan.
Bagaimana kisah perjalanan spiritual pangeran Kashmir ini menginspirasi perspektif Anda hari ini? Sampaikan opini Anda di kolom komentar! Jangan lupa bagikan ulasan sejarah penuh makna ini ke media sosial Anda dan ikuti terus rekam jejak tokoh lainnya secara eksklusif hanya di RakyatBekasi.Com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







