Sejarah Jalan Sunan Kalijaga: Jejak Dakwah Kultural Walisongo di Jakarta Timur

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DAKWAH KULTURAL WALISONGO: Suasana lalu lintas dan aktivitas pendidikan di sekitar kawasan Jalan Sunan Kalijaga, dekat dengan kompleks perguruan Al Azhar dan Muhammadiyah, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (13/08/2026). Penamaan jalan protokol ini diabadikan secara khusus untuk menghormati Sunan Kalijaga (Raden Mas Said), tokoh sentral Walisongo dan penasihat Kesultanan Demak yang sukses merajut dakwah Islam secara damai menggunakan media kebudayaan Nusantara seperti wayang kulit dan tembang Lir-ilir. (Foto: Ilustrasi/RakyatBekasi.com)

DAKWAH KULTURAL WALISONGO: Suasana lalu lintas dan aktivitas pendidikan di sekitar kawasan Jalan Sunan Kalijaga, dekat dengan kompleks perguruan Al Azhar dan Muhammadiyah, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (13/08/2026). Penamaan jalan protokol ini diabadikan secara khusus untuk menghormati Sunan Kalijaga (Raden Mas Said), tokoh sentral Walisongo dan penasihat Kesultanan Demak yang sukses merajut dakwah Islam secara damai menggunakan media kebudayaan Nusantara seperti wayang kulit dan tembang Lir-ilir. (Foto: Ilustrasi/RakyatBekasi.com)

  • Lokasi Ikonik: Jalan Sunan Kalijaga terletak strategis di kawasan pendidikan Rawamangun, Jakarta Timur, berdekatan dengan kompleks Al Azhar, Muhammadiyah, dan Diponegoro.
  • Profil Ulama: Didedikasikan untuk Raden Mas Said (Sunan Kalijaga), putra Bupati Tuban yang lahir pada 1450 M.
  • Strategi Kultural: Menyiarkan agama Islam secara damai menggunakan media kesenian tradisional Nusantara seperti wayang kulit dan tembang Lir-ilir.
  • Peran Politik: Tercatat dalam sejarah sebagai penasihat Kesultanan Demak dan turut membangun arsitektur Masjid Agung Demak.

​Menjelang perayaan HUT RI ke-81, seri ulasan sejarah jalan protokol edisi ke-42 dari 45, Kamis (13/08/2026), kembali menyapa warga metropolitan.

Seniman Kemerdekaan sekaligus Peraih Rekor MURI, Zenza TekSas, membedah Sejarah Jalan Sunan Kalijaga di Jakarta Timur.

Kawasan yang sarat nuansa historis ini mengabadikan nama tokoh Walisongo penasihat Kesultanan Demak yang masyhur menyebarkan Islam lewat dakwah kultural wayang kulit.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Menelusuri Sejarah Jalan Sunan Kalijaga di Jakarta Timur

​Di Mana Lokasi Sejarah Jalan Sunan Kalijaga dan Siapa Sosoknya?

​Di timur ibu kota, nama-nama tokoh Walisongo secara terstruktur diabadikan sebagai urat nadi mobilitas warga, bersanding harmonis dengan pusat-pusat pendidikan Islam terkemuka.

​”Di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, terdapat kawasan pemukiman yang unik dan kental nuansa historis Nusantara, tepatnya di sekitar kompleks sekolah ternama seperti Al Azhar, Muhammadiyah, dan Perguruan Diponegoro yang menggunakan nama Walisongo,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Kamis (13/08/2026).

​Jalan Sunan Kalijaga merekam jejak Raden Mas Said (Raden Sahid), putra Bupati Tuban Tumenggung Wilatikta yang lahir sekitar 1450 M.

Nama “Kalijaga” sendiri konon berasal dari kisah masa tirakatnya ketika beliau bertapa menjaga tongkat milik Sunan Bonang di pinggir sungai (kali) daerah Tuban. Beliau juga dikenal dengan sebutan Lokajaya, Syaikh Malaya, hingga Pangeran Tuban.

​Mengapa Sunan Kalijaga Memilih Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah?

​Keberhasilan dakwah Sunan Kalijaga memikat jutaan hati masyarakat Jawa tidak lepas dari pendekatannya yang luwes, damai, dan inklusif.

Alih-alih membenturkan agama dengan tradisi, sang ulama meleburkan nilai tauhid ke dalam kebudayaan lokal.

​Metode dakwah kultural andalannya yang paling melegenda meliputi:

  • Kesenian Wayang Kulit: Menjadikan wayang sebagai media dakwah massa. Beliau menyisipkan lakon pewayangan Hindu-Buddha dengan nilai moral, tauhid, dan filosofi Islam agar ajaran agama mudah dicerna rakyat kecil.
  • Tembang dan Musik Tradisional: Menggubah karya sastra dan lagu religi Nusantara yang sarat makna kehidupan. Salah satu warisan abadinya adalah tembang Lir-ilir yang masih membumi hingga kini.
  • Pendekatan Budaya Halus: Memasukkan nilai-nilai syariat Islam secara perlahan ke dalam ritual dan tradisi masyarakat tanpa merusak tatanan adat istiadat leluhur.

​Apa Saja Peninggalan Bersejarah Sunan Kalijaga di Nusantara?

​Dalam tatanan pemerintahan abad ke-15, Sunan Kalijaga memegang peran ganda. Selain menjadi pemuka agama agung, beliau diangkat sebagai penasihat utama di Kesultanan Demak.

Sang ulama juga berkontribusi langsung sebagai konseptor dalam pembangunan tata ruang dan arsitektur Masjid Agung Demak.

​Sunan Kalijaga wafat di usia senja dan dimakamkan di Kelurahan Kadilangu, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Hingga kini, kompleks makamnya tidak pernah sepi peziarah dan menjadi destinasi wisata religi utama Nusantara.

​Penggunaan nama Sunan Kalijaga sebagai arteri utama di kawasan pendidikan Rawamangun menjadi pengingat sunyi bagi kita semua.

Bahwa kearifan lokal, toleransi beragama, dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan untuk membangun peradaban bangsa yang kokoh.

​Apakah tembang Lir-ilir atau lakon wayang Sunan Kalijaga pernah menjadi memori masa kecil Anda?

Sampaikan komentar Anda di bawah! Ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [di sini ] agar selalu update berita pemerintahan, layanan publik, hingga ulasan sejarah nusantara.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Promo Bright Gas Bekasi Spesial HUT RI: Diskon Isi Ulang Hingga Rp8.100
Sejarah Jalan Sunan Drajat: Jejak Ulama Pemersatu Lewat Gamelan Singa Mengkok
Sejarah Jalan Sunan Bonang: Dakwah Kultural Pencipta Tombo Ati
5 Tahun Berjalan, Alfamidi Berangkatkan 101 Karyawan Umrah
Link Live Streaming dan Jadwal Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026
Sejarah Jalan Sunan Ampel: Jejak Dakwah dan Falsafah Moh Limo
Sejarah Jalan Sunan Giri: Jejak Ulama Pendiri Giri Kedaton
Sejarah Jalan Pangeran Antasari: Sultan Banjar Anti Kompromi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:15 WIB

Sejarah Jalan Sunan Kalijaga: Jejak Dakwah Kultural Walisongo di Jakarta Timur

Kamis, 13 Agustus 2026 - 07:16 WIB

Promo Bright Gas Bekasi Spesial HUT RI: Diskon Isi Ulang Hingga Rp8.100

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Sejarah Jalan Sunan Drajat: Jejak Ulama Pemersatu Lewat Gamelan Singa Mengkok

Selasa, 11 Agustus 2026 - 16:45 WIB

Sejarah Jalan Sunan Bonang: Dakwah Kultural Pencipta Tombo Ati

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:33 WIB

5 Tahun Berjalan, Alfamidi Berangkatkan 101 Karyawan Umrah

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x