- Lokasi Ikonik: Jalan Sunan Muria terletak di kawasan perumahan Rawamangun, Jakarta Timur, yang seluruh tata jalannya mengabadikan nama-nama Wali Songo.
- Profil Ulama: Didedikasikan untuk Raden Umar Said (Sunan Muria), putra kandung dari Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh yang berdarah bangsawan spiritual.
- Strategi Inklusif: Memilih wilayah dakwah terpencil di lereng Gunung Muria guna merangkul masyarakat akar rumput seperti nelayan dan pedagang.
- Metode Dakwah: Memanfaatkan pendekatan kebudayaan melalui instrumen seni gamelan, wayang, serta gubahan tembang Jawa seperti Sinom dan Kinanthi.
Menjelang perayaan HUT RI ke-81, ulasan sejarah jalan protokol seri ke-44 dari 45 edisi Sabtu (15/08/2026) kembali hadir menyoroti denyut ibu kota.
Seniman Kemerdekaan sekaligus Peraih Rekor MURI, Zenza TekSas, membedah Sejarah Jalan Sunan Muria di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.
Penamaan ruas jalan ini menjadi simbol penghormatan abadi bagi Raden Umar Said, tokoh Wali Songo yang merangkul rakyat kecil melalui pendekatan dakwah kultural.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menelusuri Sejarah Jalan Sunan Muria di Jakarta Timur
Di Mana Lokasi Sejarah Jalan Sunan Muria dan Siapa Sosoknya?
Kawasan Rawamangun menyimpan keunikan tata kota yang sarat akan nilai historis. Di salah satu kompleks perumahannya, seluruh ruas jalan diabadikan dari nama para ulama besar penyebar Islam di Nusantara.
Plang nama tersebut bukan sekadar penunjuk arah, melainkan pengingat abadi terhadap jejak perjuangan dakwah masa silam.
Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said atau yang kerap dikenal sebagai Raden Prawoto. Beliau lahir dari darah bangsawan spiritual, sebagai buah hati pasangan ulama berpengaruh Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh.
Dalam perjalanannya, ulama karismatik ini mempersunting Dewi Roroyono, putri tokoh terkemuka Sunan Ngerang, yang turut membentuk kepribadiannya menjadi arif dan bijaksana.
Mengapa Sunan Muria Memilih Lereng Gunung Sebagai Pusat Dakwah?
Jika mayoritas penyebar agama kala itu memilih berpusat di perkotaan atau wilayah kekuasaan kerajaan, Sunan Muria justru mengambil jalan pengabdian yang berbeda.
Beliau secara ikhlas memilih kawasan yang jauh, terpencil, dan menyatu dengan alam, yakni di lereng Gunung Muria.
Keputusan menetap di pelosok ini bertujuan untuk mendekatkan diri dengan lapisan masyarakat yang jarang tersentuh pendidikan keagamaan formal. Sasaran dakwah beliau sangat inklusif tanpa sekat status sosial, merangkul:
- Para nelayan dan pelaut tangguh yang mengarungi lautan.
- Para pedagang kecil yang berjuang di pasar tradisional.
- Rakyat jelata yang bekerja keras menghidupi keluarga setiap harinya.
Bagaimana Metode Dakwah Kultural Sunan Muria Menyentuh Rakyat?
Dalam menyampaikan ajaran tauhid, Sunan Muria diakui sebagai seniman dakwah yang sangat cerdas dan membumi.
Beliau memahami sepenuhnya bahwa tradisi dan kebudayaan lokal adalah pintu masuk terbaik untuk menyentuh sanubari masyarakat tanpa menimbulkan resistensi.
Sebagai solusinya, sang maestro memanfaatkan ragam media seni tradisional yang digemari rakyat. Pesan moral, ajaran kebaikan, dan tauhid disisipkan secara halus melalui pertunjukan wayang sarat filosofi, harmoni gamelan, hingga lantunan tembang Jawa klasik andalannya, yakni tembang Sinom dan Kinanthi.
Ketika melintasi Jalan Sunan Muria di Jakarta Timur, narasi di baliknya mengajarkan kita tentang sebuah pengabdian tulus.
Sejarah mencatat bahwa agama paling indah disebarkan melalui cinta kasih, kedekatan dengan rakyat, serta penghargaan setinggi-tingginya terhadap budaya lokal.
Bagikan artikel sejarah inspiratif ini ke kerabat Anda dan sampaikan pandangan Anda di kolom komentar! Ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [di sini] agar selalu update berita pemerintahan, politik, ekonomi, layanan publik, dan sejarah lokal terbaru.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















