- Lokasi Protokol: Jalan Brawijaya merupakan ruas jalan strategis yang melintasi kawasan elit Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
- Asal-usul Gelar: Nama “Brawijaya” (Bhatara Wijaya) merujuk pada gelar penguasa terakhir Majapahit yang populer melalui naskah Babad Tanah Jawi abad ke-19.
- Figur Transisional: Diidentikkan dengan Brawijaya V (Bhre Kertabumi, 1468-1478 M), sosok ikonik yang hidup di masa transisi masuknya pengaruh Islam di Jawa.
- Akhir Penuh Misteri: Berakhirnya takhta sang raja diselimuti legenda spiritual, mulai dari moksa di Gunung Lawu, pati obong di Pantai Ngobaran, hingga dialog damai bersama para Wali.
Menjelang perayaan HUT RI ke-81, seri ulasan sejarah jalan protokol ke-34 dari 45 edisi Rabu (05/08/2026) kembali dihadirkan oleh Zenza TekSas, Seniman Kemerdekaan sekaligus Peraih Rekor MURI.
Mengarahkan sorotan ke kawasan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, naskah ini mengupas jejak historis Jalan Brawijaya.
Sebuah penanda jalan yang tidak sekadar mengarahkan lalu lintas, melainkan mengabadikan memori kolektif tentang penguasa terakhir sekaligus simbol penutup era keemasan imperium Nusantara, Majapahit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menelusuri Sejarah Jalan Brawijaya di Kebayoran Baru
Dari Mana Asal-usul Gelar Brawijaya Muncul?
Di balik hiruk-pikuk pusat kota metropolitan, nama-nama jalan di Jakarta senantiasa merekam jejak panjang peradaban masa lalu yang tak boleh dilupakan oleh generasi modern.
”Kawasan Kebayoran Baru di Jakarta Selatan menyimpan banyak memori sejarah melalui deretan nama jalannya, salah satunya adalah Jalan Brawijaya,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.com, Rabu (05/08/2026).
Jika ditelusuri akar sejarahnya, gelar “Brawijaya” rupanya tidak ditemukan pada prasasti sezaman atau kitab kuno peninggalan Majapahit seperti Nagarakretagama maupun Pararaton.
Gelar yang berasal dari kata Bhatara Wijaya ini baru muncul dan populer dalam kesusastraan Jawa era selanjutnya, khususnya pada naskah Babad Tanah Jawi (abad ke-19), untuk menyebut penguasa-penguasa terakhir menjelang keruntuhan Majapahit.
Siapa Sosok Ikonik Brawijaya V dalam Sejarah Jawa?
Dari sekian banyak figur yang menyandang gelar tersebut, sosok yang paling ikonik dan melekat kuat dalam ingatan kolektif masyarakat adalah Brawijaya V.
Sejumlah sejarawan mengidentifikasikannya sebagai Bhre Kertabumi, penguasa Majapahit yang bertahta pada kurun waktu 1468 hingga 1478 Masehi.
Dalam folklor dan cerita rakyat Nusantara, Brawijaya V digambarkan sebagai figur transisional yang memimpin di tengah masa-masa penuh gejolak. Di eranya, pengaruh Islam mulai masuk dan berkembang pesat di tanah Jawa.
Sang raja bahkan kerap dikisahkan memiliki hubungan darah langsung dengan Raden Patah, pelopor kerajaan Islam pertama di Jawa sekaligus pendiri Kesultanan Demak.
Bagaimana Misteri Akhir Hayat Sang Penguasa Terakhir?
Kisah akhir hayat Brawijaya V diselimuti oleh kabut misteri dan legenda yang sangat kaya akan nuansa spiritualitas. Tercatat, ada tiga versi populer mengenai akhir perjalanan hidup sang raja pungkasan ini.
Sebagian masyarakat meyakini ia melakukan moksa (menghilang bersama raga) di kawasan lereng Gunung Lawu.
Versi lain menyebutkan ia melakukan pati obong (membakar diri) di Pantai Ngobaran, Yogyakarta.
Sementara itu, terdapat pula versi yang meyakini ia wafat dengan tenang setelah melalui proses dialog spiritual yang mendalam bersama para Wali penyebar Islam.
Meski keruntuhan imperium Majapahit telah berlalu berabad-abad lamanya, nama besar Brawijaya tetap abadi.
Tidak hanya menjadi nama jalan strategis di Jakarta Selatan, kebesarannya juga melekat pada almamater terkemuka Universitas Brawijaya di Malang, serta komando militer pertahanan Kodam V/Brawijaya di Jawa Timur.
Melalui penamaan tersebut, warisan kebesaran dan sejarah penguasa terakhir Majapahit terus dijaga lintas generasi.
Versi akhir hayat Brawijaya manakah yang paling sering Anda dengar? Sampaikan pandangan Anda di kolom komentar! Bagikan ulasan sejarah ini ke media sosial dan baca terus rekam jejak pahlawan bangsa karya Zenza TekSas eksklusif hanya di RakyatBekasi.com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


![Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto (tengah, memegang cetak biru), mendengarkan penjelasan dari seorang insinyur (kiri, memegang rute) tentang usulan rute Sky Train di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Summarecon Stasiun Bekasi Extension. Tri Adhianto menegaskan penolakannya terhadap usulan rute di atas Jalan Ahmad Yani demi menjaga ruang publik Car Free Day warga Bekasi. Foto: [Ilustrasi/RakyatBekasi.Com].](https://i0.wp.com/rakyatbekasi.com/wp-content/uploads/2026/08/wp-17859026081444289599378654225515.jpg?resize=225%2C129&ssl=1)


![Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto (kedua dari kanan), saat menghadiri penandatanganan komitmen bersama pencegahan korupsi tata ruang dengan KPK dan ATR/BPN, yang disaksikan oleh Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (tengah), di Kota Cimahi, Selasa (04/08/2026). [Dokumentasi Pemkot Bekasi/RakyatBekasi.Com]](https://i0.wp.com/rakyatbekasi.com/wp-content/uploads/2026/08/wp-17858890012001387556294574205447.jpg?resize=225%2C129&ssl=1)

