Mengapa Peringkat Indeks Kota Toleran (IKT) Kota Bekasi Mengalami Fluktuasi Tajam dalam Tiga Tahun Terakhir?
Fluktuasi tajam peringkat Indeks Kota Toleran (IKT) Kota Bekasi dalam tiga tahun terakhir disebabkan oleh perubahan dinamika regulasi lokal, eskalasi ketegangan selama tahun politik, serta penilaian ketat terhadap respons aparatur pemerintah daerah dalam memitigasi letupan intoleransi.
Berdasarkan data historis yang dirilis oleh SETARA Institute, performa kerukunan di Kota Bekasi menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis. Kota Bekasi sempat mencatat prestasi gemilang dengan bertengger di peringkat ketiga nasional pada tahun 2022, kemudian melesat menempati peringkat kedua pada penilaian IKT tahun 2023 dengan skor 6,460.
Namun, pencapaian tersebut anjlok secara drastis ke peringkat ketujuh pada tahun 2024, sebelum akhirnya berhasil merangkak naik sedikit ke peringkat kelima pada peluncuran IKT tahun 2025 dengan skor akhir 6,037.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penurunan performa pada IKT 2024 (yang diumumkan pada pertengahan 2025) menjadi peringatan keras bagi Pemkot Bekasi dan jajaran FKUB.
SETARA Institute mencatat adanya stagnasi toleransi di sejumlah daerah yang berkorelasi langsung dengan suhu politik nasional dan daerah, di mana regulasi diskriminatif maupun kelambanan penanganan konflik SARA memengaruhi skor secara signifikan.
Saat ini, Kota Bekasi dengan skor 6,037 tertinggal dari kota-kota lain yang mendominasi peringkat atas. Berikut adalah konstelasi peringkat 10 besar IKT 2025:
| Peringkat | Nama Kota | Provinsi | Skor IKT 2025 |
| 1 | Kota Salatiga | Jawa Tengah | 6,492 |
| 2 | Kota Singkawang | Kalimantan Barat | 6,391 |
| 3 | Kota Semarang | Jawa Tengah | 6,160 |
| 4 | Kota Pematangsiantar | Sumatera Utara | 6,084 |
| 5 | Kota Bekasi | Jawa Barat | 6,037 |
| 6 | Kota Sukabumi | Jawa Barat | 5,973 |
| 7 | Kota Magelang | Jawa Tengah | 5,805 |
| 8 | Kota Kediri | Jawa Timur | 5,792 |
| 9 | Kota Tegal | Jawa Tengah | 5,733 |
| 10 | Kota Surakarta | Jawa Tengah | 5,690 |
Sumber Data: Peluncuran IKT 2025 oleh SETARA Institute.
Fluktuasi ini menegaskan bahwa predikat kota toleran bukanlah status permanen yang bisa dibanggakan tanpa perlakuan berkesinambungan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi Junaedi sebelumnya menegaskan bahwa pemeringkatan ini bukan sekadar tentang penghargaan, melainkan manifestasi nyata perlindungan kemanusiaan yang harus terus diperjuangkan oleh seluruh lapisan birokrasi.
Oleh karena itu, target peningkatan IKT yang dibebankan Wali Kota Bekasi kepada FKUB periode 2026-2031 menuntut kinerja yang menyentuh akar permasalahan sosiologis warga, alih-alih sekadar menyelesaikan tugas administratif rutin.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


















