GMNI Kritik Keras Wali Kota Jaktim Soal Polusi Udara di Kawasan Industri Pulogadung

- Jurnalis

Selasa, 10 Februari 2026 - 16:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas industri di kawasan Pulogadung yang menyumbang emisi karbon tinggi di perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi, menjadi sorotan DPC GMNI, Senin (09/02/2026). (Ilustrasi)

Aktivitas industri di kawasan Pulogadung yang menyumbang emisi karbon tinggi di perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi, menjadi sorotan DPC GMNI, Senin (09/02/2026). (Ilustrasi)

Poin Utama:

  • Kritik “Mooi Indië”: GMNI menilai Wali Kota Jakarta Timur hanya fokus pada estetika visual kota (taman/tata ruang) namun abai pada pengendalian polusi udara yang akut.
  • Data Emisi: Kawasan Industri Pulogadung menyumbang sekitar 14% polutan udara, diperparah dengan lemahnya pengawasan emisi cerobong.
  • Temuan Lapangan: Operasi di Cakung menemukan puluhan kendaraan industri gagal uji emisi, membuktikan rendahnya political will pemerintah kota.
  • Tuntutan: Mendesak inspeksi emisi yang kaku (rigid), transparansi data kualitas udara, dan kolaborasi lintas sektoral.

​Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Jakarta Timur melayangkan kritik tajam terhadap kinerja Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin.

Organisasi mahasiswa ini menilai kepemimpinan Munjirin terjebak dalam romantisme “Mooi Indië”, di mana estetika tata kota dipoles indah secara visual namun gagal menangani secara struktural masalah polusi industri yang mencekik warga di perbatasan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Apa yang Dimaksud Kritik “Mooi Indië” ala Wali Kota?

​GMNI menggunakan metafora “Mooi Indië” (Hindia Molek) untuk menggambarkan gaya kepemimpinan yang dianggap memprioritaskan kosmetik kota di atas substansi kesehatan publik.

Istilah ini merujuk pada mentalitas kolonial yang hanya menonjolkan keindahan alam Nusantara untuk memuaskan mata, sembari menyembunyikan penderitaan rakyat di baliknya.

​Dalam konteks Jakarta Timur, hal ini terlihat dari penataan ruang publik dan taman yang rapi, namun berbanding terbalik dengan kualitas udara yang buruk akibat asap industri.

​”Kepemimpinan tidak diukur dari penampilan luar yang elok, tetapi keberpihakan nyata pada penderitaan rakyat,” tegas Wakil Ketua Bidang Analisa Isu dan Kajian Strategis DPC GMNI Jakarta Timur, Mufty Arya Dwitama, kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangan tertulisnya, Selasa (10/02/2026).

​Seberapa Parah Data Polusi di Jakarta Timur?

​Berdasarkan kajian GMNI Jakarta Timur pada awal tahun 2026, terdapat paradoks nyata antara klaim keberhasilan pemerintah kota dengan fakta lapangan.

Lemahnya pengawasan wilayah menjadi sorotan utama, terutama di kawasan industri yang berbatasan langsung dengan permukiman warga.

​Berikut adalah temuan data faktual yang disorot GMNI:

  • Emisi Industri: Kawasan Industri Pulogadung (JIEP) menyumbang sekitar 14% dari total polutan udara di Jakarta. Koordinasi pengawasan pemantau emisi cerobong (CEMS) dinilai masih pasif.
  • Logistik & Transportasi: Operasi gabungan di Kecamatan Cakung konsisten menemukan puluhan kendaraan operasional industri yang gagal uji emisi.
  • Status Udara: Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di titik vital Jakarta Timur kerap menunjukkan kategori “Tidak Sehat”, meningkatkan risiko ISPA bagi warga.

​Apa Tuntutan Mahasiswa Terkait “Political Will”?

​Mufty menegaskan bahwa political will (kemauan politik) seorang Wali Kota harus melampaui sekadar wewenang formal administratif.

Meskipun regulasi strategis ada di level pusat atau provinsi, Wali Kota memegang mandat penuh atas koordinasi wilayah dan respons terhadap aduan warga.

​GMNI menuntut Pemkot Jakarta Timur untuk melakukan:

  • Pengawasan Rigid: Inspeksi mendadak dan berkala terhadap cerobong pabrik dan kendaraan logistik.
  • Respons Cepat: Penanganan instan atas laporan warga terkait bau menyengat atau asap tebal.
  • Transparansi: Membuka data kualitas udara secara jujur agar publik sadar akan risiko kesehatan yang dihadapi.

​”Jakarta Timur hari ini membutuhkan kota yang aman untuk dihirup, bukan sekadar kota yang cantik untuk difoto. Tanpa keberanian mengoordinasikan pengawasan industri, estetika yang dipamerkan hanyalah Mooi Indië versi birokrasi,” pungkas Mufty.

​Kritik ini menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur untuk menyeimbangkan pembangunan fisik dengan perlindungan lingkungan hidup, demi keselamatan napas jutaan warganya.

Apakah Anda warga Bekasi yang sering melintas atau bekerja di kawasan industri Pulogadung dan Cakung? Bagaimana kualitas udara yang Anda rasakan? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar!


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kejagung Ambil Alih Kasus Dugaan Korupsi Rp278 Miliar KSO PD Migas Kota Bekasi dan Foster Oil
Siap-Siap! Kejari Bidik Tersangka Baru Pungli MCK Pasar Bantargebang
Tinggal Finishing, DBMSDA Kota Bekasi Optimis Proyek Jembatan Kemang Pratama Segera Rampung
Jika Tak Berani Usut Tuntas Mafia SPMB 2026, GMNI Desak Wali Kota Bekasi Pakai Rok Saja
Skandal SPMB Kota Bekasi 2026, GMNI: Batalkan Siswa Jalur Siluman dan Titipan Anggota DPRD
Pemkot Bekasi Tolak Bela Pejabat Tersangka Pungli MCK Pasar Bantargebang!
Kejari Bekasi Libatkan Ahli Forensik Bongkar Pungli MCK Pasar Bantargebang
Bekasi Utara Peringkat Kelima Penjudi Online Terbanyak se-Jabodetabek! Ini Kata Wali Kota Tri Adhianto
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 08:46 WIB

Kejagung Ambil Alih Kasus Dugaan Korupsi Rp278 Miliar KSO PD Migas Kota Bekasi dan Foster Oil

Jumat, 17 Juli 2026 - 08:18 WIB

Siap-Siap! Kejari Bidik Tersangka Baru Pungli MCK Pasar Bantargebang

Jumat, 17 Juli 2026 - 07:35 WIB

Tinggal Finishing, DBMSDA Kota Bekasi Optimis Proyek Jembatan Kemang Pratama Segera Rampung

Kamis, 16 Juli 2026 - 20:10 WIB

Jika Tak Berani Usut Tuntas Mafia SPMB 2026, GMNI Desak Wali Kota Bekasi Pakai Rok Saja

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:55 WIB

Pemkot Bekasi Tolak Bela Pejabat Tersangka Pungli MCK Pasar Bantargebang!

Berita Terbaru

BAPAK PENDIDIKAN AGAMA: Suasana lalu lintas dan aktivitas masyarakat di sekitar Jalan K.H. Wahid Hasyim yang terletak di kawasan Menteng, tidak jauh dari Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. Nama jalan strategis ini didedikasikan untuk menghormati Pahlawan Nasional K.H. Abdul Wahid Hasyim, arsitek Piagam Jakarta, ayahanda Gus Dur, sekaligus Menteri Agama pertama Republik Indonesia yang memelopori integrasi kurikulum pendidikan nasional. (Foto: Ilustrasi/RakyatBekasi.com)

Ekstra

Sejarah Jalan KH Wahid Hasyim: Menteri Agama Pertama RI

Jumat, 17 Jul 2026 - 03:47 WIB

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x