Marhaenis Kota Bekasi Siap Jawab Tantangan Zaman dengan Spirit Trisakti Bung Karno

- Jurnalis

Rabu, 1 Oktober 2025 - 12:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BEKASI – Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GmnI) Kota Bekasi menyerukan refleksi mendalam terhadap peristiwa Gerakan 30 September (G30S) dan Gerakan Satu Oktober (Gestok) sebagai pelajaran fundamental bagi kaum marhaenis.

Dalam momentum Konferensi Cabang (Konfercab) ke-3, PA GmnI Kota Bekasi menegaskan komitmennya untuk menjawab tantangan zaman dengan berlandaskan ideologi Marhaenisme warisan Bung Karno.

​Ketua Pelaksana Konfercab 3 PA GmnI Kota Bekasi, Bung Jesa, menyatakan bahwa tragedi G30S bukanlah sekadar perebutan kekuasaan elit, melainkan sebuah luka mendalam bagi rakyat kecil yang menjadi korban utama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​”G30S dan Gestok bukan sekadar catatan dingin dalam buku sejarah. Itu adalah tragedi besar bagi rakyat kecil. Kaum tani dibungkam, buruh dituduh, mahasiswa ditakut-takuti, dan jutaan marhaen dijadikan korban fitnah serta pembantaian,” ujar Bung Jesa dalam keterangan resminya.

Belajar dari Sejarah: Tragedi G30S sebagai Peringatan Abadi

​Menurut Bung Jesa, peristiwa kelam tersebut menjadi titik balik yang mematahkan garis perjuangan revolusi Bung Karno. Ia menyoroti bagaimana ideologi Trisakti—berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan—digantikan oleh model pembangunan yang membuka pintu bagi modal asing.

​”Artinya, ketika elit saling berebut kuasa, yang paling menderita selalu rakyat jelata,” tegasnya. “Garis revolusi Bung Karno, garis yang membela marhaen, dipatahkan oleh Gestok.”

PA GmnI Kota Bekasi, kata dia, memandang sejarah ini sebagai guru terbaik. Tragedi G30S menjadi peringatan abadi bahwa kedaulatan rakyat adalah kunci.

Tanpa kendali atas tanah, alat produksi, dan arah politik, rakyat akan selalu rentan menjadi korban permainan elit.

Tugas Sejarah Kaum Marhaenis Saat Ini

​Dari refleksi sejarah tersebut, PA GmnI merumuskan tugas utama kaum marhaenis di era kontemporer. Tugas ini bukan lagi sekadar meratapi masa lalu, melainkan mengambil pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih adil.

​”Maka tugas kita hari ini jelas: mengambil pelajaran dari darah dan air mata sejarah, menyambung kembali cita-cita Bung Karno, membela marhaen, menegakkan kedaulatan rakyat, dan memastikan bahwa kekuasaan tidak lagi jadi permainan elit,” papar Bung Jesa.

Menjawab Tantangan Zaman dengan Ideologi Trisakti

Menghadapi tantangan globalisasi dan dinamika zaman yang terus berubah, PA GmnI Kota Bekasi menegaskan bahwa Marhaenisme bukanlah ideologi usang.

Sebaliknya, Trisakti Bung Karno diyakini sebagai jawaban paling relevan untuk mengangkat derajat bangsa.

​”Kita adalah marhaenis! Kita tidak tunduk pada modal asing, tidak menyerah pada arus zaman, tetapi justru menjawab tantangan zaman dengan keberanian dan kemandirian,” serunya.

Tiga Pilar Perjuangan Marhaenis

​Semangat perjuangan tersebut diwujudkan melalui tiga pilar utama Trisakti yang menjadi pedoman gerakan:

  • Berdaulat di Bidang Politik: Memastikan setiap keputusan politik berpihak pada kepentingan nasional dan rakyat banyak.
  • Berdikari di Bidang Ekonomi: Membangun kekuatan ekonomi nasional yang mandiri dan tidak bergantung pada kekuatan asing.
  • Berkepribadian dalam Kebudayaan: Mempertahankan dan mengembangkan jati diri bangsa di tengah arus budaya global.

Penegasan Sikap: Marhaenisme Adalah Masa Depan

​Sebagai penutup, Bung Jesa menegaskan bahwa semangat Marhaenisme akan terus hidup dan relevan. PA GmnI Kota Bekasi siap menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan cita-cita tersebut.

​”Dengan semangat itu, kita tegaskan: marhaenis bukan masa lalu yang terkubur, melainkan masa depan yang terus hidup. Kita siap menjawab tantangan global, mengangkat derajat bangsa, dan memastikan bahwa Indonesia benar-benar menjadi rumah yang adil dan makmur bagi seluruh rakyatnya,” pungkasnya.

​Bagaimana pandangan Anda tentang relevansi ideologi Marhaenisme dalam menghadapi tantangan ekonomi dan politik Indonesia saat ini? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah ini.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Targetkan 30 Ribu Pelanggan, Perumda Tirta Bhagasasi Tarumajaya Tekan Kebocoran Air
Nasib Banpres FO Bulak Kapal Menggantung, Pemkot Bekasi Tunggu Pusat
Awas Hewan Kurban Sakit! Sekda Junaedi Perintahkan Tim Medis Sisir 12 Kecamatan
CFD Baru Kota Bekasi Sasar Alun-Alun, Sekda Wanti-Wanti Macet!
Kualitas Udara Kota Bekasi Tidak Sehat, AQI Pagi Ini Tembus 153
Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan di SPMB 2026, Pemkot Bekasi Pangkas Kapasitas Rombel SMPN
Panti Pijat ‘Be Glow’ Diduga Pakai Izin Bodong
Jadi Syarat Wajib dalam SPMB 2026, Disdukcapil Kota Bekasi Gencarkan Pembuatan KIA
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 14:36 WIB

Targetkan 30 Ribu Pelanggan, Perumda Tirta Bhagasasi Tarumajaya Tekan Kebocoran Air

Senin, 11 Mei 2026 - 12:00 WIB

Nasib Banpres FO Bulak Kapal Menggantung, Pemkot Bekasi Tunggu Pusat

Senin, 11 Mei 2026 - 11:10 WIB

Awas Hewan Kurban Sakit! Sekda Junaedi Perintahkan Tim Medis Sisir 12 Kecamatan

Senin, 11 Mei 2026 - 10:08 WIB

CFD Baru Kota Bekasi Sasar Alun-Alun, Sekda Wanti-Wanti Macet!

Minggu, 10 Mei 2026 - 15:20 WIB

Fokus Tingkatkan Mutu Pendidikan di SPMB 2026, Pemkot Bekasi Pangkas Kapasitas Rombel SMPN

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x