Menguak Sejarah Intelijen Indonesia: Kisah Jenderal Soemitro Tegur Keras Ali Moertopo karena Isu Cawe-Cawe Kekuasaan

- Jurnalis

Minggu, 6 September 2026 - 16:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.

Ilustrasi.

  • ​Dinamika sejarah intelijen Indonesia mencatat adanya friksi dan isu rivalitas antara Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo pada masa Orde Baru.
  • ​Ali Moertopo selaku Kepala Operasi Khusus (Opsus) yang berbintang dua, kerap menabrak struktural kerja intelijen formal berbekal mandat langsung dari Presiden.
  • ​Jenderal Soemitro (Wapangkopkamtib/Wapangab berbintang empat) membantah keras isu rivalitas karena rentang kepangkatan yang terlampau jauh.
  • ​Kisah ini merefleksikan fenomena “cawe-cawe” dan sikap petentengan sejumlah oknum aparat di lingkar kekuasaan yang ternyata sudah mengakar sejak masa lalu.

​DUNIA TELIK SANDI atau intelijen di Indonesia selalu menyimpan catatan sejarah kelam serta intrik perebutan pengaruh di lingkar kekuasaan.

Salah satu fragmen paling menonjol adalah isu rivalitas antara dua tokoh sentral Orde Baru, yakni Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo.

​”Dunia telik sandi Indonesia, tidak bisa dipisahkan dengan satu nama, yaitu Ali Moertopo. Sosok ini benar-benar legenda,” kata peminat dunia intelijen, Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangan tertulisnya, Minggu (06/09/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Menggali Fakta Kelam Sejarah Intelijen Indonesia di Era Orde Baru

​Mengapa Muncul Isu Rivalitas antara Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo?

​Munculnya isu rivalitas ini bermula dari peran Ali Moertopo sebagai Kepala Operasi Khusus (Opsus) yang juga menjabat sebagai Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto.

Kerap kali, pergerakan Ali menabrak sistem kerja lembaga struktural formal yang sudah ada.

​Mengatasnamakan perintah langsung dari kepala negara, manuver Opsus kadang melampaui wewenang institusi seperti Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).

Kondisi inilah yang memicu perbincangan diam-diam di kalangan para pejabat ring satu mengenai rivalitasnya dengan Jenderal Soemitro, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib).

​Syahrul bahkan memberikan catatan kritis terhadap sepak terjang Ali Moertopo. Menurutnya, sosok tersebut memiliki rekam jejak kontroversial, termasuk cap sebagai Kepala Opsus perusak Islam pada masa itu.

​Bagaimana Reaksi Jenderal Soemitro Terhadap Sikap Ali Moertopo?

​Sebagai sosok jenderal yang dikenal blak-blakan, Soemitro awalnya tidak menggubris desas-desus tersebut.

Namun, lambat laun ia merasa gelisah karena manuver Ali semakin kentara, hingga akhirnya ia memanggil dan menegur langsung juniornya tersebut.

​Soemitro menegaskan bahwa secara hierarki militer, jarak keduanya terlalu jauh untuk bisa disebut sebagai rival.

Soemitro adalah jenderal berbintang empat yang memegang kendali keamanan negara tanpa ambisi politik pribadi, sedangkan Ali masih berbintang dua.

​”Li, suara di luar mengatakan kamu rival saya. Itu tidak bisa, saya ini masih militer, tak punya tujuan politik. Kamu bintang dua, saya bintang empat. Kamu Deputi Bakin, saya Pangkopkamtib dan Wapangab. Jarak kita terlalu jauh untuk jadi rival. Tapi, kalau kamu mau jadi presiden, itu hakmu,” tegas Soemitro seperti dikutip Syahrul dari buku catatan sang Jenderal.

Mendengar hal itu, Ali Moertopo langsung membantahnya dan mengklaim tidak memiliki ambisi sebesar itu.

​Apa Dampak dan Pelajaran dari Sejarah Intelijen Ini bagi Masa Kini?

​Dari potret sejarah ini, publik dapat memetik pelajaran bahwa fenomena cawe-cawe di lingkungan dinas kemiliteran bukanlah barang baru di Indonesia.

Sikap haus kekuasaan yang terkadang diperlihatkan oleh figur non-puncak kerap memicu ketidakseimbangan struktural.

​”Kalau sekarang ada di antara tentara yang pangkatnya belum jenderal seolah petentengan, dahulu hal semacam itu juga pernah terjadi,” pungkas Syahrul.

​Ketegasan hirarki seperti yang ditunjukkan oleh Jenderal Soemitro sangat dibutuhkan untuk menjaga muruah, kedisiplinan, dan fungsi profesional lembaga negara agar tidak dijadikan alat kepentingan individu.

​Kisah ketegangan antara Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo menjadi pengingat berharga bahwa profesionalisme dalam sistem pertahanan dan keamanan negara mutlak diperlukan. Intrik kekuasaan tidak boleh sampai mengorbankan hierarki maupun konstitusi yang berlaku.

​Ingin membaca ulasan sejarah, dinamika politik, dan isu pemerintahan lainnya? Baca terus informasinya di RakyatBekasi.Com.

Silakan bagikan artikel ini jika bermanfaat, dan sampaikan pandangan Anda di kolom komentar. Jangan lupa untuk mengikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi di [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar Anda selalu update dengan berita-berita eksklusif dan mendalam.


Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Penulis : Syahrul E Dasopang

Editor : Bung Ewox

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Panas! Musda Golkar Kota Bekasi Jadi Bola Liar, Pertarungan Dua Srikandi Bikin Penguasa Ketar-ketir
Mengupas Tuntas Politik Gerakan Islam: Dari Target Intelijen Orde Baru Hingga Terjebak Jadi Proksi Kekuasaan
Tragedi Aksi 27 Agustus 2026: Yusuf Blegur Sebut Ada Pengalihan Isu dan Politik Adu Domba Rezim
Ironi Defisit APBD Kota Bekasi: Pesta Besar PNBK Jilid 3 Digelar, Nasib Gaji PPPK Dipertanyakan
​Krisis Kepemimpinan: Mengapa Banyak Pemimpin Berlaku Arogan kepada Rakyat?
Awas Hoaks AI Tunggangi Aksi Demonstrasi 27 Agustus 2026
Dilema Prabowo dan Manuver Jokowi: RUU Perampasan Aset Picu Perang Proksi
Transformasi Konflik Daerah: Ancaman Nyata Keutuhan NKRI
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 16:55 WIB

Menguak Sejarah Intelijen Indonesia: Kisah Jenderal Soemitro Tegur Keras Ali Moertopo karena Isu Cawe-Cawe Kekuasaan

Jumat, 4 September 2026 - 11:35 WIB

Panas! Musda Golkar Kota Bekasi Jadi Bola Liar, Pertarungan Dua Srikandi Bikin Penguasa Ketar-ketir

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:02 WIB

Mengupas Tuntas Politik Gerakan Islam: Dari Target Intelijen Orde Baru Hingga Terjebak Jadi Proksi Kekuasaan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:52 WIB

Tragedi Aksi 27 Agustus 2026: Yusuf Blegur Sebut Ada Pengalihan Isu dan Politik Adu Domba Rezim

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:45 WIB

Ironi Defisit APBD Kota Bekasi: Pesta Besar PNBK Jilid 3 Digelar, Nasib Gaji PPPK Dipertanyakan

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x