- Kisah Heroik Srikandi: Cut Nyak Meutia gigih melawan pasukan khusus penjajah Belanda (Marechausée) melalui taktik gerilya di rimba Aceh.
- Sumpah Tiga Pernikahan: Rela bercerai karena menolak bersuamikan pria kompromis, lalu berjuang bersama Teuku Cik Tunong dan Pang Nanggroe.
- Pertempuran Akhir: Gugur sebagai syuhada di Alue Kurieng pada 24 Oktober 1910 usai menolak keras perintah untuk menyerah.
- Ikon Sejarah & Rupiah: Diabadikan menjadi nama jalan dan masjid megah di Menteng, serta wajahnya menghiasi uang kertas pecahan Rp1.000.
Menyambung estafet literasi sejarah naskah ketigabelas menuju perayaan HUT RI ke-81, Seniman Kemerdekaan asal Kota Bekasi, Zenza TekSas, merilis tulisan terbarunya pada Rabu (15/07/2026).
Karya edukatif ini mengupas tuntas sosok pahlawan nasional di balik megahnya nama Masjid Cut Meutia dan Jalan Cut Meutia di Menteng, Jakarta Pusat.
Srikandi tangguh dari daratan Aceh ini tercatat menolak segala bentuk kompromi dengan penjajah demi menjaga martabat bangsa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Siapa Sebenarnya Sosok Cut Nyak Meutia di Balik Nama Masjid Menteng?
Bagi Anda yang sering melintas atau beraktivitas di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, keberadaan Masjid Cut Meutia tentu sudah tidak asing lagi.
Berdiri megah di sepanjang Jalan Cut Meutia, bangunan berarsitektur kolonial yang ikonik ini setiap harinya selalu dipadati oleh jemaah ibu kota.
”Nama ‘Meutia’ dalam bahasa Aceh berarti ‘mutiara’,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Rabu (15/07/2026).
Lahir di Aceh Utara pada tahun 1870 dari latar belakang keluarga ulama dan pemimpin lokal, Cut Nyak Meutia tumbuh menjadi perempuan berparas anggun namun memiliki hati baja.
Bagi pahlawan nasional ini, kemerdekaan tanah air adalah harga mati yang tidak bisa ditawar maupun ditukar dengan kenyamanan hidup di bawah telapak kaki kolonialisme.
Bagaimana Kisah Tiga Pernikahan Cut Meutia di Tengah Bara Perang?
Perjalanan hidup Cut Nyak Meutia merupakan lembaran epik tentang cinta, kesetiaan, dan perang yang membara di rimba raya Aceh.
Kisah asmara dan perjuangannya saling berkelindan sangat erat di medan pertempuran:
- Menolak Kompromi: Ia sempat dijodohkan dengan Teuku Syamsarif, namun pernikahan tersebut kandas karena Meutia memilih bercerai. Ia tidak sudi bersuamikan pria yang berkompromi dan rela bekerja sama dengan penjajah Belanda.
- Sumpah Setia di Rimba Gerilya: Ia kemudian menikah dengan Teuku Cik Tunong. Bersama-sama, mereka memimpin pasukan gerilya mengacaukan pertahanan musuh hingga sang suami dieksekusi mati pada 1905.
- Melanjutkan Perlawanan: Menjalankan wasiat almarhum suaminya, ia menikahi sang sahabat, Pang Nanggroe, untuk meneruskan perjuangan. Sayangnya, Pang Nanggroe juga harus gugur dalam pertempuran sengit pada September 1910.
Kapan Cut Meutia Gugur dan Apa Saja Warisan Sejarahnya Bagi Bangsa?
Kehilangan dua belahan jiwa di medan perang tidak membuat Cut Meutia gentar sedikit pun. Mengambil alih tongkat komando penuh, perempuan tangguh ini memimpin langsung sisa pasukannya menembus pedalaman hutan.
Mereka harus bertahan dari lapar dan kelelahan sembari terus diburu oleh pasukan khusus Belanda, Marechausée.
Puncak perlawanannya terjadi pada 24 Oktober 1910 di wilayah Alue Kurieng. Meski dalam kondisi terkepung rapat, ia menolak keras untuk menyerah.
Cut Meutia bertempur dengan sisa tenaganya hingga sebutir peluru musuh menghentikan langkahnya, menjadikannya syuhada yang membela tanah air hingga embusan napas terakhir.
Atas keberaniannya yang luar biasa, pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahi Cut Nyak Meutia gelar Pahlawan Nasional pada 2 Mei 1964.
Kini, paras anggun sang srikandi Aceh tidak hanya diabadikan di Menteng, tetapi juga rutin kita jumpai menghiasi lembaran uang kertas pecahan Rp1.000 sebagai pengingat harian tentang mahalnya harga sebuah kemerdekaan.
Perjuangan Cut Nyak Meutia menjadi saksi bisu bahwa keteguhan prinsip jauh lebih berharga dibandingkan kemewahan sesaat.
Jalan protokol dan masjid ikonik yang menggunakan namanya di ibu kota merupakan monumen abadi atas pengorbanan darah dan air mata di medan gerilya.
Bagaimana ketangguhan srikandi Aceh ini menginspirasi jiwa patriotisme Anda? Sampaikan pandangan Anda di kolom komentar! Pastikan Anda membagikan artikel ini dan ikuti terus rangkaian eksklusif 45 Tokoh Bangsa di Balik Nama Jalan Protokol karya Zenza TekSas hanya di RakyatBekasi.com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







