Raden Saleh Sjarif Boestaman adalah pelopor seni rupa modern Indonesia beraliran Romantisisme yang diakui di kancah internasional. Beliau dikenal sebagai pelukis kerajaan di Eropa dan menghasilkan karya revolusioner seperti Penangkapan Pangeran Diponegoro. Karya tersebut menjadi simbol perlawanan diplomasi seni terhadap narasi kolonial Belanda pada masa penjajahan.
Jejak sejarah sang maestro diabadikan melalui penamaan Jalan Raden Saleh di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Bekas kediaman pribadinya telah dihibahkan dan kini berfungsi sebagai Rumah Sakit PGI Cikini. Warisan ini menjadi bukti nyata kontribusi besar Raden Saleh bagi dunia seni rupa serta semangat nasionalisme bangsa Indonesia.
Menjelang peringatan hari kemerdekaan, Seniman Kemerdekaan sekaligus peraih rekor MURI, Zenza TekSas, kembali merilis ulasan sejarahnya pada Rabu (22/07/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Naskah terbarunya mengupas tuntas memori kolektif bangsa di balik penamaan Jalan Raden Saleh di kawasan Cikini dan Menteng, Jakarta Pusat.
Pahlawan beraliran Romantisisme ini bukan sekadar sosok di papan jalan, melainkan pelopor seni rupa modern Nusantara yang mahakaryanya sukses mendobrak hegemoni kerajaan Eropa.
Mengungkap Sejarah Jalan Raden Saleh di Pusat Jakarta
Siapa Sebenarnya Raden Saleh di Balik Nama Jalan Cikini?
Berjalan-jalan di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, tepatnya di sekitar area Cikini dan Taman Ismail Marzuki, kita tentu sudah tidak asing lagi dengan keberadaan Jalan Raden Saleh. Ruas jalan ini membentang sebagai salah satu pusat keramaian historis di ibu kota.
”Pemilihan nama ini bukan sekadar penanda jalan biasa, melainkan sebuah bentuk penghormatan abadi kepada salah satu putra bangsa paling gemilang dalam sejarah seni rupa dunia: Raden Saleh Sjarif Boestaman,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Rabu (22/07/2026).
Lahir dari keluarga bangsawan Jawa di Terboyo, Semarang, sekitar tahun 1811, Raden Saleh menempuh perjalanan hidup yang luar biasa.
Ia dikirim ke Belanda pada 1829 untuk mendalami seni lukis dan di bawah didikan maestro-maestro Eropa, ia tumbuh bermetamorfosis menjadi pelopor seni lukis modern beraliran Romantisisme.
Bagaimana Perjalanan Raden Saleh Menjadi Pelukis Raja Eropa?
Berkat bakat, dedikasi, dan kejeniusannya, pahlawan seni ini mendapatkan kehormatan untuk melayani serta diterima secara terbuka di berbagai lingkaran elite kerajaan di Benua Biru.
Kiprahnya membentang luas menembus batas negara mulai dari Belanda, Prancis, hingga Jerman, menjadikannya maestro yang sangat disegani di kancah internasional.
Dedikasinya pada detail anatomi terbukti sangat totalitas. Ia dikenal lewat karya-karya perburuan liar yang dramatis dan bahkan rela menyelinap ke belakang panggung sirkus atau pertunjukan hewan di Den Haag demi mempelajari postur otot harimau serta singa secara langsung.
Totalitas inilah yang membuahkan karya multimiliar berkelas dunia seperti “Perburuan Banteng” (1855) dan “Perburuan Rusa” (1846) yang memecahkan rekor lelang fantastis.
Apa Makna Perlawanan di Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro?
Raden Saleh tidak sekadar menggoreskan keindahan visual, tetapi juga menyelipkan nilai perlawanan politik dan martabat bangsa.
Mahakaryanya yang bertajuk “Penangkapan Pangeran Diponegoro” (1858) merupakan karya revolusioner yang sengaja dibuat untuk membalikkan narasi penjajah.
Berbeda dari versi lukisan seniman Belanda, Nicolaas Pieneman, yang menggambarkan sang pangeran seolah pasrah menyerah, Raden Saleh dengan berani melukiskan Pangeran Diponegoro berdiri berwibawa.
Sorot mata yang penuh ketegasan dalam lukisan tersebut menjadi simbol perlawanan abadi terhadap keangkuhan kolonialisme.
Di Mana Sisa Warisan Sejarah Raden Saleh di Jakarta Saat Ini?
Warisan sang maestro tidak hanya hidup abadi di atas lembaran kanvas bernilai tinggi yang tersebar di museum global, tetapi juga tertanam kuat di atas tanah Jakarta. Jejak sejarah tersebut masih bisa kita saksikan fungsinya di kawasan Cikini.
Rumah peristirahatan pribadinya yang sangat megah kini telah bertransformasi menjadi sarana kesehatan publik.
Bangunan bernilai sejarah tinggi tersebut dulunya dihibahkan oleh sang istri dan kini terus beroperasi melayani masyarakat sebagai Rumah Sakit PGI Cikini.
Melalui penamaan Jalan Raden Saleh, ingatan kolektif kita terus dijaga agar senantiasa mengenang sosok visioner yang berhasil membawa nama Nusantara harum di panggung dunia. Ia meramu kejeniusan seni tingkat tinggi dengan jiwa nasionalisme yang tak pernah padam.
Bagaimana pandangan Anda terhadap karya revolusioner sang “Pelukis Raja” ini? Sampaikan apresiasi Anda di kolom komentar! Jangan lupa bagikan artikel inspiratif ini ke media sosial Anda dan ikuti terus ulasan sejarah dari Zenza TekSas secara eksklusif hanya di RakyatBekasi.com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







