Ironi Kaum Miskin Urban: Tergilas Sistem, Tidur pun Harus Bergantian

- Jurnalis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Jutaan penduduk miskin perkotaan terjebak dalam kemiskinan struktural yang menindas. Kepadatan hunian yang ekstrem memaksa warga di kawasan padat penduduk untuk berbagi tempat tidur secara bergantian. Kondisi ini diperburuk oleh tekanan ekonomi dan terbatasnya ruang hidup yang mengancam kesejahteraan fisik serta mental kelompok rentan di kota besar.

Pergantian kepemimpinan politik dinilai belum membawa perubahan nyata bagi nasib masyarakat marginal. Diperlukan intervensi kebijakan yang memihak serta dukungan psikologis untuk memulihkan kepercayaan diri warga. Kolaborasi antarwarga dan kesadaran kolektif menjadi kunci penting dalam memutus rantai ketidakberdayaan dan mengatasi permasalahan sosial di wilayah perkotaan.

Kerasnya roda kehidupan di wilayah perkotaan terus menggilas kelompok rentan hingga ke titik nadir. Kaum miskin urban kini tak hanya bergelut dengan himpitan ekonomi, tetapi juga terjebak dalam pusaran ketidakberdayaan dan hilangnya harapan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena miris ini tidak hanya terjadi di jantung Ibu Kota, tetapi kian menjalar ke kota-kota penyangga, di mana ruang hidup semakin menyempit dan sistem struktural secara tak langsung menindas masyarakat kelas bawah.

​Potret Buram Kaum Miskin Urban dan Realitas Ruang Hidup

​”Jika Anda bergaul dengan orang-orang yang dilemahkan dan dimiskinkan oleh sistem Indonesia, segera Anda menyadari pikiran dan mental yang kalut dalam alam batin mereka. Si miskin tidak mengetahui sebab-sebab struktural-lah yang melipat dan menindas kehidupan mereka,” tegas Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Sabtu (25/07/2026).

​Penulis buku Penuntun Jalan Kaum Miskin ini mengurai, tekanan psikologis yang hebat muncul karena kelompok marginal dipaksa bertarung setiap saat hanya untuk bertahan hidup. Otak dan fisik mereka sudah kelelahan bekerja siang dan malam.

​Akibatnya, kaum rentan tidak lagi sanggup berpikir rumit untuk menganalisis penyebab kemiskinan mereka.

Mereka akhirnya menyerah dengan keadaan, pasrah, dan secara negatif menganggap penderitaan tersebut sebagai takdir semata.

​Mengapa Ruang Tidur pun Harus Bergantian Laksana Shift Pabrik Cikarang?

​Kepadatan penduduk dan minimnya akses terhadap hunian layak menjadi pemicu utama krisis ruang di wilayah perkotaan.

Di kawasan padat DKI Jakarta seperti Pasar Senen, Cempaka Putih, Kramat, hingga Kwitang, kondisi hunian tak manusiawi telah dinormalisasi dari generasi ke generasi.

​”Bayangkan, dalam satu keluarga yang berisi 5 orang, berada di rumah sempit sekali, terpaksa jika tidur malam harus gantian laksana praktik shift di pabrik Cikarang. Dari jam 8 hingga jam 12, yang menggunakan tempat tidur anak kecil dan orang tua, jam 12 hingga pagi, anak remajanya,” urai Syahrul.

​Situasi sesak tanpa harapan hidup ini berdampak fatal pada generasi muda. Remaja yang terpinggirkan sering kali tersedot ke dalam dunia kelam, memilih menjadi anggota geng kriminal, hingga terjerat kecanduan narkoba.

​Realitas ini tentu menjadi peringatan keras bagi wilayah padat penduduk di sekitarnya. Pemerintah daerah, termasuk jajaran Pemkot Bekasi dan Pemkab Bekasi, harus segera membenahi kawasan padat seperti di Rawalumbu atau Bantargebang agar fenomena serupa tidak mengakar.

​Dampak Pembiaran Penguasa Terhadap Nasib Si Miskin

​Sosiolog Dr. Musni Umar juga telah membuktikan realitas kemiskinan ekstrem ini melalui penelitiannya.

Titik-titik konsentrasi kemiskinan tidak hanya tersentralisasi di satu area, melainkan menjamur dari Jakarta Utara, Selatan, Barat, hingga Timur, dan melebar ke kota satelit.

​Mirisnya, pergantian tampuk kekuasaan tampaknya tidak pernah memberikan angin segar bagi penyelesaian akar masalah.

​”Apakah penguasa yang silih berganti itu perduli dengan mereka? Tidak. Sudah berganti beberapa gubernur, mulai dari Jokowi, Ahok, Anies, hingga sekarang Pramono. Presidennya, SBY 10 tahun, Jokowi 10 tahun, dan sekarang Prabowo. Apakah nasib mereka sudah berubah? No,” sentil Syahrul tajam.

​Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi setiap pemangku kebijakan, termasuk Wali Kota di tiap daerah, untuk berhenti melakukan pembiaran dan mulai menyentuh akar permasalahan struktural.

​Apa Solusi Mengangkat Derajat Kaum Miskin Urban?

​Di tengah apatisme penguasa, pemulihan mental dan pendampingan psikologis adalah langkah awal yang paling realistis. Masyarakat bawah sangat membutuhkan dorongan moral untuk kembali percaya diri.

​”Yang diharapkan mereka hanya memberi support dari siapa pun agar harapan masih ada. Kirimkan perasaan, keyakinan, dan kesadaran bahwa mereka sesungguhnya masih bisa berdaya,” ungkapnya.

​Namun ironisnya, di wilayah permukiman miskin, sifat individualisme sering kali lebih sengit imbas ketatnya kompetisi merebut nafkah.

Padahal, kolaborasi dan sikap saling menolong antarsesama warga adalah senjata paling ampuh untuk meruntuhkan tembok pembatas ketidakberdayaan kaum miskin urban.

Kehidupan kaum marginal yang terus terdesak harus menjadi alarm peringatan bagi seluruh elemen pemerintahan.

Tanpa adanya intervensi kebijakan yang memihak, gemerlapnya pembangunan kota hanya akan menjadi etalase penderitaan bagi masyarakat kecil.

​Bagaimana pandangan Anda melihat kondisi kawasan padat penduduk dan permukiman kumuh di sekitar lingkungan Anda?

Mari suarakan kepedulian Anda dengan membagikan artikel ini, dan tinggalkan opini kritis Anda di kolom komentar RakyatBekasi.Com!


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tobat Ekologis, Kesadaran dan Aksi Religius Universal
Fabel Syahrul E Dasopang: Sindir Keras Negara dan Oligarki
Hari Kesaktian 7 Oktober 2023: Tonggak Kebangunan Global Islam Saat Ini
Awas! Ketidakpastian Hukum Jadi Tameng Abadi Para Oligarki
Arab Saudi Serang Houthi, Monarki Teluk Terancam Runtuh?
Geopolitik Iran vs RI: Kuasai Hormuz, Lepas Selat Malaka?
Kritik Tajam Syahrul E Dasopang: Nasib Indonesia Tergantung Kualitas Umat Islam
​Refleksi 81 Tahun Republik Indonesia: Menakar Arti Merdeka di Era Modern
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:31 WIB

Ironi Kaum Miskin Urban: Tergilas Sistem, Tidur pun Harus Bergantian

Jumat, 24 Juli 2026 - 04:02 WIB

Tobat Ekologis, Kesadaran dan Aksi Religius Universal

Jumat, 24 Juli 2026 - 03:40 WIB

Fabel Syahrul E Dasopang: Sindir Keras Negara dan Oligarki

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:42 WIB

Hari Kesaktian 7 Oktober 2023: Tonggak Kebangunan Global Islam Saat Ini

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:00 WIB

Awas! Ketidakpastian Hukum Jadi Tameng Abadi Para Oligarki

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x