- Lokasi Geografis: Jalan Sultan Agung melintang strategis di sisi selatan rel kereta api kawasan Menteng, berseberangan dengan Jalan Latuharhary.
- Penguasa Mataram: Didedikasikan untuk menghormati Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga dan penguasa terbesar Kesultanan Mataram (1613–1645).
- Invasi Militer VOC: Pemimpin berdaulat yang berani mengerahkan pasukan besar untuk menggempur benteng VOC di Batavia pada 1628 dan 1629.
- Warisan Kebudayaan: Pencipta kalender Jawa pada 1633 yang meleburkan penanggalan Saka Hindu dengan Hijriah Islam, serta perintis Astana Imogiri.
Seniman Kemerdekaan sekaligus peraih rekor MURI, Zenza TekSas, kembali merilis ulasan sejarah terbarunya pada Senin (27/07/2026).
Menyoroti kawasan elite Menteng di Jakarta Pusat, naskah ini mengupas tuntas sosok pahlawan di balik ketenaran Jalan Sultan Agung.
Beliau bukan sekadar penanda jalan protokol, melainkan simbol perlawanan gigih raja terbesar Kesultanan Mataram terhadap hegemoni VOC, sekaligus sang peletak fondasi peradaban Islam-Jawa di Nusantara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menelusuri Sejarah Jalan Sultan Agung di Kawasan Menteng
Siapa Sebenarnya Sultan Agung Hanyokrokusumo?
Terletak di jantung ibu kota, kawasan Menteng menyimpan sebuah simpul geografis yang sarat akan makna historis.
Di sana, melintang jalur rel kereta api yang secara administratif membelah kawasan menjadi dua sisi jalan utama, yakni Jalan Latuharhary di utara dan Jalan Sultan Agung di sisi selatan rel.
”Nama besar yang disematkan pada jalan raya di selatan rel tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan bentuk penghormatan abadi kepada salah satu tokoh paling berpengaruh dalam lembaran sejarah Nusantara: Sultan Agung Hanyokrokusumo,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Senin (27/07/2026).
Lahir di Kotagede pada tahun 1593 dengan nama asli Raden Mas Rangsang, beliau merupakan pemimpin visioner sekaligus raja ketiga Kesultanan Mataram. Ia memerintah selama lebih dari tiga dekade (1613–1645) dan sukses membawa kerajaannya menyentuh puncak kejayaan peradaban.
Bagaimana Perlawanan Sultan Agung Terhadap Kolonial VOC?
Selama 32 tahun masa kepemimpinannya, sang raja sukses memperluas kekuasaan Mataram hingga mencakup sebagian besar wilayah Pulau Jawa.
Sebagai penguasa yang berdaulat, beliau secara konsisten menentang keras kehadiran serta monopoli dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di bumi Nusantara.
Puncak perlawanan heroik tersebut tercatat dalam sejarah ketika beliau mengerahkan pasukan besar Mataram untuk menyerang benteng pertahanan VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.
Meski harus menghadapi tantangan logistik yang luar biasa jauh, tekad dan strategi perlawanannya mencatatkan sejarah ketahanan militer yang monumental.
Demi memperkuat kedudukan politik dan spiritual kerajaannya di mata dunia Islam internasional, beliau juga sukses melancarkan diplomasi strategis dan resmi menerima gelar Sultan langsung dari Mekkah pada tahun 1641.
Apa Saja Warisan Peradaban dan Mahakarya Sultan Agung?
Sultan Agung tidak hanya dikenang sebagai seorang panglima perang yang tangguh, tetapi juga sebagai seorang negarawan ulung yang meletakkan fondasi kebudayaan.
Terdapat beberapa peninggalan peradaban penting beliau yang diwariskan hingga saat ini:
- Penciptaan Kalender Jawa: Pada tahun 1633, beliau secara jenius mengintegrasikan sistem penanggalan Saka Hindu yang berbasis matahari dengan penanggalan Hijriah Islam yang berbasis bulan, menciptakan sistem penanggalan Jawa baru.
- Pengembangan Sastra Islam-Jawa: Beliau menaruh kepedulian tinggi terhadap dunia intelektual dan mendorong lahirnya karya sastra bermutu yang memadukan nilai keislaman dan kearifan lokal di lingkungan istana.
- Kompleks Pemakaman Astana Imogiri: Beliau membangun kompleks pemakaman yang sangat megah di kawasan Imogiri, Bantul, sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi raja-raja keturunan Mataram.
Melalui warisan kepemimpinan, mahakarya kebudayaan, dan semangat juangnya yang pantang menyerah, sangat wajar jika nama Sultan Agung diabadikan secara istimewa pada salah satu jalan protokol penting di Jakarta.
Hal ini mengingatkan setiap orang yang melintas di kawasan Menteng akan kebesaran sang pejuang Mataram.
Bagaimana pendapat Anda tentang ketangguhan taktik militer Sultan Agung saat menggempur VOC di Batavia? Sampaikan pandangan Anda di kolom komentar! Sebarkan ulasan sejarah penuh inspirasi ini ke jaringan media sosial Anda dan ikuti terus rekam jejak pahlawan lainnya secara eksklusif hanya di RakyatBekasi.com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







