- Penulis buku Syahrul E Dasopang merilis tulisan kritis mengenai rentetan bencana alam sebagai teguran keras bagi keserakahan manusia, khususnya para elit politik.
- Bencana di NTT dan abu vulkanik Gunung Krakatau yang memapar Jabodetabek dinilai sebagai “pesan” kekuatan alam yang jauh melampaui arogansi penguasa.
- Kritik tajam diarahkan pada kelalaian publik yang kerap memuja kaum serakah dan abai dalam menegakkan kebenaran (amar makruf nahi munkar).
FENOMENA RENTETAN BENCANA ALAM, mulai dari gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga erupsi yang melontarkan abu vulkanik Krakatau ke wilayah Jabodetabek, bukan sekadar kejadian geologis biasa.
Penulis buku Syahrul E Dasopang memandang kejadian ini sebagai interupsi alam sekaligus teguran keras bagi kaum politisi dan penguasa serakah yang kerap menebar ancaman.
Hal ini ia sampaikan melalui catatan kritisnya menyikapi arogansi para pemegang kebijakan yang abai terhadap kelestarian semesta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Makna Tersirat di Balik Pesan Abu Vulkanik Krakatau
Syahrul menyoroti ironi perilaku politisi yang pada masa kampanye selalu menebar janji manis demi mendulang simpati, namun berbalik arah ketika sudah duduk di tampuk kekuasaan. Janji yang membumbungkan harapan setinggi langit itu kerap sirna tanpa realisasi yang jelas.
”Kalau aku terpilih, aku akan bla bla bla bla bla!” sindir Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com menirukan janji palsu politisi, Selasa (08/09/2026).
Menurutnya, setelah kaum politisi ini mengisi ruang kekuasaan dan memegang kendali nasib rakyat, mereka justru sering menjadikan kekuatannya untuk mengancam.
Fenomena ini tidak hanya menjangkiti sistem perpolitikan lokal, tetapi merata di seluruh dunia yang menganut sistem pemilihan umum.
Ia mencontohkan manuver mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kerap mengirimkan ancaman nuklir taktis secara global, termasuk kepada Iran.
Bagaimana Arogansi Politisi Membutakan Akal Sehat?
Di saat manusia sibuk menebar ancaman, alam pun akhirnya melakukan interupsi. Syahrul membandingkan arogansi para politisi dengan kekuatan bumi yang menggoyang NTT hingga meruntuhkan bangunan dan memakan korban jiwa. Baginya, letusan dan lontaran materi vulkanik Krakatau adalah cara bumi bersuara dan muak terhadap tingkah laku manusia.
Sayangnya, pesan alam dari abu vulkanik yang memapari sentra domisili para elit di Jabodetabek ini tidak serta-merta menyadarkan mereka.
Sistem logika kaum penguasa yang sangat antroposentris menganggap teguran alam tersebut sebagai sesuatu yang nonsense.
Para politisi merasa bahwa entitas yang berhak memutuskan benar atau salah hanyalah spesies manusia itu sendiri.
Mengapa Publik Harus Berhenti Memuja Penguasa Serakah?
Dalam analisisnya, Syahrul mengajak publik untuk sekadar menjadi saksi bisu dari “perang tanding” antara kekuatan bumi melawan kaum politisi yang tak punya batas nafsu untuk berkuasa.
Ia menyayangkan sikap sebagian masyarakat yang justru berlomba-lomba memuja dan menjilat kaum serakah, alih-alih menegakkan amar makruf nahi munkar.
Akibat ketidakberanian publik untuk mengoreksi keblingeran penguasa, konsekuensi bencana pun harus ditanggung bersama.
Udara yang kotor serta air minum yang tercemar oleh paparan abu vulkanik menjadi harga mahal yang harus dirasakan langsung oleh masyarakat.
Catatan opini ini menjadi renungan tajam di tengah krisis ekologi dan moral, mengingatkan bahwa alam semesta memiliki batas kesabaran terhadap keserakahan yang dipelihara oleh sistem kekuasaan.
Bagikan pandangan Anda terkait opini ini di kolom komentar dan ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar selalu update dengan berita kritis dan mendalam lainnya.
Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















