- Direktur Eksekutif IPPS, Yusuf Blegur, melontarkan kritik tajam terhadap penerbitan buku “Islam Ala Prabowo”.
- Buku tersebut dinilai miskin fakta empiris dan hanya menjadi alat rekayasa untuk merehabilitasi rekam jejak kelam di masa lalu.
- Narasi keislaman dalam buku dianggap tidak tercermin pada karakter, pemikiran, dan tindakan keseharian tokoh terkait.
- Yusuf Blegur menyarankan judul “Prabowo Seolah-Olah Islam?” sebagai alternatif yang lebih relevan dan sesuai realitas.
KEMUNCULAN BUKU BERJUDUL “ISLAM ALA PRABOWO” menuai sorotan kritis dari Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS), Yusuf Blegur.
Melalui telaahnya di Kota Bekasi pada Senin (07/09/2026), ia menilai buku tersebut tidak lebih dari sekadar rekayasa narasi untuk mencuci tangan dari sejarah kelam.
Karya tulis itu dianggap memaksakan deskripsi religius tanpa landasan empiris maupun nilai kebijaksanaan yang nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Polemik dan Kritik Buku Islam Ala Prabowo
Penilaian terhadap karya ini menyoroti ketimpangan antara narasi yang disajikan pada sampul dengan realitas isi dan rekam jejak figur yang diceritakan. Narasi kamuflase yang heroik dinilai terlalu penuh rekayasa kosmetik.
”Islam itu universal dan sebagai rahmatan lil a’lamiin. Sedangkan Prabowo itu hanya untuk dirinya sendiri, Jokowi dan keluarganya, serta oligarki dan para pengikut penjilat,” kata Yusuf Blegur kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangannya, Senin (07/09/2026).
Mengapa Buku Islam Ala Prabowo Dinilai Hanya Sebagai Kosmetik Politik?
Buku tersebut dinilai gagal menyajikan objektivitas karena isinya jauh lebih buruk dari sampulnya yang terlalu tebal dengan polesan kosmetik politik.
Yusuf Blegur menegaskan bahwa buku itu tak ubahnya sebuah karya tulis yang dipaksakan dan seolah-olah ilmiah.
Figur yang diangkat dinilai sedang berusaha mengubah wajah sejarahnya tanpa adanya kesadaran jiwa pada kelemahan sejati dalam dirinya.
”Bukan sekadar sejarah yang dikaburkan. Bukan pula cuma tentang kepalsuan diri. Apalagi terseok-seok merubah hitam menjadi putih. Figurnya tak akan mampu membeli waktu atau memulihkan luka lama yang terlanjur kering,” imbuhnya.
Apa Dampak Narasi Buku Tersebut Terhadap Fakta Sejarah dan Demokrasi?
Penerbitan buku ini dilihat oleh IPPS sebagai langkah terstruktur untuk menormalisasi sosok yang kadung memiliki catatan hitam dalam sejarah demokrasi dan konstitusi Indonesia.
Ketika ambisi kekuasaan dan hipokrisi menyatu, narasi sejarah yang kotor berpotensi diorkestrasi seolah-olah suci.
- Buku dianggap berupaya merehabilitasi rekam jejak terkait kejahatan HAM masa lalu.
- Narasi dinilai menutupi ambisi kekuasaan, nafsu bisnis, dan gila kehormatan yang berlebihan.
- Pembuatan citra baru ini dinilai melampaui batas-batas nilai kepantasan, bahkan ketika figur tersebut telah berada di pucuk kekuasaan.
”Buku Islam Ala Prabowo diterbitkan tak lebih sebagai upaya untuk merehabilitasi sekaligus menormalisasi sosok Prabowo yang kadung hitam kelam dan segelap-gelapnya dalam selimut kejahatan HAM, konstitusi, dan demokrasi masa lalu dan kekinian,” tegas Yusuf.
Benarkah Prabowo Hanya Seolah-Olah Islam Menurut Kacamata IPPS?
Kritik memuncak pada substansi keislaman yang diklaim dalam buku tersebut. Menurut Yusuf, tidak ada indikasi kuat—baik dari pikiran, ucapan, maupun tindakan—yang menegaskan keberpihakan sang figur pada kepentingan umat Islam. Kesehariannya dinilai hampa dari karakter keislaman yang otentik.
”Jika tak ada indikasi yang menegaskan pikiran, ucapan, dan tindakan Prabowo yang berpihak pada kepentingan Islam dan umatnya, maka rasanya tak relevan dan menjadi tidak valid bahkan halusinasi buku itu memakai judul Islam Ala Prabowo,” paparnya.
Ia menutup kritiknya dengan melontarkan gagasan tajam, “Mungkin akan lebih make sense dan afdol jika judulnya ‘Prabowo Seolah-Olah Islam?’.”
Kritik dari berbagai elemen masyarakat sipil terhadap manuver literasi politik ini menunjukkan bahwa publik semakin kritis terhadap upaya pengaburan sejarah.
Membaca rekam jejak tokoh politik kini membutuhkan ketajaman analisis, bukan sekadar menelan narasi dari sebuah buku.
Jangan sampai ketinggalan informasi politik dan dinamika pemerintahan terbaru, segera baca berita terkait dan ikuti saluran WhatsApp RakyatBekasi [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar Anda selalu update.
Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















