Poin Utama:
- Rangkaian libur panjang nasional selama bulan Mei 2026 gagal mendongkrak tingkat kunjungan pusat perbelanjaan di Kota Bekasi secara signifikan.
- Kenaikan okupansi mall hanya menyentuh angka 15 hingga 20 persen, dan itu pun hanya terpusat pada momen akhir pekan (Sabtu dan Minggu).
- Melemahnya daya beli masyarakat yang lebih memprioritaskan kebutuhan pokok membuat total kunjungan mall merosot hingga 25 persen.
Momen libur panjang nasional sepanjang bulan Mei nyatanya tidak serta-merta membawa angin segar bagi para pengusaha ritel di wilayah Kota Bekasi.
Harapan akan lonjakan pengunjung di berbagai pusat perbelanjaan kandas di tengah lesunya daya beli dan ketidakpastian ekonomi masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Asosiasi Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Bekasi mencatat bahwa rentetan hari libur tersebut nyaris tidak memberikan dampak perputaran ekonomi yang signifikan terhadap okupansi mall.
Mengapa Libur Panjang Mei Tidak Meningkatkan Kunjungan Mall di Bekasi?
Tingkat kunjungan yang cenderung stagnan ini dipicu oleh terpecahnya mobilitas masyarakat antara berlibur ke luar kota dan memilih berdiam diri untuk menghemat pengeluaran.
Momentum libur nasional yang jatuh pada 14, 15, 27, 28 Mei, hingga berlanjut ke 31 Mei dan 1 Juni lalu, rupanya lebih banyak dimanfaatkan warga untuk aktivitas di luar pusat perbelanjaan komersial.
”Kalau libur panjang itu tentunya orang ada yang ke luar kota, ada yang ke mall. Kalau ke mall memang ada peningkatan tapi tidak signifikan,” kata Djaelani kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Kamis (04/06/2026).
Satu-satunya pergerakan positif yang bisa dirasakan oleh pengelola pusat perbelanjaan hanya terjadi pada momen akhir pekan reguler, bukan karena efek beruntun dari libur panjang nasional.
”Kenaikan itu dua hari Sabtu dan Minggu 15 sampai 20 persen rata-rata,” tutur Djaelani.
Berapa Persen Penurunan Pengunjung Pusat Perbelanjaan di Bekasi?
Secara makro, tingkat kunjungan warga ke berbagai mall di wilayah Kota Bekasi dan sekitarnya justru sedang mengalami tren penurunan drastis hingga mencapai 25 persen.
Dinamika ekonomi yang menekan isi dompet warga membuat masyarakat bersikap lebih rasional dalam membelanjakan uangnya.
Berikut adalah faktor utama yang menyebabkan anjloknya tingkat kunjungan dan transaksi di mall:
- Fokus Kebutuhan Pokok: Masyarakat lebih memprioritaskan sisa anggaran bulanan untuk belanja pangan dan kebutuhan sehari-hari yang krusial.
- Fenomena Menahan Diri: Warga cenderung wait and see atau menahan laju konsumsi sekunder dan hiburan demi menjaga kestabilan finansial.
- Eksodus Liburan Luar Daerah: Kelompok masyarakat yang memiliki daya beli berlebih lebih memilih mengalokasikan dananya untuk berlibur ke luar daerah dibanding berkunjung ke mall lokal.
”Karena mereka lebih mengutamakan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Memang masih menahan belanja sekarang ini. Kalau secara umum di mall-mall itu turun sekitar 20 sampai 25 persen,” pungkasnya.
Fenomena sepinya pusat perbelanjaan ini menjadi sinyal kritis bagi Pemkot Bekasi maupun pelaku usaha ritel untuk kembali merumuskan strategi jitu dalam merangsang perputaran ekonomi daerah. Mengandalkan momen tanggal merah terbukti tak lagi ampuh ketika urat nadi daya beli warga sedang terganggu.
Bagaimana tanggapan Anda mengenai fenomena sepinya mall di Bekasi ini? Tinggalkan komentar Anda di bawah dan bagikan artikel ini di media sosial Anda.






