- Lokasi Protokol: Jalan Pangeran Antasari membentang dari arah Blok M ke selatan di kawasan Jakarta Selatan, dilengkapi fasilitas jalan layang modern.
- Profil Tokoh: Didedikasikan untuk Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati), Sultan Banjar ke-20 yang wajahnya abadi di uang kertas Rp2.000.
- Perang Banjar: Memimpin serangan telak menghancurkan tambang batu bara kolonial Belanda di Pengaron pada 1859.
- Gelar Pahlawan: Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1968 setelah wafat mempertahankan tanah air tanpa pernah mau berkompromi.
Rangkaian ulasan sejarah jalan protokol nusantara ke-36 dari 45 edisi Jumat (07/08/2026) menyoroti pesona Jalan Pangeran Antasari di Jakarta Selatan.
Di balik megahnya infrastruktur jalan layang yang setiap hari dilintasi ribuan kendaraan, terukir kisah kepahlawanan luar biasa dari sosok Sultan Banjar.
Beliau adalah figur pejuang anti kompromi yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membumihancurkan kekuatan kolonial Belanda di tanah Kalimantan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menelusuri Sejarah Jalan Pangeran Antasari di Jakarta Selatan
Siapa Sebenarnya Pangeran Antasari di Balik Uang Rp2.000?
Bagi warga yang kerap melintasi kawasan Blok M menuju selatan Jakarta, nama Jalan Pangeran Antasari tentu sudah menjadi bagian dari rute harian. Namun, makna di balik nama ini sering kali luput dari perhatian publik.
”Di kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di sepanjang Jalan Pangeran Antasari, terdapat sebuah jalan layang modern yang membentang dari arah Blok M ke selatan,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Jumat (07/08/2026).
Pangeran Antasari, yang wajah tegasnya abadi pada pecahan uang kertas rupiah Rp2.000, lahir dengan nama Gusti Inu Kartapati di Kayu Tangi, Martapura, sekitar tahun 1797 atau 1809.
Beliau merupakan putra dari pasangan Pangeran Mas’ud dan Gusti Hadijah. Darah kepemimpinan yang mengalir kuat membawanya dinobatkan sebagai pemimpin tertinggi Kesultanan Banjar ke-20 pada 14 Maret 1862, dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.
Bagaimana Strategi Pangeran Antasari dalam Perang Banjar Melawan Belanda?
Perlawanan sengit yang dipimpin oleh Pangeran Antasari meledak dalam peristiwa bersejarah Perang Banjar pada 18 April 1859. Strategi gerilya dan serangan langsungnya sangat merepotkan militer kolonial.
Bersama ribuan prajurit yang setia, beliau melancarkan serangan telak terhadap tambang batu bara milik Belanda di Pengaron.
Pasukan ini juga sukses membumihancurkan berbagai pos militer musuh yang didirikan secara sepihak di sepanjang aliran Sungai Barito.
Dalam kesehariannya, kepemimpinan sang pangeran dikenal sangat merakyat dan dekat dengan para ulama.
Ia memiliki integritas tinggi, terbukti dari sikap tegasnya yang selalu menolak segala bentuk bujukan maupun tawaran damai dari pihak Belanda.
Apa Warisan Kepahlawanan Pangeran Antasari Hingga Saat Ini?
Pangeran Antasari terus berjuang tanpa kenal menyerah dari dalam hutan rimba. Sang pemimpin besar akhirnya menutup usia pada 11 Oktober 1862 di tengah-tengah pasukannya di Bayan Begok, Kalimantan.
Beliau gugur bukan karena peluru musuh, melainkan setelah berjuang melawan komplikasi penyakit paru-paru dan cacar.
Atas jasa-jasa besar dan semangat patriotismenya, pemerintah Indonesia resmi menetapkan Pangeran Antasari sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden No. 06/TK/1968.
Kini, nama besar Pangeran Antasari tidak hanya hidup dalam lembaran buku sejarah pendidikan atau sekadar mata uang rupiah saja.
Warisannya terus membersamai denyut nadi kehidupan masyarakat perkotaan melalui kemegahan jalan protokol dan jalan layang yang membentang kokoh di jantung ibu kota.
Bagaimana semangat pantang menyerah Pangeran Antasari menginspirasi Anda hari ini? Sampaikan pendapat Anda di kolom komentar!
Ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi agar selalu update berita pemerintahan, politik, ekonomi, dan layanan publik.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







