Sejarah Jalan Raden Saleh: Sang Maestro Pelukis Raja Eropa

- Jurnalis

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAESTRO SENI DUNIA: Suasana lalu lintas dan aktivitas masyarakat di sekitar Jalan Raden Saleh, kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/07/2026). Penamaan jalan protokol ini merupakan wujud penghormatan abadi bagi Raden Saleh Sjarif Boestaman, pelopor seni lukis modern Indonesia beraliran Romantisisme yang sukses diakui oleh lingkaran elite kerajaan Eropa dan mewariskan karya perlawanan revolusioner

MAESTRO SENI DUNIA: Suasana lalu lintas dan aktivitas masyarakat di sekitar Jalan Raden Saleh, kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/07/2026). Penamaan jalan protokol ini merupakan wujud penghormatan abadi bagi Raden Saleh Sjarif Boestaman, pelopor seni lukis modern Indonesia beraliran Romantisisme yang sukses diakui oleh lingkaran elite kerajaan Eropa dan mewariskan karya perlawanan revolusioner "Penangkapan Pangeran Diponegoro". (Foto: Ilustrasi/RakyatBekasi.com)

Raden Saleh Sjarif Boestaman adalah pelopor seni rupa modern Indonesia beraliran Romantisisme yang diakui di kancah internasional. Beliau dikenal sebagai pelukis kerajaan di Eropa dan menghasilkan karya revolusioner seperti Penangkapan Pangeran Diponegoro. Karya tersebut menjadi simbol perlawanan diplomasi seni terhadap narasi kolonial Belanda pada masa penjajahan.

Jejak sejarah sang maestro diabadikan melalui penamaan Jalan Raden Saleh di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Bekas kediaman pribadinya telah dihibahkan dan kini berfungsi sebagai Rumah Sakit PGI Cikini. Warisan ini menjadi bukti nyata kontribusi besar Raden Saleh bagi dunia seni rupa serta semangat nasionalisme bangsa Indonesia.

Menjelang peringatan hari kemerdekaan, Seniman Kemerdekaan sekaligus peraih rekor MURI, Zenza TekSas, kembali merilis ulasan sejarahnya pada Rabu (22/07/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Naskah terbarunya mengupas tuntas memori kolektif bangsa di balik penamaan Jalan Raden Saleh di kawasan Cikini dan Menteng, Jakarta Pusat.

Pahlawan beraliran Romantisisme ini bukan sekadar sosok di papan jalan, melainkan pelopor seni rupa modern Nusantara yang mahakaryanya sukses mendobrak hegemoni kerajaan Eropa.

​Mengungkap Sejarah Jalan Raden Saleh di Pusat Jakarta

​Siapa Sebenarnya Raden Saleh di Balik Nama Jalan Cikini?

​Berjalan-jalan di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, tepatnya di sekitar area Cikini dan Taman Ismail Marzuki, kita tentu sudah tidak asing lagi dengan keberadaan Jalan Raden Saleh. Ruas jalan ini membentang sebagai salah satu pusat keramaian historis di ibu kota.

​”Pemilihan nama ini bukan sekadar penanda jalan biasa, melainkan sebuah bentuk penghormatan abadi kepada salah satu putra bangsa paling gemilang dalam sejarah seni rupa dunia: Raden Saleh Sjarif Boestaman,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Rabu (22/07/2026).

​Lahir dari keluarga bangsawan Jawa di Terboyo, Semarang, sekitar tahun 1811, Raden Saleh menempuh perjalanan hidup yang luar biasa.

Ia dikirim ke Belanda pada 1829 untuk mendalami seni lukis dan di bawah didikan maestro-maestro Eropa, ia tumbuh bermetamorfosis menjadi pelopor seni lukis modern beraliran Romantisisme.

​Bagaimana Perjalanan Raden Saleh Menjadi Pelukis Raja Eropa?

​Berkat bakat, dedikasi, dan kejeniusannya, pahlawan seni ini mendapatkan kehormatan untuk melayani serta diterima secara terbuka di berbagai lingkaran elite kerajaan di Benua Biru.

Kiprahnya membentang luas menembus batas negara mulai dari Belanda, Prancis, hingga Jerman, menjadikannya maestro yang sangat disegani di kancah internasional.

​Dedikasinya pada detail anatomi terbukti sangat totalitas. Ia dikenal lewat karya-karya perburuan liar yang dramatis dan bahkan rela menyelinap ke belakang panggung sirkus atau pertunjukan hewan di Den Haag demi mempelajari postur otot harimau serta singa secara langsung.

Totalitas inilah yang membuahkan karya multimiliar berkelas dunia seperti “Perburuan Banteng” (1855) dan “Perburuan Rusa” (1846) yang memecahkan rekor lelang fantastis.

​Apa Makna Perlawanan di Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro?

​Raden Saleh tidak sekadar menggoreskan keindahan visual, tetapi juga menyelipkan nilai perlawanan politik dan martabat bangsa.

Mahakaryanya yang bertajuk “Penangkapan Pangeran Diponegoro” (1858) merupakan karya revolusioner yang sengaja dibuat untuk membalikkan narasi penjajah.

​Berbeda dari versi lukisan seniman Belanda, Nicolaas Pieneman, yang menggambarkan sang pangeran seolah pasrah menyerah, Raden Saleh dengan berani melukiskan Pangeran Diponegoro berdiri berwibawa.

Sorot mata yang penuh ketegasan dalam lukisan tersebut menjadi simbol perlawanan abadi terhadap keangkuhan kolonialisme.

​Di Mana Sisa Warisan Sejarah Raden Saleh di Jakarta Saat Ini?

​Warisan sang maestro tidak hanya hidup abadi di atas lembaran kanvas bernilai tinggi yang tersebar di museum global, tetapi juga tertanam kuat di atas tanah Jakarta. Jejak sejarah tersebut masih bisa kita saksikan fungsinya di kawasan Cikini.

​Rumah peristirahatan pribadinya yang sangat megah kini telah bertransformasi menjadi sarana kesehatan publik.

Bangunan bernilai sejarah tinggi tersebut dulunya dihibahkan oleh sang istri dan kini terus beroperasi melayani masyarakat sebagai Rumah Sakit PGI Cikini.

​Melalui penamaan Jalan Raden Saleh, ingatan kolektif kita terus dijaga agar senantiasa mengenang sosok visioner yang berhasil membawa nama Nusantara harum di panggung dunia. Ia meramu kejeniusan seni tingkat tinggi dengan jiwa nasionalisme yang tak pernah padam.

​Bagaimana pandangan Anda terhadap karya revolusioner sang “Pelukis Raja” ini? Sampaikan apresiasi Anda di kolom komentar! Jangan lupa bagikan artikel inspiratif ini ke media sosial Anda dan ikuti terus ulasan sejarah dari Zenza TekSas secara eksklusif hanya di RakyatBekasi.com.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sejarah Jalan R.P. Soeroso: Sang Arsitek Kemerdekaan RI
Sejarah Jalan Suwiryo: Wali Kota Jakarta Pertama Pengawal Proklamasi
Rekor Literasi Zenza TekSas: Tembus 51 Artikel Sejarah dalam 17 Hari
Rakerda Pemuda Katolik Jabar 2026: Luncurkan Koperasi dan Gandeng Bawaslu
Kajian Islam: Mengungkap Makna Ghuroba di Tengah Fitnah Zaman
Pelatihan Satpam Gratis SPD Group: Solusi Cerdas Pencari Kerja
Drone Syahid Ubah Tatanan Perang, Negara Adidaya Ketar-ketir
Sejarah Jalan Prof M Yamin: Sang Arsitek Sumpah Pemuda
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:13 WIB

Sejarah Jalan Raden Saleh: Sang Maestro Pelukis Raja Eropa

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:54 WIB

Sejarah Jalan R.P. Soeroso: Sang Arsitek Kemerdekaan RI

Senin, 20 Juli 2026 - 13:14 WIB

Sejarah Jalan Suwiryo: Wali Kota Jakarta Pertama Pengawal Proklamasi

Sabtu, 18 Juli 2026 - 23:16 WIB

Rekor Literasi Zenza TekSas: Tembus 51 Artikel Sejarah dalam 17 Hari

Sabtu, 18 Juli 2026 - 22:54 WIB

Rakerda Pemuda Katolik Jabar 2026: Luncurkan Koperasi dan Gandeng Bawaslu

Berita Terbaru

Infografis resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bekasi yang menampilkan rincian total 1.920.128 pemilih terdaftar dalam hasil Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan II Tahun 2026, dirilis di Bekasi pada Rabu (22/07/2026). Terlihat rincian detail perbandingan pemilih laki-laki dan perempuan beserta jumlah kecamatan dan kelurahan (Sumber Foto: KPU Kota Bekasi).

Bekasi

Tembus 1,9 Juta, KPU Kota Bekasi Rilis Data Pemilih 2026

Rabu, 22 Jul 2026 - 18:41 WIB

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x