Sejarah Jalan Sultan Agung: Raja Mataram Penakluk VOC

- Jurnalis

Senin, 27 Juli 2026 - 12:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SANG PENAKLUK VOC: Suasana aktivitas warga dan padatnya laju kendaraan di sepanjang ruas Jalan Sultan Agung, kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/07/2026). Penamaan jalan protokol strategis di sisi selatan rel kereta api ini didedikasikan secara khusus untuk menghormati Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja terbesar Kesultanan Mataram yang secara heroik memimpin invasi militer melawan VOC di Batavia sekaligus mewariskan sistem penanggalan kalender Jawa bagi Nusantara. (Foto: Ilustrasi/RakyatBekasi.com)

SANG PENAKLUK VOC: Suasana aktivitas warga dan padatnya laju kendaraan di sepanjang ruas Jalan Sultan Agung, kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/07/2026). Penamaan jalan protokol strategis di sisi selatan rel kereta api ini didedikasikan secara khusus untuk menghormati Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja terbesar Kesultanan Mataram yang secara heroik memimpin invasi militer melawan VOC di Batavia sekaligus mewariskan sistem penanggalan kalender Jawa bagi Nusantara. (Foto: Ilustrasi/RakyatBekasi.com)

  • Lokasi Geografis: Jalan Sultan Agung melintang strategis di sisi selatan rel kereta api kawasan Menteng, berseberangan dengan Jalan Latuharhary.
  • Penguasa Mataram: Didedikasikan untuk menghormati Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga dan penguasa terbesar Kesultanan Mataram (1613–1645).
  • Invasi Militer VOC: Pemimpin berdaulat yang berani mengerahkan pasukan besar untuk menggempur benteng VOC di Batavia pada 1628 dan 1629.
  • Warisan Kebudayaan: Pencipta kalender Jawa pada 1633 yang meleburkan penanggalan Saka Hindu dengan Hijriah Islam, serta perintis Astana Imogiri.

Seniman Kemerdekaan sekaligus peraih rekor MURI, Zenza TekSas, kembali merilis ulasan sejarah terbarunya pada Senin (27/07/2026).

Menyoroti kawasan elite Menteng di Jakarta Pusat, naskah ini mengupas tuntas sosok pahlawan di balik ketenaran Jalan Sultan Agung.

Beliau bukan sekadar penanda jalan protokol, melainkan simbol perlawanan gigih raja terbesar Kesultanan Mataram terhadap hegemoni VOC, sekaligus sang peletak fondasi peradaban Islam-Jawa di Nusantara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Menelusuri Sejarah Jalan Sultan Agung di Kawasan Menteng

​Siapa Sebenarnya Sultan Agung Hanyokrokusumo?

​Terletak di jantung ibu kota, kawasan Menteng menyimpan sebuah simpul geografis yang sarat akan makna historis.

Di sana, melintang jalur rel kereta api yang secara administratif membelah kawasan menjadi dua sisi jalan utama, yakni Jalan Latuharhary di utara dan Jalan Sultan Agung di sisi selatan rel.

​”Nama besar yang disematkan pada jalan raya di selatan rel tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan bentuk penghormatan abadi kepada salah satu tokoh paling berpengaruh dalam lembaran sejarah Nusantara: Sultan Agung Hanyokrokusumo,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Senin (27/07/2026).

​Lahir di Kotagede pada tahun 1593 dengan nama asli Raden Mas Rangsang, beliau merupakan pemimpin visioner sekaligus raja ketiga Kesultanan Mataram. Ia memerintah selama lebih dari tiga dekade (1613–1645) dan sukses membawa kerajaannya menyentuh puncak kejayaan peradaban.

​Bagaimana Perlawanan Sultan Agung Terhadap Kolonial VOC?

​Selama 32 tahun masa kepemimpinannya, sang raja sukses memperluas kekuasaan Mataram hingga mencakup sebagian besar wilayah Pulau Jawa.

Sebagai penguasa yang berdaulat, beliau secara konsisten menentang keras kehadiran serta monopoli dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di bumi Nusantara.

​Puncak perlawanan heroik tersebut tercatat dalam sejarah ketika beliau mengerahkan pasukan besar Mataram untuk menyerang benteng pertahanan VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.

Meski harus menghadapi tantangan logistik yang luar biasa jauh, tekad dan strategi perlawanannya mencatatkan sejarah ketahanan militer yang monumental.

​Demi memperkuat kedudukan politik dan spiritual kerajaannya di mata dunia Islam internasional, beliau juga sukses melancarkan diplomasi strategis dan resmi menerima gelar Sultan langsung dari Mekkah pada tahun 1641.

​Apa Saja Warisan Peradaban dan Mahakarya Sultan Agung?

​Sultan Agung tidak hanya dikenang sebagai seorang panglima perang yang tangguh, tetapi juga sebagai seorang negarawan ulung yang meletakkan fondasi kebudayaan.

Terdapat beberapa peninggalan peradaban penting beliau yang diwariskan hingga saat ini:

  • Penciptaan Kalender Jawa: Pada tahun 1633, beliau secara jenius mengintegrasikan sistem penanggalan Saka Hindu yang berbasis matahari dengan penanggalan Hijriah Islam yang berbasis bulan, menciptakan sistem penanggalan Jawa baru.
  • Pengembangan Sastra Islam-Jawa: Beliau menaruh kepedulian tinggi terhadap dunia intelektual dan mendorong lahirnya karya sastra bermutu yang memadukan nilai keislaman dan kearifan lokal di lingkungan istana.
  • Kompleks Pemakaman Astana Imogiri: Beliau membangun kompleks pemakaman yang sangat megah di kawasan Imogiri, Bantul, sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi raja-raja keturunan Mataram.

​Melalui warisan kepemimpinan, mahakarya kebudayaan, dan semangat juangnya yang pantang menyerah, sangat wajar jika nama Sultan Agung diabadikan secara istimewa pada salah satu jalan protokol penting di Jakarta.

Hal ini mengingatkan setiap orang yang melintas di kawasan Menteng akan kebesaran sang pejuang Mataram.

​Bagaimana pendapat Anda tentang ketangguhan taktik militer Sultan Agung saat menggempur VOC di Batavia? Sampaikan pandangan Anda di kolom komentar! Sebarkan ulasan sejarah penuh inspirasi ini ke jaringan media sosial Anda dan ikuti terus rekam jejak pahlawan lainnya secara eksklusif hanya di RakyatBekasi.com.


Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Penggilingan Tumpah Ruah di Panggung Gembira Puncak Peringatan HUT RI ke-81
HUT ke-19 Alfamidi: Ekspansi 2.600 Gerai dan Aksi Nyata Sosial
Sejarah Jalan Sunan Gunung Jati: Jejak Sang Pandita Ratu
HUT RI 81: Zenza TekSas Cetak 2 Rekor Gila di Bekasi!
Sejarah Jalan Sunan Muria: Maestro Dakwah Kultural Inklusif
Sejarah Jalan Sunan Kudus: Jejak Panglima Ulama Pelopor Toleransi
Sejarah Jalan Sunan Kalijaga: Jejak Dakwah Kultural Walisongo di Jakarta Timur
Promo Bright Gas Bekasi Spesial HUT RI: Diskon Isi Ulang Hingga Rp8.100
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 22:19 WIB

Warga Penggilingan Tumpah Ruah di Panggung Gembira Puncak Peringatan HUT RI ke-81

Jumat, 21 Agustus 2026 - 09:33 WIB

HUT ke-19 Alfamidi: Ekspansi 2.600 Gerai dan Aksi Nyata Sosial

Minggu, 16 Agustus 2026 - 00:50 WIB

Sejarah Jalan Sunan Gunung Jati: Jejak Sang Pandita Ratu

Minggu, 16 Agustus 2026 - 00:25 WIB

HUT RI 81: Zenza TekSas Cetak 2 Rekor Gila di Bekasi!

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Sejarah Jalan Sunan Muria: Maestro Dakwah Kultural Inklusif

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x