- Lokasi Protokol: Jalan Trunojoyo membentang strategis di jantung kawasan elit Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
- Profil Tokoh: Didedikasikan untuk Raden Trunojoyo (1649-1680), bangsawan karismatik kelahiran Bangkalan, Madura.
- Puncak Perjuangan: Memimpin pemberontakan masif abad ke-17 melawan tirani Amangkurat I dan persekutuan Mataram dengan VOC.
- Prestasi Militer: Berhasil merebut ibu kota Mataram di Plered (1677) bersama koalisi Madura, Makassar (Karaeng Galesong), dan Surabaya.
Melanjutkan seri tulisan kesejarahan ke-31 dari 45 sejarah jalan protokol, RakyatBekasi.Com mengajak Anda melacak rekam jejak perjuangan bangsa, Minggu (02/08/2026).
Kali ini, ulasan Zenza TekSas (Ir. H. Zen Zainul HP., CWC., CHt), Seniman Kemerdekaan sekaligus Peraih Rekor MURI, menyoroti salah satu ruas jalan paling familiar di jantung Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Beliau bukan sekadar penanda geografis, melainkan bentuk penghormatan abadi kepada Raden Trunojoyo, kesatria besar Madura yang nyaris meruntuhkan singgasana Mataram demi harga diri bumi pertiwi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menelusuri Sejarah Jalan Trunojoyo di Jantung Jakarta Selatan
Di Mana Letak dan Makna Sejarah Jalan Trunojoyo di Ibu Kota?
Di jantung kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, terbentang sebuah nama jalan yang barangkali setiap hari dilalui ribuan kendaraan, yakni Jalan Trunojoyo. Lokasinya yang strategis menjadikannya urat nadi aktivitas perkotaan.
”Di balik papan penunjuk jalan yang kerap luput dari perhatian itu, tersimpan kisah epik seorang kesatria besar yang namanya diabadikan untuk mengenang keberanian luar biasa dalam sejarah Nusantara,” kata Zenza TekSas kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Minggu (02/08/2026).
Raden Trunojoyo adalah bangsawan kelahiran Madura yang hidup pada rentang tahun 1649 hingga 1680.
Namanya melambung sebagai pemimpin salah satu perlawanan paling masif dan menggemparkan pada abad ke-17 melawan hegemoni kolonial barat dan kezaliman penguasa lokal.
Apa Latar Belakang dan Alasan Pemberontakan Raden Trunojoyo?
Trunojoyo dibentuk dari darah bangsawan yang kental, dibesarkan di lingkungan Arosbaya, Bangkalan, Madura Barat.
Ia merupakan cucu dari penguasa Madura, Raden Prasena (Cakraningrat I). Benih perlawanan itu muncul bukan tanpa sebab.
Tiraninya Raja Amangkurat I yang kejam, kerap menindas rakyat kecil, serta menyingkirkan para ulama dan bangsawan yang berseberangan pandangan, menyulut kemarahan Trunojoyo.
Kekecewaan semakin memuncak ketika Kesultanan Mataram menjalin kerja sama erat dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sebuah langkah politik yang dinilai mengkhianati kedaulatan rakyat dan merendahkan martabat tanah Madura.
Bagaimana Kiprah dan Puncak Kejayaan Pasukan Trunojoyo Melawan Mataram & VOC?
Puncak kejayaan perjuangan Trunojoyo tercatat dalam tinta emas sejarah ketika ia berhasil menghimpun koalisi besar.
Ia menyatukan kekuatan pasukan Madura, para pejuang Makassar di bawah pimpinan pelarian Karaeng Galesong, serta laskar perkasa dari Surabaya.
Gelombang kekuatan ini terbukti mematikan; pada tahun 1676, mereka sukses menghancurkan tentara utama Mataram dalam pertempuran Gegodog, dekat Tuban.
Setahun berselang, tepatnya pada 1677, sejarah mencatat pencapaian tertingginya: pasukan Trunojoyo berhasil merebut ibu kota Mataram di Plered.
Mengapa Trunojoyo Bisa Gugur di Tangan Gabungan VOC & Amangkurat II?
Roda sejarah berputar ke fase yang lebih berat tatkala VOC turun tangan secara langsung. Amangkurat II, selaku putra mahkota Mataram, meminta bantuan militer penuh kepada kompeni demi merebut kembali takhta leluhurnya.
Pasukan gabungan VOC dan Mataram kemudian mengepung ketat pertahanan terakhir Trunojoyo di Kediri hingga terpojok ke kawasan pegunungan. Setelah perlawanan sengit, Trunojoyo akhirnya tertangkap pada akhir Desember 1679 dan gugur di tangan Amangkurat II pada 2 Januari 1680.
Warisan semangat Raden Trunojoyo kini terus hidup, abadi menghiasi bumi pertiwi. Mulai dari sematan nama di Bandar Udara Trunojoyo Sumenep hingga berdiri megahnya Universitas Trunojoyo Madura di Pulau Garam tercinta.
Maka, setiap kali nama Jalan Trunojoyo kita lalui di hiruk-pikuk Jakarta, ia menjadi pengingat bisu bahwa harga diri bangsa dan semangat pantang menyerah melawan kolonialisme Barat berakar kuat dalam sejarah kita.
Bagaimana pandangan Anda tentang kiprah pahlawan besar Madura ini? Sampaikan apresiasi Anda di kolom komentar! Bagikan ulasan sejarah penuh inspirasi ini ke media sosial Anda dan ikuti terus penelusuran sejarah bangsa karya Zenza TekSas secara eksklusif hanya di RakyatBekasi.Com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







