- Lapas Kelas IIA Bekasi melakukan pembenahan tata kelola fasilitas dan layanan.
- Penerapan sistem digitalisasi bertujuan untuk menekan potensi pelanggaran dan mewujudkan transparansi.
- Layanan inovatif BESTI (Bulan Lapor Emergency Service) dihadirkan untuk membantu pengunjung baru.
- Kalapas Dedy Cahyadi berharap dukungan Pemkot Bekasi dan lintas sektor guna menjaga konsistensi perbaikan.
LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LAPAS) KELAS IIA Bekasi gencar berbenah dengan menata ulang sarana prasarana serta mendigitalisasi layanan guna mewujudkan sistem yang tertib, transparan, dan profesional.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas evaluasi internal demi meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus menutup celah pelanggaran integritas.
Mengapa Lapas Kelas IIA Bekasi Melakukan Pembenahan Besar-besaran?
Kepala Lapas Kelas IIA Bekasi, Dedy Cahyadi, menjelaskan bahwa langkah pembenahan ini bermula dari hasil pemetaan dan evaluasi internal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perbaikan tidak hanya mencakup area fisik bangunan, tetapi juga merambah ke fasilitas pelayanan publik dan sarana pembinaan warga binaan.
“Ketika saya masuk, kami dari tim kepatuhan internal Ditjen PAS, intel Ditjen PAS, dan wilayah sudah melakukan pemetaan, evaluasi, dan mitigasi. Akhirnya terlihat bahwa harus ada perbaikan tata kelola,” kata Dedy Cahyadi kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Selasa (13/10/2026).
Untuk mengoptimalkan pembenahan, Lapas Kelas IIA Bekasi turut merangkul berbagai pihak, termasuk membuka peluang kerja sama melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Salah satu fasilitas baru yang kini tersedia adalah ruang wartel khusus di setiap blok, yang diharapkan mampu menunjang pelayanan komunikasi secara terorganisasi dan profesional.
Apa Dampak Digitalisasi Layanan bagi Pengunjung dan Petugas?
Bagi Dedy, perbaikan fasilitas fisik harus diiringi dengan sistem kerja yang mumpuni. Digitalisasi menjadi kunci utama untuk memperkuat mekanisme pelayanan dan mengurangi ruang bagi kebijakan sepihak (diskresi) yang tidak terukur.
“Yang bisa menjawab ini adalah sistem yang rigid, yaitu sistem digital. Sebelumnya sudah ada aplikasi, tetapi seiring berjalannya waktu ternyata kita membutuhkan sistem yang lebih komprehensif dan lebih detail,” ungkapnya.
Dengan sistem digital, alur pelayanan diharapkan menjadi lebih terukur. Misalnya, pendaftaran kunjungan kini dapat disesuaikan dengan kapasitas fasilitas yang tersedia. Hal ini memberikan kejelasan bagi petugas saat menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Selain digitalisasi, inovasi lainnya adalah layanan BESTI (Bulan Lapor Emergency Service). Layanan ini dirancang khusus untuk memandu pengunjung baru yang belum familier dengan prosedur kunjungan.
Dedy menjelaskan, pengunjung pada jam kerja akan mendapat pendampingan langsung. Jika datang sore hari, petugas siap membantu via panggilan video.
Sementara untuk kunjungan malam hari, barang titipan akan diterima dan diserahkan keesokan harinya sesuai aturan.
“Kecuali ada kondisi darurat, kalau mereka baru pertama kali datang dan tidak tahu aturan apa pun, itu akan kita layani. Kita pasti bantu sampai dalam,” tuturnya.
Bagaimana Tantangan Menjaga Konsistensi Pelayanan di Lapas Bekasi?
Sistem digital yang dibangun ini diproyeksikan dapat diadopsi oleh Lapas dan Rutan di wilayah Jawa Barat.
Meski begitu, penerapannya masih menunggu evaluasi proyek percontohan dan dukungan legalitas dari Kanwil Ditjen PAS.
Tantangan terberat ke depan, menurut Dedy, adalah menjaga konsistensi seluruh petugas dalam menjalankan standar operasional yang baru.
Karakteristik Lapas Kelas IIA Bekasi yang berada di tengah permukiman padat menuntut kedisiplinan ekstra. Sekecil apa pun permasalahan yang luput tertangani berpotensi memicu sorotan publik.
“Kinerja itu akan terlihat kalau teman-teman betul-betul berintegritas dan profesional, dan ini tidak mudah. Menjaga Lapas/Rutan itu real-time, detik demi detik. Effort-nya harus setiap saat dan performanya harus optimal terus,” tegas Dedy.
Mengapa Dukungan Lintas Sektor Sangat Krusial?
Dedy menegaskan bahwa pembenahan Lapas tidak bisa dilakukan sendirian. Sinergi lintas sektor sangat dibutuhkan.
Pihaknya intens berkomunikasi dengan Pemkot Bekasi dan DPRD, salah satunya terkait permohonan bantuan pembuatan sumur.
Koordinasi rutin juga dijalin bersama BNN, Polri, dan TNI guna memastikan keamanan serta pelaksanaan penggeledahan berkala.
Lapas, menurut Dedy, adalah bagian integral dari pelayanan publik di Kota Bekasi. Peran Lapas tidak sebatas mengamankan warga binaan, tetapi juga memberikan pembinaan keagamaan, pendidikan, dan layanan kesehatan, yang akan menjadi bekal mereka saat kembali ke masyarakat.
“Kami mohon dukungan dan doanya agar kami di Lapas Bekasi ini bisa konsisten dan istiqomah. Mudah-mudahan masyarakat paham bahwa pemasyarakatan berbenah itu nyata, bukan sekadar slogan,” pungkasnya.
Upaya transformasi Lapas Kelas IIA Bekasi ini menjadi bukti komitmen nyata dalam memberikan pelayanan publik yang berintegritas dan profesional.
Bagaimana pendapat Anda tentang inovasi layanan di Lapas Kelas IIA Bekasi? Bagikan artikel ini dan tuliskan komentar Anda! Jangan lupa, ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [Follow WhatsApp Channel RakyatBekasi di sini] agar selalu update berita terkini.
Eksplorasi konten lain dari Beyond Your Local News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















