- Pengamat sosial dan politik, Yusuf Blegur, mengkritik narasi pidato kenegaraan Presiden Prabowo di Gedung DPR/MPR RI pada Jumat (14/08/2026).
- Terjadi ketidaksesuaian data publik; profesi Ibu Susana yang dibacakan sebagai pengupas bawang berupah Rp700 ribu, faktanya adalah penjahit kain majun dengan upah Rp700.
- Data valid mengenai profesi asli penerima program PKH tersebut dibuktikan netizen melalui situs resmi pemerintah RI.
- Kelakar presiden kepada anak perempuan berusia 10 tahun di dalam forum kenegaraan resmi dinilai sangat tidak pantas dan memicu reaksi negatif.
Pengamat sosial dan politik, Yusuf Blegur, melontarkan kritik tajam terhadap pidato kenegaraan Presiden Prabowo di Gedung DPR/MPR RI pada Jumat (14/08/2026) lalu.
Ia menyoroti sejumlah narasi yang dianggap tidak sesuai fakta, salah satunya terkait sosok Ibu Susana yang salah disebut sebagai pengupas bawang.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari publik dan netizen di media sosial akibat ketidakakuratan data yang disampaikan oleh kepala negara di forum resmi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kontroversi Pidato Prabowo di Sidang Tahunan MPR RI
Narasi yang disampaikan oleh seorang kepala negara idealnya berlandaskan data yang presisi. Namun, rentetan ketidaksesuaian fakta dalam penyampaian pidato tersebut justru memantik sorotan negatif dari berbagai kalangan.
Mengapa Netizen Menyoroti Pidato Prabowo Soal Ibu Susana?
Pernyataan presiden mengenai sosok Ibu Susana, penerima program Program Keluarga Harapan (PKH) dan sembako, terbukti jauh panggang dari api. Kesalahan penyebutan profesi ini langsung dikuliti oleh warganet yang mencari fakta sebenarnya.
”Pidato Bung Karno membakar semangat rakyat, pidato Bung Bowo membakar emosi rakyat. Begitu seloroh netizen,” kata Yusuf Blegur kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangan tertulisnya, Minggu (16/08/2026).
Yusuf menambahkan bahwa publik terus dipaksa bereaksi keras terhadap kebanyakan pidato presiden.
Menurutnya, mulai dari tudingan halusinasi, kebohongan, hingga dianggap pikun, mewarnai linimasa media sosial akibat lemahnya pengendalian narasi di atas podium.
Berapa Upah Sebenarnya yang Diterima Ibu Susana?
Alih-alih seorang pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram, Ibu Susana sejatinya hanyalah seorang penjahit kain majun (kain perca untuk lap pembersih).
Ketimpangan angka upah yang disebutkan presiden berbanding terbalik dengan realitas di lapangan.
Penelusuran detail netizen merujuk pada situs resmi komdigi.co.id, yang membuktikan bahwa Ibu Susana hanya menerima upah Rp700 perak untuk setiap kilogram kain majun yang selesai dijahit.
Tukang kupas bawang sendiri umumnya hanya menerima upah sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram. Ketidaksesuaian ucapan dan fakta ini menambah daftar panjang kontroversi komunikasi sang presiden.
Apa Dampak Rentetan Blunder Komunikasi Kepala Negara?
Seringnya terjadi salah ucap dan lontaran kontroversi tanpa basis fakta lambat laun melahirkan skeptisisme publik.
Gestur, mimik, dan aksi emosional presiden saat memberikan keterangan juga dinilai mengurangi kewibawaan institusi kepresidenan.
Selain masalah data Ibu Susana, ada satu insiden lain yang dianggap sangat fatal dalam sidang tersebut.
Presiden melontarkan pernyataan yang menyuruh Citra, seorang anak perempuan berusia 10 tahun, untuk pacaran 10 tahun lagi. Kelakar ini dinilai publik sangat miris karena diucapkan di dalam forum resmi kenegaraan.
”Dari penjahit kain majun ke pengupas bawang. Entah kepeleset lidah, entah saking piawainya pidato tanpa teks hingga sekata-katanya. Begitulah hobi presiden yang tak bisa jauh dari mik atau podium,” tutup Yusuf Blegur menanggapi gaya komunikasi kepala negara.
Rentetan blunder komunikasi di forum kenegaraan ini diharapkan menjadi evaluasi serius bagi tim istana ke depannya agar tidak terus membebani ruang publik.
Jangan lewatkan pembaruan informasi politik dan pemerintahan lainnya, bagikan artikel ini atau berikan komentar Anda. Ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi [di sini] agar selalu update.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Penulis : Yusuf Blegur
Editor : Bung Ewox

















