- Penulis buku Syahrul E Dasopang menyoroti maraknya praktik korupsi di berbagai sektor publik di Indonesia.
- Korupsi dinilai telah menjadi fenomena konstan yang melampaui batas ruang dan waktu, serta merusak tatanan moral kemanusiaan.
- Praktik pungli dan manipulasi masih marak ditemukan, mulai dari rantai pasok pasar, layanan SIM, hingga institusi pendidikan.
- Pembiaran terhadap kebiasaan korup dikhawatirkan dapat membawa kehancuran bangsa layaknya kisah kaum Nabi Syu’aib.
Syahrul E Dasopang, seorang penulis buku, memberikan kritik tajam terhadap fenomena korupsi di Indonesia yang dinilai semakin merajalela.
Ironisnya, tindak kejahatan struktural saat ini seolah menjadi budaya yang terus berulang dan menjalar ke berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.
Kritik tersebut menyoroti bagaimana praktik curang ini seakan tidak lekang oleh kemajuan zaman, merusak tatanan moral, dan terus memiskinkan masyarakat luas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Realita Pahit Korupsi di Indonesia yang Kian Mengkhawatirkan
”Kemanapun kita mengalihkan wajah, di situ ada korupsi. Di situ ada praktik kerusakan,” kata Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.com, Rabu (12/08/2026).
Syahrul mengibaratkan korupsi di tanah air sebagai sebuah peristiwa yang mengatasi hukum ruang dan waktu.
Berbeda dengan peristiwa sejarah kemerdekaan yang spesifik pada tahun 1945, praktik rasuah justru terus mengada dan semakin menyala dari masa ke masa.
Ia menegaskan, tindakan ini merupakan akar kerusakan moral kemanusiaan, bukan sekadar perkara suap-menyuap (risywah).
Mengapa Praktik Korupsi di Indonesia Menyentuh Berbagai Sektor?
Praktik korupsi di Indonesia menyentuh berbagai sektor karena adanya celah birokrasi yang kerap sengaja dipersulit demi meraup keuntungan sepihak oleh oknum.
Masyarakat terus dihadapkan pada realita pahit di mana hampir semua urusan hajat hidup orang banyak sangat rawan disusupi oleh pungutan liar.
Berikut adalah potret miris dugaan praktik koruptif yang lekat di tengah masyarakat berdasar pantauan Syahrul:
- Sektor Pangan: Harga kebutuhan pokok seperti cabai kerap diatur naik-turun secara manipulatif oleh segelintir penguasa bisnis.
- Layanan Publik: Pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) disinyalir masih diwarnai alur yang rumit agar masyarakat terpaksa menggunakan jasa calo.
- Sektor Pendidikan: Adanya indikasi kuota penerimaan siswa baru di sekolah melalui jalur ilegal dengan syarat biaya pungutan yang memberatkan.
- Organisasi Keagamaan: Potensi eksploitasi jumlah anggota oleh oknum elite yang dipertukarkan dengan jabatan atau dimanfaatkan untuk mengeruk uang lewat tagihan tersembunyi.
Apa Dampak Fatal Pembiaran Budaya Korupsi bagi Bangsa?
Pembiaran terhadap budaya korupsi akan mengakibatkan pembusukan moral yang akut dan berpotensi memicu kehancuran struktur sosial suatu bangsa.
Jika tindak pidana ini terus dinormalisasi, keadilan dan kelancaran pelayanan esensial tidak akan pernah terwujud tanpa uang pelicin.
Dalam tulisannya, Syahrul meminjam makna filosofis dari Alquran, yakni Surat Al-Baqarah Ayat 115 dan Fushshilat Ayat 54, untuk memberikan analogi kritis.
Ia memandang perilaku korup di tanah air seolah-olah telah diposisikan “maha meliputi” segala urusan hajat hidup manusia.
Syahrul memperingatkan, apabila bangsa ini terus membudayakan sikap curang, korup, dan gemar merampas hak orang lain, ancaman kutukan layaknya kaum Nabi Syu’aib bisa menjadi nyata.
Praktik korupsi di berbagai lini wajib dilawan secara kolektif demi masa depan tata kelola negara yang lebih bersih, beradab, dan transparan.
Jangan sampai urusan pelayanan mendasar publik terus tersandera oleh kepentingan perut segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.
Bagaimana tanggapan Anda mengenai fenomena korupsi yang marak terjadi saat ini? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar dan baca terus liputan mendalam lainnya terkait kebijakan publik hanya di RakyatBekasi.Com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















