- Penggunaan kata “hijrah” oleh Dokter Tifa terkait isu ijazah memantik kritik keras karena dinilai mereduksi makna sakral dalam peradaban Islam.
- Secara historis, hijrah merupakan manuver strategis dan pergerakan taktis yang memiliki enam aspek penting, bukan sekadar pelarian masa lalu.
- Masyarakat di Bekasi diimbau untuk lebih kritis dan berhati-hati dalam menggunakan terminologi agama agar tidak menjadi alat pencitraan semata.
Fenomena komersialisasi dan penyalahgunaan istilah sakral agama kembali menjadi sorotan publik usai Dokter Tifa mengklaim berhijrah dari isu ijazah Presiden Jokowi.
Penggunaan terminologi tersebut dinilai telah mereduksi makna historis perjuangan umat Islam menjadi sekadar alat cuci tangan atas peristiwa yang baru berlalu.
Kritik tajam ini diharapkan menjadi edukasi literasi bagi masyarakat luas di kawasan Bekasi agar tidak mudah mengeksploitasi jargon agama demi kepentingan sensasi semata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Membedah Makna Hijrah Sejati di Balik Sensasi Dokter Tifa
Mengapa Istilah Hijrah Sering Disalahgunakan Tokoh Publik?
Tokoh publik sering kali mencari jalan pintas untuk memperbaiki citra di mata masyarakat dengan memanfaatkan terminologi agama.
Dokter Tifa, misalnya, secara terbuka menyatakan perubahan sikapnya melalui media sosial X yang memantik kehebohan, seolah melarikan diri dari isu yang mengusik legitimasi presiden.
”Seolah kata ini seperti rinso sachetan yang murah untuk mencuci peristiwa yang baru berlalu atau masa lalu banyak orang,” kata Penulis dan Da’i Tulisan, Syahrul E Dasopang kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com dalam keterangannya, Sabtu (08/08/2026).
Fenomena serupa juga pernah terjadi saat seorang figur publik berganti nama menjadi Nuray Istiqbal guna melariskan merek dagang berkedok agama.
Praktik instan semacam ini secara perlahan mengorbankan daya sakral dan nilai historis dari kata hijrah itu sendiri.
Apa Saja Enam Aspek Historis dari Peristiwa Hijrah?
Dalam konteks sejarah, musyawarah para sahabat Nabi yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab menetapkan peristiwa hijrah sebagai tonggak titik nol peradaban umat Islam.
Hijrah bukanlah aksi melarikan diri, melainkan manuver strategis terencana yang meliputi enam aspek krusial.
Berikut adalah esensi hijrah yang wajib dipahami masyarakat luas:
- Bergerak: Mobilisasi massal secara teratur dan klandestin (diam-diam) sejauh kurang lebih 400 km dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah) dengan tujuan politis yang jelas.
- Berpindah Lokasi: Beralih dari area kendali musuh menuju lokasi baru yang memungkinkan lahirnya perjanjian pertahanan bersama seperti Piagam Madinah.
- Berpindah Suasana: Keluar dari situasi yang menjepit dan menindas menuju keleluasaan secara moral, spiritual, sosial, ekonomi, dan politik.
- Berpindah Strategi: Mengubah taktik defensif menjadi ofensif, dibuktikan dengan keberhasilan ekspedisi intelijen dan kemenangan gemilang di Perang Badar.
- Pantang Menyerah: Hijrah adalah pergerakan nyata untuk membangun kekuatan baru, bukan gaya aksi berpaling atau menyerah dari tujuan awal.
- Penaklukan Sempurna: Pergerakan ini berujung pada Fathu Makkah (Penaklukan Mekkah) secara damai pada tahun ke-8 setelah Hijrah oleh 10.000 orang.
Bagaimana Masyarakat Bekasi Memaknai Hijrah di Era Modern?
Pemahaman utuh mengenai makna hijrah harus menjadi landasan moral dan pedoman hidup bagi tatanan masyarakat modern.
Secara luas, hijrah adalah pergerakan konkret untuk membangun pijakan basis yang lebih kondusif, lalu kemudian melakukan perluasan otoritas dan hal-hal positif.
Masyarakat tidak boleh sekadar menggunakan jargon ini sebagai label semu untuk menutupi kesalahan masa lalu tanpa adanya pergerakan strategis yang nyata.
Semoga masyarakat luas kembali berhati-hati dalam menggunakan kata hijrah sebagai label agar benar-benar tepat, bermutu, dan sesuai muruahnya.
Apakah Anda setuju bahwa istilah keagamaan kerap dieksploitasi dalam dinamika sosial dan politik saat ini? Sampaikan opini Anda di kolom komentar, dan ikuti Saluran WhatsApp RakyatBekasi agar selalu update dengan literasi dan isu terhangat!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







